I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#55



“Kandungan istri Anda dalam kondisi sehat, Tuan. Kusarankan agar lebih memperbanyak asupan vitamin dan sering-seringlah berolahraga ringan.”


Davian dan Alena mendesah lega mendengar penuturan dari dokter mengenai kondisi calon anak mereka. Alena mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang lalu melemparkan senyum pada suaminya. Davian membalas senyum itu dengan senyuman yang tak kalah indah. Mereka berpamitan dengan dokter lalu bergegas pulang.


“Sudah kubilang. Anak kita bukanlah anak yang rewel. Dia tumbuh dengan sehat, bukan?”


“Kau terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Aku hanya mencemaskanmu dan anak kita saja,” balas Davian sambil mencubit pipi Alena. Istrinya itu hanya mengerucutkan bibir, membuat Davian terkekeh pelan lalu kembali fokus pada jalan yang sedang dilaluinya.


“Yakin kau tidak ingin pulang?” lanjut Davian karena mereka sekarang dalam perjalanan menuju kantor perusahaan milik keluarga Alena.


“Ada yang ingin disampaikan oleh Ibu di sana. Mungkin ini berkaitan dengan masa depan perusahaan.”


“Kenapa? Bukankah sudah kukatakan aku yang akan mengambil alih perusahaanmu?” Alena menghembuskan napas pelan lalu menoleh,


“Kau bukan manusia super, Davian. Menghandel dua perusahaan besar tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Aku tidak mau kau terlalu kelelahan.”


“Lalu apa yang akan ibumu lakukan? Mengambil alihnya? Itu tidak mungkin Alena, ibu tidak akan sanggup. Dan kau, aku tidak akan mengizinkanmu mengurus perusahaan besar itu selama kau hamil,” tegas Davian, tak bersedia menerima bantahan. Alena  menaikkan alisnya sebelah. Astaga, sejak kapan suaminya menjadi possessif seperti ini? Untuk menenangkan Davian, Alena mengeluarkan senyum manisnya.


“Baiklah, terima kasih.”


Senyum renyah istrinya justru membuat Davian salah tingkah. Ia hampir saja membuat mobil yang dikemudikannya menabrak trotoar jika saja Alena tidak segera berteriak panik.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di kantor perusahaan milik keluarga Alena. Di sana mereka bertemu dengan Ibu dan seorang pria yang Alena tahu adalah pengacara pribadi mendiang Ayahnya. Urusan apa yang membuatnya berada di sini?


“Ada apa sebenarnya, Ibu?” tanya Alena setelah duduk di sofa di hadapan ibunya. Davian ikut duduk di sampingnya. Ia ikut menatap ibu mertuanya itu dengan raut tenang.


“Ibu tidak yakin, sebaiknya biarkan Pengacara yang menjelaskan semuanya,” jelas Ibu sambil melirik pria yang sejak tadi menjadi pusat rasa penasaran Alena. Pengacara paham lantas berdehem agar semua fokus perhatian tertuju padanya. Benar, detik berikutnya suasana di ruangan itu hening karena semua mata memandangnya serius.


“Wasiat?” ulang Ibu dengan wajah tercengang sementara Alena memandang suaminya khawatir. Kira-kira apa yang ditulis mendiang Ayahnya dalam surat wasiat yang dipegang Pengacara? Apakah itu berhubungan dengan harta warisan?


“Aku tidak tahu suamiku membuat surat wasiat,” sela Ibu sebelum Pengacara melanjutkan penjelasannya.


“Beliau mengunjungiku satu bulan tepat sebelum beliau dirawat di rumah sakit. Sepertinya beliau sudah memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan berkenaan dengan hidupnya karena itu beliau memintaku mengesahkan surat wasiat yang sudah dibuatnya sebelum berkunjung,” ia berhenti sejenak untuk mengeluarkan sebuah surat beramplop resmi dari dalam tasnya lalu kembali menatap Ibu, Alena, serta Davian.


“Bisakah saya membacakannya sekarang?”


“Tentu,” ucap Ibu cepat. Ia sudah tidak sabar ingin segera tahu apa isi dari surat wasiat itu.


Bagian awal surat yang dibaca Pengacara seputar permintaan maaf Ayah pada dirinya dan ibunya serta permintaan untuk bahagia dan saling menjaga meskipun dia sudah tidak ada. Alena masih bisa memakluminya. Entah kenapa ia merasa begitu tersentuh seolah Sang Ayah sendiri yang mengatakan hal itu kepadanya. Davian dengan sigap menggenggam tangannya sadar Alena mulai menunjukkan raut sedih demi memberinya kekuatan.


Tetapi saat Pengacara mulai membacakan isi surat selanjutnya, perlahan-lahan ketegangan muncul di wajah Ibu dan Alena hingga akhirnya mereka berubah histeris.


“Apa Anda tidak bercanda, Tuan?” ujar Ibu tercengang. Ia menatap lekat pria kepercayaan almarhum suaminya itu, menuntut jawaban yang sejujur-jujurnya.


“Bagaimana bisa suamiku menyerahkan perusahaan ini pada Malvin?”


“Ya, tidak diragukan. Jika boleh tahu, siapa sebenarnya Malvin di sini? Tuan David enggan memberitahu Saya ketika beliau menyerahkan surat wasiat ini.”


***


XOXO