
Alena sudah memantapkan hati. Ia akan meninggalkan apartement malam ini juga. Ia tidak peduli apapun yang akan terjadi pada Davian, ia hanya ingin menyelamatkan hatinya yang terlanjur terluka. Ia sudah berada di mobil bersiap untuk pergi ketika ponsel dalam saku sweaternya bergetar. Ia merogoh ponselnya dan mengerjap ketika melihat nomor Davian muncul di layar. Awalnya ia ingin mengabaikannya namun hatinya mendadak gusar. Jantungnya berdebar kencang. Firasat buruk apa ini?
“Hallo?” akhirnya, Alena mengalah setelah bertengkar dengan pikirannya sendiri. Ia memutuskan menjawab.
“Alena…”
“Davian, kau kenapa?” Alena menyela panik karena suara Davian yang ia dengar dari telepon begitu pelan dan lemah, seperti menahan sakit. Sejenak ia lupa bahwa mereka baru saja bertengkar hebat.
“Bisakah kau datang? Aku butuh bantuanmu.”
“Tentu saja. Katakan kau ada di mana?”
“Aku tidak tahu,” suara Davin semakin lemah. Alena bergerak-gerak panik di tempatnya duduk.
“Baiklah. Aku akan melakukan sesuatu. Kau hanya perlu memastikan ponsel tetap menyala.” Setelah memutuskan panggilan, Alena mengaktifkan GPS yang ada di ponselnya untuk melacak keberadaan Davian melalui sinyal ponsel. Setelah menemukan keberadaan Davian, Alena segera melajukan mobilnya ke tempat Davian berada.
Bukankah kami sedang bertengkar?
Alena baru menyadarinya ketika ia sedang dalam perjalanan. Bagaimana bisa ia begitu mudah luluh setelah pria itu mengatakan kata cerai padanya? Mengapa ia bisa dengan begitu mudahnya menuruti apa kata Davian?
“Tidak, kau tidak boleh egois, Alena. Siapa tahu Davian sedang dalam masalah. Aku harus datang melihatnya lebih dulu,” Alena sudah memantapkan hati. Sekarang keinginan hatinya menemui Davian jauh lebih kuat.
•••
Alena terkejut saat menghentikan mobilnya di tempat Davian berada, ia melihat sebuah mobil yang menabrak pohon. Tangannya bergetar. Ia tidak mungkin salah lihat. Ia mengenal dengan jelas bentuk, warna cat, hingga plat mobil suaminya. tanpa pikir panjang Alena segera keluar dari mobil lalu berlari menghampiri mobil yang bagian depannya sudah ringsek.
Karena cemas, airmata tumpah begitu saja di sudut mata Alena. Ia tidak bisa membayangkan seandainya terjadi sesuatu pada suaminya. Tidak boleh, Davian harus baik-baik saja.
“Davian, jawab aku!!” Alena sekali lagi mengetuk kaca jendela sedikit lebih keras. Ia tidak bisa melihat ke dalam karena kaca mobil itu gelap. Di tambah keadaan sekitar yang minim pencahayaan.
“Berisik. Aku di sini!!”
Tubuh Alena menegak mendengar suara dingin yang ia kenal. Ia mengerjap senang. itu suara Davian! Ia berjalan memutari mobil dan alangkah leganya saat mendapati sosok Davian tengah duduk di atas rerumputan di sisi mobil. Ia mendesah lega lalu berjalan cepat menghampiri Davian.
“Kau baik-baik saja??” cecarnya panik. Davian menyandarkan punggungnya pada sisi mobil lalu meringis.
“Iya. Hanya tanganku terkilir,” ucapnya sambil mengangkat tangan kirinya dengan susah payah.
“Apa???” Alena segera meraih tangan Davian.
“Ini harus segera diobati. Tunggu di sini sebentar,” Alena bergegas mengambil kotak First Aid yang ia simpan di bagasi mobil. Davian mengangguk lalu memperhatikan Alena yang pontang-panting menolongnya.
Selama beberapa saat lalu, Davian masih berpikir Alena akan menolak menjawab panggilannya. Jika itu terjadi, mungkin ia akan bermalam di sini hingga ada yang menolongnya besok pagi. Ia takut sekali. Sekarang ia lega.
“Ulurkan tanganmu,” suara Alena mengagetkannya. Ia mengulurkan tangannya sambil sesekali meringis sakit saat Alena mulai mengolesi tangannya dengan salep dan mengurutnya pelan.
Davian tertegun menatapi wajah Alena yang mengobatinya dengan tekun. Ia menemukan raut cemas dalam sorot matanya. Entah kenapa Davian terharu mengetahui hal itu. Ia sempat bertaruh pada dirinya sendiri. Siapa di antara Jeane dan Alena yang akan menanggapi panggilan teleponnya. Untuk sesaat ia masih berharap Jeane yang datang untuk menolongnya. Tapi rupanya pengharapannya salah alamat. Ia tahu sekarang, yang benar-benar memperhatikannya dengan tulus hanya Alena.
Alena tidak pernah menuntut apapun padanya. Gadis itu sangat bersabar meskipun ia terkadang sulit sekali dikendalikan.