I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#49



David melebarkan mata sedetik setelah mendengarnya. Nia yakin David mengira dirinya gila dan terlalu mengada-ngada namun ia tidak peduli. Ia ingin sekali dicintai, setiap wanita pasti mendambakan dicintai oleh pria yang dikasihinya.


David masih merenung. Percuma ia mengharapkan Sarah karena gadis itu sudah menikah dan memiliki anak, ia mendengar hal itu dari salah satu temannya. Mungkin sudah saatnya ia belajar mencintai gadis yang sudah setia menemaninya selama lebih dari satu tahun ini. Ia menatap Nia lekat-lekat.


“Perlu waktu untuk belajar mencintai gadis lain,” David berkata pelan dengan mata mereka yang saling menatap satu sama lain.


“Aku siap menunggu,” balas Nia lembut. David begitu takjub dengan cara Nia mengucapkannya. Sorot matanya, bahkan senyumnya membuat David terhipnotis. Nia terkesiap sadar secara perlahan David mendekatkan wajahnya. Ia tidak beranjak sama sekali justru matanya mulai menutup menyambut bibir pria itu pelan-pelan mendarat di bibirnya. Hatinya ikut tergerak dan rasa bahagia membuncah. Ini adalah ciuman pertamanya. Nia membiarkan David menciumnya begitu dalam karena ia sudah lama mendambakan hal ini. Bahkan di saat keromantisan itu mengarah pada sesuatu yang lebih intim, Nia menerimanya dengan perasaan bahagia. Siapa yang disangka malam itu akan menjadi malam pengantinnya.


•••


Senyum Nia semakin mengembang seiring dengan membaiknya hubungan antara dirinya dan David. Pria itu perlahan-lahan membuka hatinya semenjak mereka terbangun di ranjang yang sama tanpa sehelai benang pun pagi itu. Nia pun tidak akan melupakan rasa bahagia ketika ia membuka mata pagi itu, ia melihat wajah tampan David berbaring di sampingnya. Mengingat apa yang terjadi di antara mereka semalam, pipi Nia memerah dengan sendirinya. Kabar tentang Sarah pun tidak di sebut lagi dan kehidupan pernikahannya semakin sempurna ketika dokter mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung. Berita itu santer dimuat di koran-koran lokal karena bagaimanapun keluarga mereka berdua adalah keluarga terkenal.


Nia kira David akan menolak kehamilannya, siapa yang menyangka pria itu tersenyum dan memeluknya saat ia memberitahukan bahwa dirinya sedang mengandung anaknya. David semakin memberikan perhatian ekstra pada Nia selama sembilan bulan kehamilannya dan ketika anak mereka lahir di suatu hari di musim semi, betapa bahagianya Nia karena saat itu untuk pertama kalinya ia melihat wajah gembira David, benar-benar gembira. Bahkan airmata haru sampai menitik di sudut matanya.


“Dia sangat cantik bukan?” Nia hanya bisa menatap suaminya yang terus menimang bayi yang baru dilahirkannya beberapa jam lalu dengan bibir tersenyum. David menoleh padanya, lalu mengecup keningnya dalam. Nia bisa merasakan kasih sayang dari ciuman itu.


“Aku mencintaimu, Nia. Terima kasih sudah memberiku putri secantik ini.”


Betapa terharunya Nia mendengarnya. Haruskah ia menunggu sampai selama ini hanya untuk mendengar kalimat ‘aku mencintaimu’ dari mulut suaminya?


“Aku juga mencintaimu..”


Dahulu mungkin ia tidak akan sudi menyatakan cinta pada gadis selain Sarah. Namun sekarang, demi apapun setelah melihat sendiri anaknya, semua rasa bimbang, benci, dan frustasi yang selama ini mengekang hatinya lenyap seketika. Ia sekarang merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa menjadi seorang ayah. Bayi ini adalah anugerah terindah untuknya dan istrinya.


“Apa nama yang pantas untuk anak kita?” David bertanya pada isterinya. Nia mengecup kening bayi yang tengah ditimangnya sebelum menjawab dengan mantap.


“Alena Kezia. Kurasa itu nama yang sempurna.”


David mengerjapkan mata. Alena Kezia? Entah ini hanya perasaannya saja atau Nia memang sengaja memberi nama anak mereka dengan perpaduan yang sangat tepat.


*Flash back End*


________


XOXO