
Davian menghapus airmata di pipi Alena karena ia bisa merasakan bermacam perasaan yang berkecamuk dalam hati istrinya. Ibu mertuanya baru saja menceritakan kisah masa lalu yang menjadi asal mula perseteruan dua keluarga. Ia tidak bisa berkomentar, hanya diam. Ini bukan tempatnya berkomentar.
Meskipun ingin, Alena tidak bisa menghentikan airmata yang menerobos keluar tanpa permisi. Ia bingung apakah harus marah pada mendiang ayahnya atau justru simpati. Entah siapa yang patut dipersalahkan namun ia merasa Ayahnya tidak salah. Semua orang yang mencintai pasti rela melakukan apapun untuk mempertahankan jalinan cintanya. Ia kembali memokuskan pandangannya pada sang ibu yang terisak. Sementara Malvin hanya terdiam dengan pandangan menerawang. Alena yakin perasaannya pun tak kalah kacau balau seperti dirinya.
“Sungguh Alena, meskipun saat itu Ayahmu tidak mencintai Ibu. Namun semenjak kau lahir, wajah tak berdosamu seperti magnet yang membuat perasaan mendiang Ayahmu berpaling pada Ibu.”
“Aku tau bu....” Alena memegang tangan ibunya. Ia tahu memaksa ibunya menceritakan ini sama saja seperti membuka luka lama yang berusaha ibunya sembuhkan selama bertahun-tahun. Pasti berat menjalani pernikahan dengan suami yang tidak mencintainya, apalagi ditambah kenyataan bahwa sang suami mencintai wanita lain. Itu sangat berat, Alrna tahu karena ia sempat mengalaminya. Ibunya adalah wanita yang tegar dan kuat. Masih bisa mencintai ayahnya bahkan sampai sekarang. Alena merasa sangat bangga dan kagum pada ibunya.
“Ibu tetap harus menceritakan inti dari cerita ini pada kau dan Malvin..” lanjut Ibu setelah perasaannya lebih tenang. Ia menatap lembut ketiga orang yang ada di sekitarnya terutama Alena dan Malvin.
“Ibu harap setelah kalian mendengarnya, kalian bisa mengambil keputusan yang bijak.” Pandangan Ibu teralih pada Alena,
“Ibu harap kau tidak membenci ayahmu,” setelah itu lalu tertoleh pada Malvin,
“Ibu juga berharap kau tidak membenci kedua orang tuamu..”
Malvin masih belum menjawab. Ia sedang menyiapkan hati sebelum benar-benar mendengar ceritanya dari sudut pandang berbeda. Ia yakin pada kenyataannya, Ayah kandungnya tidak sejahat seperti yang diceritakan oleh Ayahnya.
•••
*Flashback*
“Sayang, lihat putri kecil kita tertawa..”
David begitu menikmati perannya sebagai seorang Ayah. Sore itu ia menggantikan peran Nia yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Dengan suka cita ia mengajak bayi mereka bermain di pangkuannya.
“Oh tidak, sepertinya dia merindukanmu.” David memberikan Alena kecil pada istrinya. Nia tahu putrinya itu pasti lapar. Ia segera memberinya asi dan membiarkan anaknya tidur lelap setelahnya. Mereka berdua tertawa melihat Alena cilik menggeliat di sela tidurnya. Nia menolehkan pandangannya pada David, wajahnya sama bahagianya. Ya, kehidupan pernikahannya memang lebih bahagia pasca kelahiran Alena.
Tangan David terulur mengelus pipi Nia dengan punggung tangannya. Sorot mata pria itu berbinar kala menatap Nia, sanggup membuat pipi wanita yang ditatapnya merona malu.
“Aku merasa sangat bersalah padamu karena dahulu aku membuatmu menderita,” lirih David penuh penyesalan. Nia lekas menggeleng dengan senyum merekah di bibir berusaha melenyapkan kekhawatiran dari wajah pria yang dicintainya. Ia menggenggam lembut tangan David.
“Tak perlu dipikirkan lagi. Masa lalu yang pahit sudah lama kulupakan karena itu kuharap kau juga bisa melakukan hal yang sama,” ungkapnya. David merasa begitu senang dan beruntung. Entah apa yang terjadi padanya jika ia tidak memiliki Nia di saat-saat paling putus asa baginya. Mungkin ia sudah bunuh diri setelah mendengar Sarah menikah dengan pria lain.
“Aku mencintaimu,” bisiknya lalu mengecup tangan Nia yang menggenggam tangannya. Tanpa ragu ia menarik pinggang istrinya mendekat lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir Nia. Ini kecupan penuh cinta karena Nia bisa merasakannya dengan jelas. Oleh karena itu ia menyambutnya dengan gembira karena ciuman ini seolah menegaskan padanya bahwa David miliknya seutuhnya.
Ketika Nia merasa kebahagiaannya sudah mencapai puncak, suara ketukan pintu yang terdengar bertubi-tubi kembali membuatnya tertarik ke dunia nyata. Ia memandang David sejenak dengan pandangan heran.
“Siapa yang datang?”
“Entahlah. Tunggu, aku akan membukanya.” David pergi untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu rumahnya dengan brutal. Apa orang itu tidak tahu cara yang sopan untuk bertamu ke rumah orang lain?
David membuka pintu dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati sosok yang dikenalinya berdiri di sana.
"....."
________
XOXO