
Kehidupan pernikahannya menjadi lebih bahagia saat menjelang detik-detik menanti kelahiran bayi mereka.
Pagi itu, ketika Alena sedang menyiapkan sarapan dan Davian sedang berkonsentrasi membaca korannya, tiba-tiba saja Alena merasakan kontraksi yang luar biasa. Davian terperanjat bangun melihat istrinya merintih kesakitan sambil memegangi perut.
Dengan panik ia menelepon ibu dan ibu mertuanya. Ia segera membawa Alena ke rumah sakit karena ia yakin istrinya itu akan melahirkan.
“Aku takut sekali, Davian..bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya..”
“Ssst..kau pasti bisa..Kau ibu yang kuat.”
Davian terus memberikan dukungan untuk Alena yang pucat, kelelahan, dan bersimbah keringat di ruang bersalin itu. Beberapa kali terjadi kontraksi tetapi sang bayi belum menunjukkan tanda-tanda ingin keluar juga. Tangannya sudah habis dicengkeram oleh Alena untuk mengalihkan kesakitannya saat kontraksi terjadi. Ia cemas, bingung, dan tidak tahu harus melakuan apa demi menolong istrinya. Ia hanya bisa mengelus perut Alena dengan lembut.
“Kau anak yang pintar, lekaslah lahir dan jangan buat ibumu kesakitan terlalu lama.”
Tepat setelah Davian mengatakannya, Alena kembali mencengkram erat tangannya sambil menjerit karena kontraksi kembali terjadi. Davian bergetar, tidak tega melihat perjuangan Alena melahirkan anak mereka. Dirasakan dari betapa erat pegangan Alena, ia tidak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya. Ia terus berdoa sambil tak henti-hentinya menyeka keringat di kening Alena.
Dan ketika penderitaan itu berakhir bersamaan dengan suara tangis bayi yang terdengar memenuhi ruangan, betapa leganya Davian. Ia mendesah lega, segera mencium seluruh wajah istrinya.
“Kau berhasil melahirkannya, Sayang.. anak kita sudah lahir..” bisiknya. Alena tersenyum dengan sorot mata bahagia.
“Selamat Tuan, bayi yang lahir laki-laki.”
Suster menyerahkan bayi yang sudah terselubung kain hangat pada mereka. Alena menerimanya dengan mata berkaca-kaca dan mereka menangis terharu ketika melihat bayi itu menggeliat dalam timangannya.
“Dia tampan, sepertimu.” Alena tidak tahu harus berkata apa, atau memakai kata apa untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Semua kesakitan yang ia rasakan beberapa saat yang lalu sepertinya sudah lenyap setelah melihat bayinya lahir dengan sempurna. Ia ingin menangis, sungguh, tetapi jika ia menangis ia tidak bisa melihat anaknya dengan jelas.
“Kau sudah melahirkan malaikat setampan ini, terima kasih sayang..” Davian menyentuh pipi anaknya yang langsung menggeliat merespon sentuhannya. Ia terkekeh bahagia.
***
“Davian, bantu aku buatkan susu Ezra,”
“Dimana kau letakkan botol susunya?”
“Di nakas samping lemari pendingin,”
Davian bergegas membuat susu untuk putra kecilnya yang kini sudah berusia satu tahun. Padahal ia sedang asyik berselancar di alam mimpi tetapi melihat Alena sibuk mengurus rumah sekaligus si kecil, terpaksa ia menunda acara tidurnya.
Semenjak Ayahnya pensiun dan menyerahkan urusan perusahaan padanya, Davian tak pernah pulang kurang dari jam 8 malam. Ia sangat lelah, tetapi saat melihat istri dan anaknya ia tidak bisa mengeluh sama sekali. Ia menghabiskan sisa malamnya bermain bersama anaknya hingga putranya itu tertidur. Karena itu di hari Minggu seperti sekarang ia ingin sekali tidur lebih lama. Tetapi Davian tidak keberatan tidur nyenyaknya terganggu selama itu berhubungan dengan istri dan anaknya.
“Sayang, ini susunya.” Sambil menguap Davian menyerahkan botol susu itu pada Alena yang sudah selesai mengganti popok Ezra.
Keduanya sepakat memberi nama Ezra untuk putra kecil mereka untuk mengingatkan mereka pada sang kakek.
Davian duduk di samping istrinya, dengan gembira mengamati Alena yang menimang-nimang Ezra sambil bersenandung kecil.
“Kau boleh tidur lagi, maaf sudah membangunkanmu,” Alena tersenyum setelah menidurkan Ezra yang sudah kekenyangan di tempat tidurnya. Davian mengerucutkan bibir,
“Bagaimana bisa aku tidur lagi setelah terjaga sepenuhnya seperti ini.” ia memeluk Alena, bermanja-manja dengan kepala bersandar di pundaknya.
***
XOXO