
Alena terdiam seperti orang bisu di sudut tempat tidurnya. Matanya menerawang kosong ke depan. Davian mulai mencemaskan kondisi psikologis istrinya semenjak kembali dari rumah sakit. Ia seringkali menemukan Alena melamun lalu menghela nafas, seperti menanggung beban berat di pundaknya.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Sayang?” Davian duduk di samping Alena, membelai halus rambut panjangnya.
“Tidak ada.”
Lagi-lagi jawaban sama ia dapatkan. Davian agak kecewa karena Alena tidak mau membicarakan masalah secara terbuka padanya. Ia suaminya. Apa yang membuat Alena ragu berbagi masalah dengannya? Sepertinya memang terjadi sesuatu yang membuatnya begitu syok. Davian menyesal karena tidak mengikuti Alena waktu itu. Ia hanya mendapati Alena mengusap airmatanya lalu mengajaknya pulang.
“Jika ada yang ingin kau ceritakan, aku siap mendengarnya. Mungkin aku bisa membantumu mencari solusinya,” Davian merayu Alena lagi agar mau membuka mulutnya. Alena menoleh padanya dengan mata yang sayu dan kosong.
“Satu-satunya orang yang bisa menjawab kegusaranku hanyalah Ayah,” Alena bangkit lalu membuka tirai jendela. Langit sudah gelap ketika dia mendongkakkan kepalanya menatap pekat hitam langit yang tak bertabur bintang.
Davian terkesiap mendengar perkataan yang diucapkan begitu lirih, membuatnya merasa iba karena sampai kapanpun Alena tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Ayahnya sudah beristirahat dengan tenang di alam baka. Ia menghela nafas berat lalu menghampiri Alena. Wajah putus asa istrinya seperti pisau yang menyayat hati.
“Sudah malam. Sekarang tidurlah,” Davian meraih pinggang Alena lembut lalu perlahan-lahan menggiringnya ke tempat tidur.
Setelah berbaring nyaman, Alena membenamkan wajahnya di dada hangat Davian, bergelung di dalam lingkaran tangan suaminya. Ia bersyukur karena dalam situasi seperti ini masih ia masih memiliki sosok hebat yang bisa menjadi tempatnya berlindung. Alena tak sanggup membayangkan betapa menyedihkan hidupnya jika ia belum menikah dengan Davian. Mungkin ia akan merasa sendiri, malang, dan tak berdaya.
“Aku tidak akan memaksamu bercerita. Untuk saat ini renungkanlah. Jika kau sudah siap untuk bercerita, saat itu aku ada untukmu,” lirih Davian dengan sebelah tangan mengusap lembut rambut Alena.
Alena begitu terharu atas pengertian Davian hingga tak bisa menjawab apapun. Tangannya yang semula pasif terhimpit di antara tubuhnya dan tubuh kekar Davian pelan-pelan merangkak naik melingkari lehernya.
“Terima kasih sudah memahamiku, Davian.” Balasnya berbisik. Alena mendongakkan kepalanya untuk menempelkan bibirnya di pipi Davian tetapi Davian yang paham tujuan istrinya lebih dulu meraup bibir mungil Alena.
Alena sempat terkejut karena bibir Davian bergerak melumatnya terlalu menggebu. Keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Detik berikutnya Alena ikut tenggelam dalam cumbuan manis yang diberikan Davian. Mereka saling melumat, sama-sama ingin mendominasi. Davian sadar titik gairahnya sudah tersentuh hingga ia tidak sanggup menahannya lagi. Menjelajahi mulut Alena rasanya belum cukup untuk meluapkan perasaan yang membuncah dalam dirinya. Tangannya mulai bergerak menyisiri punggung Alena dengan gerakan mengusap yang seduktif. Davian tahu tindakannya membuat pagutannya terlepas, Alena menjauhkan wajahnya sejenak untuk mendesah.
“Kau tahu, apa yang kupikirkan sekarang?” tanya Davian misterius.
“Tidak. Kau pikir aku cenayang?” ujar Alena berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas. Cara Davian menatapnya benar-benar membuatnya salah tingkah.
Davian sedikit membungkukkan badannya agar bisa berbisik di telinga Alena.
"Kita harus menyelesaikan apa yang tertunda sebelum pergi ke rumah sakit kemarin.”
Sepersekian detik setelahnya, sekujur tubuh Alena berdesir kencang dan wajahnya semakin memerah saja. Davian tak perlu mengucapkannya untuk membuat Alena paham hal apa yang mereka tunda sebelum akhirnya kalang kabut ke rumah sakit.
“So, may I..” Davian iseng bertanya padahal mereka sama-sama tahu saat ini tangan Davian sudah dengan cekatan menurunkan tali gaun tidur Alena.
“Aku bilang tidak pun kau tetap menginginkannya, kan?”
“Tepat sekali!”
Davian tidak membuang waktu untuk kembali menyatukan bibir mereka dalam cumbuan mesra. Kini tubuh kekar Davian sudah menutupi tubuh mungil Alena di bawahnya dan selama satu jam ke depan, mereka habiskan untuk saling memuja satu sama lain.
________
XOXO