I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#7



Setibanya di rumah, Davian menyantap bekal yang siang tadi dibuatkan Alena untuknya. Gadis itu membuat kembali menu kesukaannya itu. Kini perhatiannya kembali pada Alena yang duduk termenung di seberangnya. Ia penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu. Semenjak Ayah mertuanya menyinggung soal ‘pria itu’, ekspresi Alena mulai berubah.


“Siapa yang dimaksud Ayahmu dengan ‘pria itu’?”


Alena mengangkat kepalanya, dengan terkejut ia menatap Davian yang tampak tak peduli. Berbanding terbalik dengan isi hatinya yang penasaran setengah mati.


“Bukan siapa-siapa.” Alena kembali menatap piring makan malamnya yang sudah kosong setengahnya.


“Sepertinya ‘pria itu’ begitu penting bagimu.”


“Tidak juga.” Davian berdecak, jengkel.


“Dilihat dari ekpsresimu, sepertinya anggapanku benar. Apa pria itu adalah mantan kekasihmu?” sedikit penyesalan melanda Davian kala ia sadar Alena menggenggam erat sendoknya sesaat setelah ia mengucapkan kata ‘mantan kekasih’.


“Oh, apa kau masih mencintainya hingga detik ini? Cih, benar-benar pria malang. Kekasihnya lebih memilih pria lain dibanding dirinya.” Sindir Davian puas.


Gadis itu menggeram tertahan. “Malvin tidak sama seperti Jeane. Setidaknya ia cukup tahu diri dengan mundur dari hidupku setelah kukatakan aku akan menikah.” Hatinya seperti tersulut api mendengar penuturan Davian. Ia seperti diingatkan bahwa betapa malang dirinya karena Davian tidak meninggalkan Jeane meskipun dirinya telah menikah.


Kali ini Davian yang terpancing emosi karena ucapan Alena.


“Kenapa kau membawa-bawa Jeane?” ia meletakkan dengan keras sumpitnya di atas meja.


“Aku memang tidak tahu. Tapi seharusnya gadis itu tahu diri bahwa kau sudah menikah denganku. Tidak ada hak baginya untuk mencampuri urusanmu lagi.” Alena berkata dengan penuh emosi meskipun cara bicaranya masih terdengar halus.


“Hak?” Davian mengangkat alisnya sebelah, lalu mencibir.


“Kau berbicara soal hak denganku?” ia menatap Alena penuh emosi.


"KAU TIDAK TAHU APAPUN SOAL APA ITU HAK!!!!!!!” Davian tiba-tiba saja berteriak, sambil menyapu semua piring dan gelas di atas meja hingga jatuh dan hancur di lantai. Hal itu membuat Alena kaget sampai jantungnya hampir keluar dari kerongkongannya. Ia memekik tertahan. Matanya hampir tak percaya karena kini ia melihat Davian menatapnya dengan mata berapi-api, mirip Srigala yang sudah marah dan menampilkan taring tajamnya.


“Sejak kecil hakku sudah terampas oleh kedua orang tuaku sendiri!! Apa mereka pernah bertanya apa cita-citaku atau apa yang kuinginkan? TIDAK!! Apa mereka pernah memberiku hak memilih gadis manapun untuk kunikahi? TIDAK!! Dan apa kau tahu bahwa kedua orang tuaku tidak pernah memperlakukan Jeane dengan baik meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan kedua orang tuaku? TIDAK!!! Kami sudah berkomitmen untuk saling mencintai, dan menikah namun semua mimpiku hancur karena kedatanganmu dan sekarang kau berkata tentang hak?” Davian menarik napas di akhir teriakannya.


Alena tak bisa berkata apapun karena ia melihat kemalangan, kesedihan, putus asa, dan sakit hati dengan jelas di wajah Davian. Ia yakin kata-kata yang baru saja diucapkan Davian adalah isi hatinya yang terdalam. Ia memang selalu melihat Davian seperti menanggung beban yang begitu berat. Rupanya ini alasannya mengapa ia selalu menemukan raut lelah dari sorot mata Davian.


Matanya kembali berkabut. Untuk menghindari tatapan mata Davian, ia bangkit lalu berlutut untuk membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai. Davian bangkit lalu menatap Alena penuh kebencian.


“Aku membencimu, Alena Kezia.” Ucapnya lalu pergi.


Alena membelalakkan mata, terkejut dengan ucapan Davian barusan. Tangannya bergetar saat ia membereskan pecahan beling itu. Telinganya menangkap suara bantingan pintu dan ia yakin Davian pergi dari apartemen mereka. Akhirnya, airmata yang ia tahan sekuat tenaga itu tumpah. Ia tidak tahu jika rasanya akan sepertih ini saat mengetahui ia menikahi pria yang tidak mencintainya. Hatinya hancur, seperti pecahan beling yang berserakan di sekitarnya.


Ia hanya tidak tahu, bahwa detik ini, ia menyadari dirinya telah jatuh cinta pada Davian Fernandez.