
Hari itu Malvin segera mengatakan bahwa ia akan memimpin perusahaan keluarga Alena kepada Ayah dan ibunya sewaktu makan malam. Ayahnya sempat membelalakkan mata, termasuk ibu dan kakaknya. Malvin kira ia akan mendapatkan luapan kemarahan dari Ayahnya namun ia salah. Meski sempat terkejut namun Ayahnya membiarkan Malvin melakukannya. Itu adalah hal yang baik untuknya.
Kemudian esok harinya, Malvin resmi diperkenalkan sebagai CEO baru oleh Ibu Alena kepada semua jajaran manajemen di Perusahaannya.
Hari-hari yang dilalui Davian dan Alena mulai berjalan baik dan normal. Ia sudah tidak mendengar tentang Jeane lagi, entah bagaimana kabarnya gadis itu. Ia sudah tidak memikirkan lagi alasan Ayahnya membenci Jeane dan ia membiarkan itu menjadi misteri karena sekarang satu-satunya yang menjadi fokus pikirannya adalah Alena, yang sedang mengandung anak mereka.
“Kau yakin tidak menginginkan apapun? Bukankah wanita hamil semuanya seperti itu?”
“Seharusnya kau bersyukur karena aku tidak merepotkanmu,”
“Aku suka direpotkan,” kekeuhnya.
Davian heran sekali dengan kehamilan Alena. Padahal ini adalah masa-masa awal kehamilan tapi kenapa istrinya itu tidak mengidam? Jelas ia heran dengan hal itu. Padahal ia sudah menantikan sensasi repot namun menyenangkan ketika ia berusaha untuk mewujudkan keinginan istrinya.
“Jika kau menginginkan sesuatu, jangan ragu untuk menelepon.”
“Oke..”
Davian baru menyudahi sesi pembincangan dengan istrinya melalui telepon. Ia melirik jam tangan dan baru sadar kalau ia ada janji dengan Dion siang ini. Sahabatnya itu memintanya menemani menjemput istrinya yang kembali dari kegiatan amal di luar negeri.
“Sebaiknya aku mengajak Alena juga,”
***
Davian berdiri bersama Alena dan Yuka, adik Dion yang sejak tadi mencemaskan kakaknya yang mulai tidak sabar.
“Kau yakin pesawatnya akan tiba sebentar lagi?” cerocosnya tidak sabar. Yuka hanya memutar bola mata malas.
“Tenanglah kakakku. Kak Sena akan tiba dengan selamat. Aku jamin itu.” ia lalu menoleh pada Alena dan Davian.
“Dia terkadang suka cemas berlebihan pada istrinya.”
“Sepertinya kakakmu terlalu merindukan istrinya,” ujar Alena.
“Ya, aku yang tidak bertemu beberapa jam dengan istriku saja sudah rindu apalagi jika tidak bertemu selama berbulan-bulan. Aku terkadang kagum pada kesabarannya. Dia bisa saja berselingkuh dengan kondisinya sekarang.” canda Davian yang langsung menerima sikutan dari Alena.
“Jangan begitu,” ujarnya.
“Ngomong-ngomong,” sela Yuka sambil menatap ke sekeliling Alena.
“Kau tidak mengajak pria, em siapa itu..” Yuka ragu harus melanjutkannya atau tidak. Alena yang paham segera menjawab.
“Malvin maksudmu?”
“Ya,,” Yuka mengerjap lalu mengangguk.
“Dia sedang sibuk bekerja. Sepertinya dia sedang semangat-semangatnya. Ibu sampai berdecak kagum karena Malvin berhasil menyelesaikan semua tugas bahkan sebelum waktunya,” ucap Alena sambil tertawa kecil.
“Um, apa dia benar berpacaran dengan gadis bernama Jeane?” Yuka benar-benar penasaran. Alena terkejut mendengarnya.
“Apa? Sejak kapan Malvin berpacaran dengan Jeane?” serobot Davian lebih dulu.
Yuka gelagapan, “Aku mendengarnya langsung dari Malvin.”
Dengan wajah tercengang Alena memandang suaminya. Ini adalah hal yang sangat mengejutkan karena ia mengenal Malvin dengan baik dan Jeane jelas bukan tipe wanita impian Malvin.
Malvin dan Jeane berpacaran? Mendengarnya saja membuat kerutan di kening Alena bertambah. Terdengar aneh dan tabu meskipun tidak menutup kemungkinan mereka benar-benar menjalin hubungan asmara. Tetapi tetap saja Alena tidak habis pikir, apa yang membuat Malvin memutuskan untuk merajut tali kasih dengan wanita itu?
“Sena!!!!!!”
Lamunan Alena terpotong oleh teriakan Dion yang lebih heboh daripada cheerleader di pertandingan basket. Pria itu dengan antusias melambaikan tangannya pada seorang wanita yang baru saja keluar dari gate kedatangan internasional. Wanita itu tersenyum lebar mengenali Dion lalu berjalan menghampirinya sambil mengerek sebuah koper. Dion sepertinya tidak sabar, setengah berlari ia menghampiri wanita itu lalu memeluknya erat seolah besok dunia akan berakhir jika ia tidak melakukannya.
“Apa itu istrinya?” tanya Alena pada Davian. Pria itu hanya mengangkat bahunya karena sejujurnya ia tidak pernah memperhatikan seperti apa rupa istri sahabatnya itu.
“Itu memang kakak iparku,” ujar Yuka. Seperti yang sudah diduganya. Tentu saja, memang siapa lagi yang mereka tunggu selain istri Dion itu.
“Ah, mereka benar-benar membuatku iri..” Alena berkata dengan nada iri. Davian mengerutkan kening mendengarnya lalu menoleh.
“Apa yang membuatmu iri?”
“Perasaan mereka tidak berubah meskipun berpisah selama berbulan-bulan. Aku mungkin berlebihan tapi orang buta pun tahu betapa Dion merindukan istrinya. Aku kagum pada kesetiaannya. Sulit sekali menemukan pria seperti itu di dunia ini.” Ucap Alena dengan pandangan menerawang.
“Ah tunggu, rasanya ada pria seperti itu,” ujarnya sambil mengerjap.
“Siapa?” Yuka penasaran sekali apakah ada orang di dunia ini yang selurus kakaknya. Alena tersenyum penuh arti kepada Yuka.
“Malvin, dia orang yang seperti itu.”
***
*Lebih cocok mana:
Malvin 💗 Jeane
Malvin 💗 Yuka
Pilih yaaaa...
**XOXO***