
•••
Seminggu kemudian, Malvin sudah mulai bisa bergerak dari tempat tidurnya meskipun ia harus meringis sesekali merasakan sakit di beberapa persendiannya.
Malvin menoleh cepat saat ia mendengar derit pintu membuka dan ia tersenyum pada suster yang datang untuk mengecek kondisinya secara berkala.
“Apa kau butuh sesuatu, Tuan?” tanya suster itu setelah memeriksa keadaannya dan mencatatnya untuk dilaporkan pada dokter.
“Kudengar aku harus mendapat transfusi darah saat dioperasi dulu. Apa itu benar?” Malvin teringat hal yang pernah didengarnya dari Dokter yang menangani operasinya. Itupun tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan Dokter dengan Ayahnya beberapa hari lalu.
“Iya. Salah satu dari anggota keluarga Anda yang menyumbangkan darahnya untuk Anda,”
“Sungguh? Siapa?” Malvin melebarkan matanya, semakin penasaran. Ia menebak-nebak itu adalah kakak laki-lakinya.
“Seorang gadis bernama Alena.”
Raut penasaran di wajah Malvin memudar dan berganti dengan raut terkejut. Matanya membelalak lebar dan Malvin hampir saja kesulitan bernafas mendengarnya.
“Maksudmu Alena Kezia?”
Suster itu mengangguk lalu membungkukkan badannya pergi meninggalkan Malvin dengan segala kebingungannya.
Kenapa Alena mendonorkan darah untuknya?
Kenapa tidak keluarganya saja?
Apa tidak ada satupun dari mereka yang bergolongan darah sama dengannya?
Tidak, pasti ada. Tapi kenapa tidak melakukannya?
Puluhan pertanyaan muncul secara bersamaan di otaknya, membuat kepalanya pening sesaat. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Samar-samar telinganya menangkap suara langkah kaki memasuki ruangan. Pusing dikepalanya menghilang begitu suara lembut Ibunya terdengar.
“Kau sudah baikan, nak?” Ibu mengecup kening Malvin sekilas lalu meletakkan kantong berisi makanan di atas tempat tidur Malvin.
“Lebih baik dari kemarin,” lirih Malvin, menatap Ibunya dengan tatapan menyelidik. Sepertinya Ibu tidak menyadari Malvin yang menatapnya lurus karena wanita paruh baya itu sibuk mengeluarkan barang-barang yang dibawanya tadi.
“Apa benar Alena yang mendonorkan darahnya untuk menyelamatkanku?”
Seluruh gerakan Ibu berikut senyuman di wajahnya terhenti ketika pertanyaan Malvin jatuh seperti bom atom. Ibu memaksakan diri menatap wajah putranya yang mengerut diselubungi rasa penasaran. Mendadak saja, Ibu merasakan kakinya melemas hingga ia harus berpegangan pada sisi ranjang agar tidak jatuh. Malvin yang terkejut segera menahan lengan ibunya yang hampir terhuyung jatuh.
“Ibu, kau baik-baik saja?” tanyanya panik. Malvin menyesal sudah bertanya karena ia tidak tahu bahwa ibunya akan syok mendengar pertanyaannya. Ibu meminta Malvin agar melepaskan tangannya dan membiarkannya duduk di kursi samping tempat tidur.
Ibu tidak akan bertanya darimana Malvin tahu tentang hal itu. Siapapun bisa memberitahunya secara sengaja atau tidak sengaja. Hanya saja ia tidak menyangka waktunya akan tiba secepat ini. Ia belum menyiapkan jawaban yang tidak akan membuat anaknya histeris.
“Ya, dia memang menyumbangkan darahnya untukmu,” Ibu mulai berkata dengan suara parau.
“Kenapa harus dia? Apa di antara anggota keluarga Radhian tidak ada yang bisa menyumbangkan darahnya?”
“Tidak, Malvin!” sela Ibu sambil mengangkat tangannya agar Malvin berhenti berbicara.
"Ibu mohon jangan bertanya lebih banyak lagi. Ibu akan menjawabnya tapi tidak saat ini.”
Kadar kecurigaan Malvin meningkat menyadari Ibu seperti berusaha menyembunyikan suatu fakta penting darinya.
“Kenapa? Sekarang ataupun nanti sama saja bukan. Atau..” mata Malvin menyipit,
“Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?”
“Tidak ada, nak. Sungguh.” Ucap Ibu setengah memohon. Ia bangkit lalu mengusap kepala Malvin penuh kasih sayang.
“Sekarang sebaiknya kau habiskan makananmu dulu setelah itu kita kembali bicara,” Ibu mengecup puncak kepalanya sebelum akhirnya menghindar dari pertanyaan Malvin dengan pergi keluar dari ruangan itu.
Dalam diam, Malvin menatap pintu ruangannya yang perlahan menutup. Ia bukan anak kecil yang bisa dibohongi dengan mudah. Ia tahu ada yang tidak beres. Sesuatu yang berusaha disembunyikan darinya.
________
XOXO