
“Ah, semenjak menjadi seorang Ayah kau semakin manja.”
“Habis, semenjak jadi Ibu cintamu untukku sudah tidak sama lagi.”
“Sungguh?” Alena ingin sekali tertawa kencang mendengar nada merajuk dari suara Davian. Yang benar saja, bagaimana bisa Alena mengurangi cintanya pada orang yang sudah memberinya kebahagiaan sempurna seperti ini?
“Kukira kau tidak keberatan membagi cintaku dengan Ezra.”
Davian pura-pura marah, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. “Huh, kau membawa Ezra lagi, aku mana bisa membantah.” Ia lalu tersenyum lebar.
“Cium aku setelah itu aku tidak akan menuntutmu apa-apa lagi.”
“Astaga, dasar Ayah manja!” Alena merangkul tengkuk Davian, menarik kepalanya turun agar bisa menautkan bibir mereka.
Begitulah setiap harinya. Cinta mereka tidak pernah berubah dan kehadiran Ezra adalah penyempurna hidup pernikahan keduanya. Ia tidak tahu apa yang mungkin terjadi saat ini jika dahulu ia bersikukuh mencintai Jeane. Mungkinkah ia sebahagia sekarang? Entahlah.
Davian menciumnya dalam dan lama-kelamaan semakin mendominasi. Alena mulai kewalahan dan ia berniat menyudahi pagutan itu bersamaan dengan suara dering ponsel yang berbunyi nyaring. Davian mengumpat pelan karena ia terpaksa melepaskan Alena.
“Siapa yang mengganggu di hari libur seperti ini?!” sungutnya kesal.
“Diamlah, mungkin ini Ibu yang ingin menanyakan kabar Ezra kita.” Alena menjawabnya dengan sapaan ceria. Davian mendengus.
“Oh, Malvin..” serunya membuat Davian menoleh.
“Apa? Ibu?” kening Alena mengerut lalu sedetik kemudian ia tertawa kencang. Davian hanya menatapnya penasaran.
“Astaga Malvin, Ibu benar. Kau memang harus segera menikah. Karena itu jangan mengeluh dan temui gadis itu. Siapa tahu dia memang jodohmu.”
“Kenapa?” serobot Davian saat Alena menyudahi obrolannya dengan Malvin. Dia menggeleng dan tawa itu masih tersisa di bibirnya.
“Malvin mengeluh dengan rencana Ibu. Dia bilang sudah malas menemui gadis-gadis yang coba Ibu jodohkan padanya.”
“Ibumu mengatur kencan buta untuknya lagi?” Davian ikut menahan tawanya.
Akhir-akhir ini menjodohkan Malvin dengan gadis-gadis pilihannya menjadi hobi baru Ibu Alena. Davian kagum pada kesabaran Malvin menghadapi wanita-wanita itu. Ia mungkin sudah memilih kabur jika mendapatkan situasi seperti Malvin.
“Jadi, sekarang siapa calonnya?”
“Entahlah,” Alena mengangkat bahu. Selama ini Malvin tidak pernah bercerita tentang gadis-gadis blind date itu. Padahal Alena ingin sekali melihat pria itu bersama seorang gadis, mencintai seseorang lagi.
“Kupikir dia bisa saja berjodoh dengan Jeane. Mereka rutih bertemu sejak insiden itu bukan?” ujar Davian. Alena tidak mungkin melupakan Jeane. Gadis itu sudah menjadi lebih baik semenjak menjalani terapi. Tetapi gagasan tentang kedekatan Malvin dengan Jeane tidak membuatnya senang. Menurutnya, Malvin seharusnya mendapatkan gadis lain yang jauh lebih baik.
“Ya, aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuknya.”
“Baik, berhenti basa-basinya. Lebih baik kita lanjutkan saja yang tadi.” Davian menaik turunkan alisnya cepat. Alena hanya memutar bola mata namun ia tidak protes sama sekali saat Davian mendekapnya lalu menyatukan bibir mereka kembali.
***
Malvin sekali lagi melirik jam tangannya. Ia sadar gadis itu datang terlambat dari waktu yang dijanjikan. Kafe tempat mereka bertemu sudah mulai penuh dan entah berapa kali pelayan datang menawarinya makan tetapi Malvin hanya memesan makanan.
Dalam hati Malvin memarahi dirinya sendiri karena bisa-bisanya menerima permintaan ibu Alena yang ingin menjodohkannya. Malvin tidak keberatan hidup sendirian karena ia belum berminat untuk mencintai seseorang.
“Malvin?”
Malvin mendongakkan kepalanya dan mendesah lega karena akhirnya kencan butanya tiba juga. Ia ingin bergegas menyelesaikan acara konyol ini dan pulang mengunjungi keponakan lucunya. Tetapi wajahnya berubah tercengang ketika ia melihat siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu.
“Kau..”
“Huh, lagi-lagi kau menunjukkan wajah itu setiap kali melihatku.” Yuka duduk dengan tenangnya di kursi tepat di hadapan Malvin. Pria itu melongo, tak berkedip sama sekali menatapnya. Untuk sesaat Malvin berharap ia hanya kebetulan bertemu Yuka di sini, tetapi harapannya itu musnah ketika gadis itu menjatuhkan diri di kursi yang seharusnya di tempati teman kencan butanya.
“Kau, tidak mungkin..”
“Apa? Kita memang akan berkencan hari ini.” sela Yuka santai. Malvin melemaskan bahunya menyadari ia terlalu tegang,
“Aku tidak menyangka ternyata kau teman kencanku.” Desahnya dengan ekspesi tak terbaca.
“Bagaimana bisa? Apa yang membuatmu memutuskan mengikuti acara konyol seperti ini?”
“Konyol?” Yuka tertawa anggun,
“Aku sengaja melakukannya.”
“Sengaja?” Malvin mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Ya, Aku sengaja karena aku ingin sekali dekat denganmu dan aku tidak tahu bagaimana caranya. Jadi aku meminta bantuan Ibuku untuk mengatur acara kencan buta ini.”
Malvin masih tak bisa berkata-kata dan hanya memandangi Yuka yang harap-harap cemas menanti reaksinya. Ia sebenarnya ingin marah, tetapi melihat betapa gigih usaha Yuka untuk dekat dengannya, mau tidak mau Malvin tertawa.
“Baiklah, kali ini aku menyerah.” Ucapnya membuat gadis di depannya mengerjapkan mata bahagia.
Sepertinya seseorang telah berhasil diluluhkan hari ini.
END
***
***Jangan lupa baca juga cerita ku
"Antara Aku, Kamu, dan Bayi Itu"
"Confession"
Oke siiippp👌👌👌***
XOXO