
•••
Alena berpapasan dengan Jeane ketika ia datang untuk menjenguk Malvin. Ia sempat memasang pose waspada namun ketika gadis itu tersenyum manis, Alena melemaskan tubuhnya. Sepertinya Davian benar tentang Jeane yang sudah berubah.
“Wah, tak kusangka kita bertemu di sini.” Ungkap Jeane. Ia menilik keranjang buah yang dibawa Alena.
“Kau ingin menjenguk seseorang? Apakah itu Malvin?” Alena terkejut,
“Bagaimana kau tahu?” Jeane tersenyum ramah,
“Aku baru saja menjenguknya.”
“Oh, ya.” Alena mengangguk pelan meskipun ia masih bingung bagaimana Jeane bisa mengenal Malvin. Ia menundukkan kepalanya pamit. Baru beberapa langkah ia berjalan, Jeane kembali memanggilnya.
“Alena.”
Alena menoleh. Jeane kini memperlihatkan senyum bersahabat padanya.
“Maafkan sikapku selama ini. Mungkin semuanya akan berjalan baik jika kita menjalin hubungan baik sejak awal. Apakah kita bisa berteman?”
Alena tahu saat mendengarnya, ia merasa sangat lega. Benar seperti dugaannya. Jeane tetaplah manusia biasa. Ia berjalan menghampiri Jeane lalu mengulurkan tangannya.
“Tentu saja.”
Jeane tersenyum pada Alena dan mereka berjabat tangan. Alena berbalik pergi dengan senyum lega terpatri di wajahnya. Senang sekali mengetahui bahwa ia sudah tidak memiliki musuh lagi. Senyumnya perlahan-lahan pudar ketika dirinya sudah tiba di depan kamar rawat Malvin. Ia melihat kedua orang tua Malvin berada di sana. Alena menarik napasnya sebelum masuk.
Kedua orang tua Malvin tampak terkejut, begitu pun Malvin. Alena berani sekali datang kemari seorang diri. Batin Malvin ketika melihat Alena tersenyum lalu membungkukkan badannya.
Tuan Radhian tetap memperlihatkan wajah angkuhnya sementara Nyonya Radhian menyambut Alena karena tidak ingin melihat wajah sedih putranya.
“Aku hanya ingin Anda menceritakan satu kisah padaku.” Alena menarik napas sejenak,
“Ceritakan bagaimana bisa aku dan Malvin bersaudara.” Tuan Radhian dan istrinya saling pandang sementara Malvin merasa hatinya tersayat-sayat melihat Alena berkata dengan mata berkaca-kaca. Ia bisa merasakan apa yang Alena rasakan sekarang. Ia ikut menatap Ayahnya seperti Alena menatapnya.
“Alena, tak sepantasnya kau—“ ucapan Nyonya Radhian terpotong karena Tuan Radhian memegang tangannya. Nyonya Radhian menoleh pada suaminya yang tampak pucat. Ia tidak tega melihat suaminya seperti ini namun suaminya itu terlihat yakin bahwa ia memang harus menjelaskan sesuatu pada dua anak muda di depannya.
“Ayah, pikirkanlah lagi sebelum bercerita.” Pinta Nyonya Radhian.
“Sebegitu sulitnya kah?” semua perhatian kini teralih pada Malvin yang sejak tadi diam. Pria itu menatap kedua orang tuanya dengan penuh kesungguhan. Cukup, kumohon kalian berhenti menyembunyikan semua ini dariku, itulah arti ekspresi yang tersirat di wajah Malvin.
Tuan Radhian tidak pernah tega membuat anak-anaknya menderita. Mungkin memang sudah saatnya Malvin tahu cerita sebenarnya mengenai dirinya dan masa lalunya. Tuan Radhian menghela napas berat. Ia bangkit mengambil sebuah buku tua yang ada di dalam tas kerjanya lalu menyerahkannya pada Malvin. Alena menatapnya ingin tahu.
“Apa ini?” tanya Malvin bingung.
“Itu buku harian mendiang ibumu,” gumam Tuan Radhian dengan suara tercekat.
Malvin dan Alena mengerjap. Malvin membuka buku dengan sampul yang terbuat dari bahan kulit itu tidak sabar, Alena bangkit dari duduknya untuk melihat sendiri apa isi di atas buku harian itu. Tidak ada yang istimewa selain tulisan tangan yang tercetak dengan huruf-huruf yang tertata rapi. Malvin melebarkan mata ketika ia melihat selembar foto tertempel di halaman kedua.
“For My Memories, Sarah,” Malvin langsung melemparkan tatapannya kepada Ayahnya dengan raut bertanya-tanya. Seolah paham, Tuan Radhian mengangguk membenarkan.
“Dia adalah Mendiang ibumu.”
________
XOXO