I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#74



Dua minggu kemudian, Alena diizinkan kembali ke rumah setelah Dokter menyatakan keadaannya sudah prima seperti sedia kala. Alangkah gembiranya Alena dan dia tidak sabar untuk melihat apartemen mereka kembali.


“Ah, aku merindukan tempat tidur nyamanku.” Seru Alena ketika mereka dalam perjalanan pulang.


“Kau boleh tidur sesukamu.” Sahut Davian. Sesuai janji, setelah kandungan Alena menginjak delapan bulan ia mengambil cuti agar bisa menemani istrinya karena sekarang adalah masa-masa paling rentan bagi Alena. Tidak lama lagi dia akan menjalani persalinan.


“Loh, kita akan kemana?”


Aneh sekali, Alena jelas hafal jalan menuju apartemen mereka tetapi jalan yang sekarang sedang diambil Davian jelas tidak mengarah ke sana.


“Kita akan kemana?”


Bukannya menjawab Davian justru tersenyum misterius, “Kau akan tahu nanti.”


Alena mengerutkan kening dan dia memilih diam sambil menebak-nebak akhir dari perjalanan ini.


Hal yang didapatkan Alena selanjutnya adalah kejutan paling tidak disangka seumur hidupnya. Siapa yang mengira bahwa hari ini mereka akan pindah ke sebuah rumah mungil yang tidak jauh dari rumah ibunya sendiri.


Alena memandang suaminya dengan mata berkabut.


“Davian, kapan kau menyiapkan ini..?” lirihnya menahan tangis. Ia tak henti-hentinya menatapi rumah sederhana yang kini dipijakinya.


“Aku tidak bisa membiarkanmu tetap tinggal di tempat yang penuh kenangan buruk itu dan aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru. Bagaimana? Apa kau suka?”


“Ini lebih dari yang kubayangkan.” Seru Alena gembira.


Ya. Rumah ini memang tidak mewah, tetapi ia sangat menyukai arsitekturnya yang minimalis dan sesuai untuk keluarga kecil. Segala perabotan terbuat dari kayu dan tampak tradisional. Bahkan Alena menyukai lantai kayunya yang mengkilat dan dinding berwarna putih bersih. Ia lebih takjub ketika melihat kamar bercat hijau lengkap dengan tempat tidur bayi dan segala pernak-pernik bayi lainnya. Itu kamar calon anak mereka.


“Davian,,” Alena akhirnya menangis melihat semua itu. Ia lantas memeluk Davian. Berkali-kali mengucapkan terima kasih pada suami tercintanya itu.


“Untukmu dan bayi kita, apapun akan kulakukan..” bisik Davian, membalas pelukannya. Mereka tenggelam dalam suasana intim itu untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba Davian teringat sesuatu,


Davian memperlihatkan kamar tidur berukuran lebih besar dari kamar bayi tadi, di dominasi oleh warna kuning, cokelat dan merah kental dengan nuansa klasik karena dindingnya dilapisi oleh wallpaper bercorak indah. Suasana sensual sangat terasa. Alena merasa hatinya berdesir ketika ia melihat tempat tidur yang tampak nyaman. Bed covernya yang berwarna merah marun tampak paling mencolok. Mereka akan tidur di sana. Ya ampun, Mereka akan tidur di sana..


“Kenapa pipimu tiba-tiba memerah?” Davian menahan senyumnya melihat pipi istrinya merona, entah apa yang dipikirkannya.


“Davian...” Alena malu-malu menoleh.


“Apa?”


“Em..” Alena mengikis jarak di antara mereka, lalu dengan manja meletakkan tangannya yang tidak terluka di dada Davian. Pria itu mengerjapkan mata ketika Alena dengan sengaja menggodanya.


“Apa maumu sebenarnya, Nyonya Fernandez?” desahnya tergoda. Ia mendadak bergairah karena Alena terus-menerus mengusapi dadanya.


Alena sebenarnya malu, tetapi ia merasakan ledakan perasaan yang sama seperti Davian. Dengan senyum misterius ia menarik kerah Davian ke bawah agar pria itu membungkuk ke arahnya.


“Bagaimana kalau kita mencoba tidur di sana?”


“Hah?” Davian melebarkan mata. Kata-kata itu membuat jantungnya bertalu cepat. Ia menatap istrinya penuh harap,


“Kau serius? Anak kita..”


“Dokter mengatakan tidak apa-apa..” balasnya membuat napas Davian semakin memburu.


Sungguh, sudah lama mereka tidak bersenang-senang dan Davian amat merindukannya. Ia mencoba menahan diri untuk tidak memaksa Alena mengingat dia baru saja keluar dari rumah sakit tetapi siapa yang menyangka justru Alena-lah yang mengajaknya lebih dulu. Tentu saja, ia dengan senang hati menyambutnya. Matanya langsung berkilat oleh gairah.


“Kau akan menyesal sudah memintaku,” desah Davian lalu mengangkat tubuh Alena dengan ringannya lalu membawanya ke tempat tidur nyaman mereka.


***


XOXO