I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#20



•••


Langkahku terhenti melihat Davian bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Dia seperti orang yang kesakitan sekaligus ketakutan. Demi apapun, aku tidak mungkin tega meninggalkan Davian di saat seperti ini. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan suamiku di saat dia sedang menderita seperti ini. Aku ingin menelepon kembali ibu mertuaku tapi ponselku sudah tidak bisa digunakan lagi karena jatuh dari genggaman.


Dunia serasa berputar begitu cepat dan aku terjepit di dalamnya tanpa bisa berbuat apapun. Aku harus menemui Ayah tapi Davian tidak mungkin kutinggalkan. Tuhan, apa yang harus kulakukan?


Nak, di saat seorang perempuan menjadi istri, prioritas utamanya bukanlah ayah atau ibunya lagi tetapi suaminya.


Di saat pikiranku kalang kabut, kalimat itu bergema begitu saja di telingaku. Suamiku adalah prioritas utamaku. Seolah mendapat vonis hakim, tubuhku melemah dan akhirnya aku jatuh terduduk di kursi. Tanganku terulur dengan sendirinya menggenggam tangan Davian. Mendekapnya seerat yang kubisa. Aku hanya berharap, semoga semuanya baik-baik saja.


“Ayah, maafkan aku…” seiring dengan kalimat yang terberai dari mulutku, airmata ini meleleh dan perlahan jatuh membasahi tangan Davian.


Detik demi detik yang bergerak sedetak dengan jantungku terasa semakin sesak dan sesak. Sesuatu di hatiku mencelos jatuh dan paru-paruku terasa sesak. Mungkinkah ini sebuah firasat?


Ponselku yang semula padam menyala menampilkan sebuah pesan singkat dari Bunda. Aneh sekali. Dengan tangan bergetar aku membuka pesan tersebut.


Alena, Appamu sudah pergi dengan tenang.


From : Bunda


“Ayaaahh, hiks-hiks..” tangisku pecah seketika setelah membacanya. Di tempatku duduk, di ruangan rawat Davian aku membiarkan diriku menangis.


Ayah, kuharap engkau bisa memaafkan aku. Maaf, aku tidak bisa melihat wajahmu untuk terakhir kali.


•••


Author POV


Davian merasakan seberkas cahaya masuk ke sela kelopak matanya ketika ia siuman. Matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya penglihatan itu menjadi jelas. Ia menoleh ke sekeliling dan menemukan wajah cantik Alena tersenyum dengan mata berkaca-kaca, menyambut dirinya.


“Apa aku ada di rumah sakit?” Davian memegang kepalanya sendiri. Masih terasa pusing seperti baru saja naik wahana permainan ekstrem di taman ria. Terakhir kali ia ingat dirinya berada di apartement bersama dengan Jeane setelah itu ia lupa segalanya. Pandangannya kembali teralih pada Alena. Ada sesuatu dalam ekspresi Alena yang membuatnya penasaran.


“Kau menangis?” tanyanya cemas. Alena tersenyum meskipun Davian bisa melihat dengan jelas jejak airmata di pipinya.


“Aku mencemaskanmu, Davian. Syukurlah kau sudah siuman.” Davian memegang kepalanya yang masih terasa pening.


“Berapa lama aku berada di sini?”


“Sehari semalam.”


Davian kembali menatapi paras Alena yang pucat. Firasatnya tidak salah, istrinya ini sepertinya memang menyembunyikan sesuatu. Atau mungkin, sedang berusaha untuk tidak menangis, tapi mengapa?


“Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku baik-baik saja, sungguh.” Davian mencoba meyakinkan. Ia takut jika Alena memang bersedih karena itu.


“Davian, kau tidak perlu mencemaskanku.” Alena menenangkan Davian yang mulai mencemaskannya. Ia senang mengetahui suaminya peduli padanya. Hanya saja, ia tidak ingin kesedihan yang ia rasakan semakin menumpuk dan akhirnya ia tak bisa mengendalikannya lagi. Ia tak mau menangis di depan Davian.


“Kau sudah menjenguk Ayahmu? Apa dia baik-baik saja?” Davian bertanya hati-hati. Ia tahu hal yang paling dicemaskan Alena sepanjang hidupnya. Yaitu kesehatan ayahnya. Alena melebarkan matanya sesaat. Hatinya bergetar. Jangan menangis, jangan menangis.


“Ayah…dia..sekarang sudah tidur dengan tenang. Dia pasti baik-baik saja.” lirih Alen dengan mata berkaca-kaca.


Davian tertegun untuk beberapa saat. Bibirnya terasa kelu. Alena, memang menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya apa yang terjadi? Gadis itu menundukkan kepalanya dan Davian bisa melihat bahunya bergetar.


“Sebenarnya ada apa ini?”


________


XOXO