I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#14



“Akh..” Davian merintih keras.


“Maaf,” Alena tersentak kaget. Ia mungkin tadi salah mengurut bagian yang terkilir. Setelahnya, ia segera membebat tangan kiri Davian hingga siku.


“Kau terlihat mahir melakukannya,” gumam Davian lemah. Alena tersenyum hangat sambil merapikan alat-alat yang tadi ia gunakan ke dalam kotak.


“Saat SMA dulu, aku pernah ingin menjadi seorang perawat. Tapi semenjak Ayh jatuh sakit aku sadar bahwa ada satu hal yang lebih penting dibandingkan menjadi seorang perawat.”


“Apa itu? menjadi dokter?” So Eun menggeleng,


“Aku harus meneruskan bisnis Ayah. Aku tahu selama dua puluh tahun Ayah sudah bekerja keras membangun perusahaannya hingga sebesar sekarang. Ayah pasti ingin sekali perusahaan diteruskan oleh anaknya. Jika aku tetap egois pada cita-citaku, lantas pada siapa Ayah menggantungkan harapannya?”


Jawaban Alena membuat Davian tertegun. Dari setiap kata yang mengalir dari mulut gadis itu mampu menyadarkannya bahwa selama ini, tak ada satupun yang pernah ia lakukan untuk kedua orang tuanya. Alena begitu mencintai kedua orangtuanya sampai mengesampingkan seluruh impiannya demi mereka. Dia, sangat berbeda. Seulas senyum tanpa ia sadari terbit di bibirnya. Aneh, Davian mendapati dirinya gembira untuk hal yang tidak jelas.


“Alena.” lirih Davian.


“Ya?” dengan polosnya Alena menoleh.


Chup~


Alena merasa otaknya mati rasa ketika sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Sayangnya momen itu berlangsung begitu cepat bahkan Alena belum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Davian sudah menjauhkan wajahnya. Untuk pertama kalinya, Davian tersenyum lembut padanya.


Deg~


Alena mendapati jantungnya hampir saja jatuh. Ia terus meyakinkan diri bahwa yang baru saja dilihatnya bukanlah fatamorgana. Davian tersenyum padanya. Haruskah ia menampar diri sendiri untuk membenarkannya?


“Terimakasih,” bisik Davian. Sebelum Alena tersadar dari keterkejutannya, Davian bangkit lalu mengulurkan tangannya.


“Ayo kita pulang.”


“Hah?” Alena masih tercengang di tempatnya. Dengan linglung, ia mendongakkan kepala menatap Davian lalu telapak tangannya yang terulur ke arahnya.


“Sudah larut, sebaiknya kita pulang,” ulang Davian. Alena kali ini sadar sepenuhnya. Dengan ragu, ia meraih tangan Davian lalu bangkit. Ia mengikuti Davian yang berjalan lebih dulu ke arah mobilnya dengan pikiran penuh tanda tanya.


“Kau berniat kabur dariku?” Suara Davian kembali menarik Alena ke dunia.


Kepalanya berputar ke arah Davian yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Ia mengikuti arah pandang Davian ke kursi belakang mobilnya. Di sana tergeletak kopernya. Ia baru saja tersadar. Bukankah ia memang berniat pergi dari rumah tadi?


“Eh, itu…” Alena tergagap.


“Kau harus mengantarku pulang,” potong Davian tegas. Jiwa diktatornya kembali kambuh. Tanpa berucap lagi, Davian membuka pintu mobil Alena lalu duduk di kursi sebelah kemudi. Alena hanya bisa membuka mulut tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Pria egois ini, geramnya dalam hati.


Anehnya, meskipun menggeram ia justru merasa dirinya gembira. Ia merasa tidak ada lagi jarak yang menghalangi dirinya dengan Davian. Apakah ini artinya, ia masih bisa mempertahankan pernikahan?


•••


Setibanya di depan apartement mereka, Alena segera meminta Davian agar beristirahat.


“Kau mau kemana lagi?” Davian bertanya sesaat setelah Alena menyelimutinya yang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur.


“Aku harus tidur.”


“Di sini saja. Jangan kemana-mana,” titah Davian dengan nada tinggi. Alena tersentak kaget.


“Tidur di sini? Bersamamu?” tanyanya tergagap.


“Kau pikir? Ayo naik. Tempat tidurku masih luas.”


“Tapi, kenapa tiba-tiba…” Alena hanya merasa heran dengan perubahan mendadak sikap Davian. Semenjak pindah, Davian tidak pernah mengizinkannya tidur di tempat tidurnya. Malam ini, mendadak saja Davian memintanya tidur dalam satu ranjang? Apa sesuatu telah terjadi? Ataukah kepala Davian sempat terbentur begitu keras dan membuatnya bertingkah aneh seperti ini?


“Cepat, sebelum aku berubah pikiran! Aku hanya ingin kau ada saat aku membutuhkan bantuanmu. Kau tahu kan tanganku terluka!” seru Davian tak sabar sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.


Oh, jadi begitu. Jika menginginkan sesuatu, Davian tidak perlu berteriak memanggilnya. Bisa dibilang dia kini menjadi pembantu, perawat, dan bodyguard untuk Davian.


“Baiklah,” dengan ragu Alena naik dan menempati ruang kosong di samping Davian. Ranjangnya memang cukup luas meskipun di tempati oleh dua orang, dan nyaman. Alena merasa bisa langsung terlelap dengan hanya menempelkan kepalanya di bantal.