I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#63



Malvin menghela napas pasrah, seolah topik yang mereka bicarakan ini adalah sesuatu yang membuatnya lelah. Pria itu mengurut pelipisnya,


“Itu tidak sungguhan. Aku tidak berpacaran dengan Jeane atau siapapun.” Ia lalu menatap Alena yang tanpa sadar mendesah lega.


“Kenapa kau bertanya? Bukankah tidak masalah aku berhubungan dengan siapapun?” Alena tersentak, ucapan Malvin memang ada benarnya. Sekarang ia merasa terlalu ikut campur urusan orang lain,


“Aku hanya berpikir Jeane bukanlah tipe wanita idamanmu. Aku tidak bermaksud mengatakan Jeane wanita yang buruk, tetapi entah kenapa aku merasa cemas setelah mendengar kau menjalin hubungan dengan Jeane. Aku tidak pernah mencurigai siapapun tetapi Jeane..” kata-kata Alena menggantung, ia sadar dirinya sudah kelewatan mencurigai seseorang.


“Setahuku dia gadis yang baik,” gumam Malvin dengan senyum penuh arti,


“Tetapi jika kau mencemaskanku, aku berterima kasih.”


Alena merasa malu dan bersalah saat itu juga. Ia tahu kecurigaannya terhadap Jeane tidak beralasan. Seperti yang Malvin katakan, sekarang Jeane sudah menjadi gadis yang baik, lantas mengapa ia berfirasat akan terjadi hal buruk?


“Alena,” Malvin memanggil karena ia melihat Alena begitu murung. Dalam hati ia merasa senang, entah kenapa. Alena masih memperhatikannya meski kini perhatian Alena dalam konteks perhatian adik pada kakaknya.


“Terima kasih.” Malvin tersenyum begitu tulus membuat Alena yakin bahwa Malvin pantas mendapatkan gadis yang lebih baik segala-galanya di banding Jeane. Pria itu begitu baik dan apa adanya. Jika memang benar Jeane tertarik pada Malvin, maka gadis itu sudah terpikat pada ketulusannya.


***


Davian mendapatkan undangan makan malam di rumah Dion, ketika mengatakannya pada Alena, istrinya itu begitu gembira dan menyambut dengan antusias. Sepertinya Alena merasa begitu akrab dengan istri sahabatnya, Sena semenjak mendengar kisah cinta mereka yang serupa dengan kisah cintanya.


Selama makan malam berlangsung, suasana terasa begitu hangat dan akrab. Mereka membincangkan banyak hal termasuk rencana Davian untuk ambil cuti saat kandungan istrinya masuk usia 9 bulan.


“Aku mendengarnya dari Ibu, perkiraan dokter tentang waktu kelahiran bayi bisa saja meleset. Karena itu aku ingin berada di sisinya agar siap siaga jika perkiraan dokter benar-benar meleset. Aku tidak bisa membayangkan Alena yang merintih sakit sendirian di saat ia akan melahirkan, oh Tuhan, jangan sampai itu terjadi.” Davian menjelaskan panjang lebar sambil sesekali melirik Alena yang tersenyum simpul.


“Dion saja tidak seperti itu ketika aku dirawat di rumah sakit dahulu.” Dion hanya tersenyum karena ia tahu Sena tidak bermaksud membanding-bandingkannya dengan Davian, tentu saja mereka dua orang yang sangat berbeda.


“Kau tidak cemburu?” Davian bertanya karena Dion malah tersenyum tidak jelas.


“Kau benar-benar sudah berubah, entah kenapa aku sekarang merasa sangat bangga padamu,” Dion melemparkan kalimat yang membuat Davian tersentak, begitupun Alena.


“Berubah apa maksudmu? Kau pikir aku Superman yang bisa berubah?”


“Bukan begitu,” Dion menepis gurauan Davian,


“Bukankah sudah pernah kukatakan, hati manusia adalah komponen paling rumit yang dibuat Tuhan. Sekarang kau tahu bukan, yang jelas tertulis di hatimu bukanlah Jeane, melainkan Alena.”


Davian melebarkan matanya, sebenarnya ia sudah lupa sama sekali dengan ucapan Kyuhyun itu. Tetapi ucapan pria ini kembali menyentak hati nuraninya yang terdalam. Kata-kata sederhana yang mampu menamparnya, membuatnya tersadar bahwa hati manusia tidak akan pernah bisa di atur oleh diri manusia itu sendiri, namun selalu ada Tangan Tuhan yang menjadikan hati serupa dengan alat mekanika yang berfungsi sendiri dan itulah yang di sebut nurani. Sebuah titik terdalam di hati manusia yang seringkali terabaikan, tenggelam oleh arogansi.


Entah kenapa Davian merasa malu. Dahulu ia begitu yakin bahwa nama Jeane lah yang terpahat di hatinya namun Tuhan berkehendak lain. Mungkin nama Alena sudah lama terukir di sana hanya saja ia berusaha keras menutupnya dengan rasa egois.


“Wow, kata-kata yang hebat,” Alena kini berdecak kagum. Di balik sikap jahil dan blak-blakkannya siapa sangka Dion seseorang yang berhati bijak. Seseorang memang tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya saja. Alena pun merasa malu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Jeane. Seharusnya ia tidak berburuk sangka pada gadis itu.


***


XOXO