
Hari-hari berikutnya kulalui dengan perasaan yang lebih ringan. Seolah tidak terjadi masalah apapun, baik aku maupun Davian sepakat tidak akan membahas lagi cerita tentang Ayahku dan Malvin. Kini aku kembali menikmati peranku sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan untuk suamiku yang sekarang mungkin sedang bersiap-siap pergi ke kantor.
“Alena, kau tidak perlu memaksakan diri membuat sarapan, sayang. Aku masih bisa membuat sarapan sendiri,” tubuhku tersentak kaget saat sepasang tangan tiba-tiba saja melingkari pinggangku ketika aku sedang menyiapkan sarapan untuknya. Terpaksa kuletakkan kembali waffle yang baru saja kukeluarkan dari alat pemanggang.
“Ini tugasku, tidak perlu merasa sungkan.”
“Tapi kau tidak lupa bukan sekarang kau tidak hidup seorang diri lagi. Kau tidak boleh terlalu lelah, kau harus memikirkan anak kita juga,” tangan yang sedari tadi hanya memeluk perutku kini bergerak mengusapnya. Tanpa disadari pipiku memanas dengan sendirinya.
“Tentu saja aku tidak lupa, Tuan Fernandez,” ungkapku malu-malu. Sejujurnya aku tidak akan pernah terbiasa dengan sikap romantis suamiku. Dia selalu seperti ini semenjak dokter memberitahukan kehamilanku seminggu yang lalu. Perhatiannya bertambah dua kali lipat. Meskipun aku belum menunjukkan tanda-tanda menderita sindrom ‘mengidam’ seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, namun suamiku ini tetap setia memberikan apapun yang kubutuhkan walau aku tidak menyuarakan keinginanku, seperti sekarang ini.
Entah sejak kapan bibirnya yang seksi itu mendarat di tengkukku. Mengecup bagian yang terbuka itu dengan gerakan intens. Aku tidak menggerai rambutku karena akhir-akhir ini aku mudah sekali berkeringat, mungkin itu efek dari kehamilan di trimester pertama. Aku juga tidak bisa bekerja terlalu lama karena cepat lelah karena itu Davian melarangku pergi bekerja dan semua tugas kantor diambil alih olehnya.
Mataku terpejam menikmati cumbuannya. Bibirku mendesis mengeluarkan desahan halus, membuat geraman Davian terdengar sadar aku sudah berhasil membangkitkan hasratnya. Dia membalik tubuhku menghadapnya. Dengan mata tajam nan indah dia menatapku. Sejujurnya aku tidak sanggup balas menatapnya karena bagaimana pun, mata itu selalu berhasil membuat debaran jantungku meningkat drastis. Aku bahkan ragu mengapa aku masih bisa berdiri tegak dalam pelukannya setelah ditatap lurus olehnya.
“Ke-kenapa memandangku? Kau tidak takut terlambat pergi ke kantor?” aku sengaja mengalihkan pandanganku ke arah lain demi meredakan rusuh dalam hatiku. Mengapa dia hobi sekali membuatku gugup?
“Terlambat sesekali kurasa tidak masalah,” gumamnya dengan pandangan turun ke bibiriku. Refleks aku membasahi bibirku yang mengering, tahu dia mengincarnya sejak tadi. Entah apa alasannya aku melakukan itu tapi Davian sepertinya paham tindakanku tadi seperti sinyal untuknya menciumku. Oh, Alena, bagaimana bisa kau bertindak sevulgar itu di hadapan suamimu yang akan pergi bekerja? Dia masih harus sarapan dan melakukan hal lain yang lebih penting.
“Terlambat bukanlah kebiasaan Davian Fernandez yang kukenal,” Davian memutar bola matanya, dengan senyum memukau yang dulu—hingga sekarang membuatku terpesona dia kembali berkata,
Mataku melebar dan aku belum sempat menjawab apa-apa ketika kurasakan bibir lembut Davian menempel di bibirku. Aku agak kewalahan meladeni cara berciumannya yang sedikit liar pagi ini. Bibirku di ***** tanpa ampun seolah dia takut aku akan pergi jika tidak melakukannya. Diam-diam aku tersenyum karena Davian tahu dengan tepat aku menginginkan ini. Aku tidak tahu mengapa, namun semenjak mengandung aku tidak bisa menjadi wanita agresif untuk suamiku sendiri. Selalu Davian yang menciumku atau memelukku lebih dulu. Aku sangat bersyukur dia selalu paham apa yang kumau tanpa aku harus mengatakannya.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya dahulu aku menolak menikah denganmu,” gumamku membuat Daviann terpaksa menyudahi ciuman romantisnya.
“Bersyukurlah karena itu tidak terjadi.” tepat setelah mengatakannya, Davian kembali menciumku. Kali ini aku memeluk erat lehernya untuk menopang diri meskipun yakin Davian tidak akan membiarkanku terdesak jatuh.
“Aku Mencintaimu,” bisiknya.
“Aku juga mencintaimu,” balasku.
Ya, mungkin inilah balasan yang kudapat karena mau menuruti apa yang diinginkan oleh orang tuaku. Aku tahu, Ayah tidak mungkin membiarkan anaknya menderita. Semua yang Ayah lakukan bertujuan untuk membahagiakanku.
Ayah, jika kau mendengar suara hatiku. Kuharap kau berbahagia di dunia sana. Jangan cemaskan aku, Malvin, ataupun Ibu. Kami hidup bahagia di sini.
***
XOXO