I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#21



•••


Davian berdiri diam di tempatnya, menatap sedih sosok gadis yang menangis di depan pusara Ayahnya. Sudut hatinya bergetar sakit. Ia tidak bisa melihat situasi ini. Ia tidak sanggup. Di telinganya, bergema dengan jelas kata-kata yang diucapkan oleh Ibunya.


“Saat ayahnya sekarat, Alena lebih memilih menjagamu. Kau tahu, dia sangat mencemaskanmu sampai mengesampingkan urusan Ayahnya sendiri. Alena sangat mencintaimu. Kau harus memperlakukannya dengan baik. Dia anak yang sangat berbakti. Kau tidak akan menemukan gadis sepertinya lagi dimanapun.”


“Kenapa kau tidak pergi saja Alena?! Kenapa kau tidak tinggalkan aku lalu pergi melihat wajah Ayahmu untuk terakhir kali?” protes Davian begitu ia tahu hal itu. Alena hanya menunduk sedih dengan linangan airmata yang semakin deras. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.


Davian tahu tak seharusnya ia melampiaskan emosinya pada Alena. Hanya saja ia tidak habis pikir. Bukankah apa yang dilakukannya selama ini karena ayahnya? Bahkan dia rela menikah demi sang Ayah. Lalu mengapa di saat pertemuan terakhir itu tiba, Alena memilih tinggal di sisinya?


“Maaf.” Dengan suara yang menyayat hati, Alena justru meminta maaf.


“Ini bukan saatnya meminta maaf, lihat sekarang kau pasti menyesal bukan. Kau menyesal karena Ayahmu—“ Davian berhenti berkata lalu menghela nafas melihat Alena semakin terpuruk. Ia menarik Alena ke dalam pelukannya. Ia tidak sanggup lagi melihat Alena menangis. Rasa sesak setelah kehilangan orang penting tidak bisa hilang begitu saja dan yang dibutuhkan Alena sekarang adalah tumpuan. Alena butuh seseorang untuk tempatnya bersandar. Dan Davian sadar itu tugasnya sekarang.


Kini, setelah pemakaman selesai Davian menemani Alena yang tetap diam membisu di depan altar ayahnya. Tak ada lagi airmata. Namun ekspresi sedih tetap melekat di sana. Davian membawakan secangkir teh untuk Alena karena ia melihat wajah gadis itu mulai pucat.


“Minumlah. Setelah ini kita pergi makan,” ajak Davian. sesungguhnya, melihat keadaan Alena sekarang ia merasa sangat bersalah. Seandainya ia tidak sakit, mungkin Alena masih bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.


Alena hanya menggelengkan kepala. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak prosesi pemakaman tadi pagi. Davian merasa Alena merajuk padanya. Apa gadis ini diam-diam menyalahkannya atas kematian Sang Ayah?


•••


“Davian, ini waffle mu.” Alena meletakkan sepiring waffle dengan topping cokelat di hadapan Davian yang santai membaca koran pagi. Diam-diam, Davian melirik segala macam kegiatan Alena untuk memastikan gadis itu tidak bersedih atau semacamnya.


“Kudengar kau mulai bekerja hari ini,” Davian sudah mendengarnya kemarin dari ibu mertuanya. Alena-lah yang akan meneruskan perusahaan Ayahnya. Tidak mungkin membebankan tugas itu pada Davian yang juga sibuk mengurus perusahaan keluarganya.


“Iya. Hari ini aku resmi menggantikan posisi Ayah,” Alena menyesap tehnya. Ia menyadari sejak tadi Davian terus memandangnya penuh selidik. Ia meletakkan perlahan cangkir tehnya lalu bertanya penasaran.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Sungguh, aku tidak apa-apa,” terang Alena yakin. Davian melipat koran di tangannya lalu menyimpan benda itu di atas meja. Karena kini perhatian Alena tertuju padanya, ia tidak akan segan untuk bertanya lagi.


“Apa kau marah padaku?” tanyanya dengan suara rendah dan wajah serius. Alena mengerjap kaget.


“Kenapa aku harus marah?”


“Atau, kau diam-diam menyalahkanku?” kini suara Davian terdengar sedih, seperti mengemban beban berat.


Alena mengerutkan kening bingung. Sebenarnya hal apa yang dimaksud Davian? Ia tak mengerti sedikitpun.