I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#10



“Aku ada di bandara, aku akan pulang ke Jakarta satu jam lagi. Soal kabarku, aku baik-baik saja. Setidaknya Jepang membuat suasana hatiku sedikit membaik.”


“Syukurlah.”


“Bagaimana kabar pernikahanmu? Tentu kau berbahagia dengan suamimu, bukan?”


Alena tertegun. Berbahagia dengan suami? Itu hanya pernyataan kosong. Namun hal itu tidak terucapkan oleh bibirnya. Akhirnya ia hanya mengatakan,


“Tentu saja. Lain kali kau harus bertemu dengan suamiku.”


Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat tak bertanggung jawab seperti itu? Mana mau Davian bertemu dengan mantan kekasihnya.


“Baiklah, aku tidak sabar menantikannya.” Itu kalimat terakhir Malvin sebelum mereka menutup pembicaraan. Setidaknya ada hal yang membuatnya gembira hari ini. Ia sangka kebahagiaan itu akan berlangsung lama. Namun prasangkanya itu hilang saat ia melihat Jeane keluar dari lift saat pintu lift terbuka.


“Oh, nyonya Fernandez,” Jeane berkata dengan nada menyindir. Alena berusaha untuk tetap ramah meski ia enggan menanggapi Jeane.


“Apakah kau kemari mengunjungi suamimu?” Alena tersenyum,


“Apa ada hal lain selain itu? Tentu saja tidak. Kalau begitu aku permisi,” kakinya sudah melangkah melewati Jeane. hendak menekan tombol lift ketika ia mendengar suara gadis itu lagi.


“Davian tidak mencintaimu, mengapa kau tidak meninggalkannya saja?”


Mata bulat Alena membelalak. Tangannya yang kini menempel di tombol ‘open’ lift bergetar. Ia membalikkan badan menatap Jeane yang kini tersenyum mengejeknya. Sabar, sabar, sabar.


“Tidak perlu memikirkan bagaimana kehidupan rumah tangga orang lain, Jeane. Aku dan Davian bisa menghadapi masalah kami tanpa perlu campur tangan darimu,” balas Alena dengan senyum di bibirnya, berbanding terbalik dengan hatinya yang bergetar ketakutan. Jeane tersentak kaget. Ia tak percaya jika Alena akan menimpali kata-katanya. Ia sudah membuka mulutnya untuk membalas, namun Alena lebih dulu menyela dengan kalimatnya.


“Aku heran apa yang ada dalam pikiranmu. Bukankah kau juga seorang wanita? Tentu kau tahu bagaimana rasanya ketika lelaki yang kau cintai justru mencintai wanita lain?” Alena mulai menyelipkan sedikit emosi pada nada bicaranya. Ia segera menarik napas lalu menghembuskannya beberapa kali untuk menormalkan kembali gejolak hatinya.


Airmata hampir merebak di pelupuk mata, karena itu Alena membalikkan tubuh berniat menekan tombol lift kembali ketika lagi-lagi Jeane menginterupsi gerakan tubuhnya.


“Kau tahu Davian pergi kemana ketika kalian bertengkar tempo hari?” Jeane berkata dengan nada menggebu. Alena mematung di tempatnya, ia tidak berani membalikkan tubuh. Telinganya pun takut untuk mendengar apa yang akan Jeane katakan. Jeane tersenyum licik melihat kekakuan Alena,


“Davian datang ke tempatku. Dan kau tahu apa yang kami lakukan?” ia terdiam sejenak untuk melihat reaksi Alena. Gadis itu terkesiap lalu menghadap Jeane dengan kedua mata mengeryit takut, bingung, marah, dan penasaran.


“Kami tidur bersama.”


Bagai petir yang menyambar langsung dari langit, Alena terkejut bukan main. Sekujur tubuhnya seperti dijatuhkan dari lantai 30 dan jatuh langsung ke tanah dengan keras.


“Kami tidur bersama,” Jeane mengulanginya dan merasa sangat puas karena berhasil membuat Alena syok berat.


“Kau de—“


Plakkk!!!


Jeane memegangi pipinya refleks saat rasa sakit yang menyengat menjalari pipinya. Beberapa detik sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Alena melayang. Pipinya yang semula putih kini sedikit memerah. Ia menatap marah Alena. Beraninya gadis ini. Ia ingin memaki, sungguh. Hanya saja ekspresi Alena saat ini membuatnya terpaksa menelan kembali kalimatnya.


“Demi apapun, aku tahu kalian saling mencintai. Tapi, haruskah kau mengatakannya padaku? Haruskah aku mengetahuinya?!!” berkata dengan suara tercekat, Lelehan airmata mulai menghiasi pipi Alena. Matanya yang bulat memerah dan bibirnya bergetar. Hatinya terluka, sangat. Seperti yang dikatakannya, ia tahu Davian dan Jeane saling mencintai. Tapi, tapi, haruskah ia mendengar hal itu?


Begitu denting lift terdengar dan pintu terbuka, Alena segera membalikkan badan dan masuk ke dalam lift, tanpa memandang Jeane lagi.


Sepanjang perjalanan pulang, Alena menangis. Ia bahkan tidak peduli bahwa sudah lebih dari lima mobil yang membunyikan klakson peringatan padanya karena mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Entah sudah berapa banyak makian yang diterimanya, ia tak peduli. Hanya dengan melaju kencang seperti ini, ia bisa meredam sedikit jeritan tangisannya yang menyeruak bak ombak memecah karang.


Perkataan Jeane seolah mengkonfirmasi segalanya. Sekarang ia sadar bahwa perasaannya hanya omong kosong belaka. Seperti pensil yang tak ada rautannya. Tak akan berguna sama sekali. Ia harus melupakan perasaannya pada Davian. Pria itu memang tidak mencintainya. Haruskah, haruskah ia memilih jalan perceraian?