
Wajah sedih Alena membuat hati Malvin tersayat-sayat. Bukan ekspresi ini yang ingin ia lihat saat bertemu dengannya lagi. Malvin selalu berangan-angan akan mendapati Alena tertawa cerah meskipun pada kenyataanya senyum indah itu akan membuatnya dua kali lipat lebih sakit. Setidaknya ia yakin merelakan tangan Alena diapit pria lain adalah keputusan tepat. Tangannya terulur menggenggam tangan Alena. Gadis itu tersentak kaget dan secara naluriah ia mencoba menarik tangannya. Namun Malvin menahan tangan Alena agar tetap dalam genggamannya.
“Jika kau tidak bahagia bersamanya, mengapa kau masih mempertahankan pernikahan sia-sia seperti ini? Kau hanya menyiksa dirimu sendiri.” lirih Malvin dalam.
“Lihat, kau lebih kurus dari yang terakhir kali aku lihat.” ia memandangi pipi Alena yang tak se-chubby biasanya lagi dengan hati terkoyak perih.
“Ya, kau memang benar.” Alena mulai berkata. Matanya menatap Malvin lurus.
“Menikah dengan Davian Fernandez adalah amanat dari Ayah dan setelah dia pergi, tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap bersama suamiku. Beberapa bulan tinggal bersamanya hanya membuat diriku tersiksa. Kenyataan bahwa Davian tidak mencintaiku menjadikanku seperti wanita bodoh yang terjebak dalam ruangan berisi gas beracun. Perlahan-lahan aku pasti mati karena tidak bisa bernafas,” matanya berkaca-kaca dan itu membuat Malvin bungkam seribu bahasa.
Topik ini tak pernah ia duga sebelumnya. Ia tidak menyangka akan mendengar isi hati sesungguhnya dari seorang Alena. Malvin baru membuka mulut ketika suara lirih Alena kembali terdengar.
“Tetapi, ada satu hal yang tak pernah kuduga sedikitpun. Hal itu terjadi di saat aku berada dalam situasi yang membuatku tak sanggup hidup lagi,” Alena terdiam demi mengontrol nada suaranya yang mulai bergetar, sama seperti emosinya. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
“Aku mendapati diriku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta pada Davian. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?” dua bulir airmata jatuh, mengalir dengan lancar membasahi pipinya, membuat pria yang duduk di seberangnya itu melebarkan mata dan mencengkram erat ujung jasnya.
“Meskipun aku tahu diriku menderita hidup bersamanya, namun hatiku…hatiku gembira mendapati dirinya masih berdiri di sampingku. Mengetahui diriku masih bisa melihat wajahnya saat membuka mata, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Jika sudah begini, apa aku harus meninggalkannya? Meninggalkan suami yang sudah menjadi nafasku?” Malvin kali ini benar-benar terkejut oleh pengakuan Alena. Pernyataan yang tak pernah diduga sama sekali. Alena mencintai Davian..
"Alena...”
“Apa yang kau lakukan pada istriku?” ucapan Malvin terpotong oleh suara tajam dari arah belakang mereka. Malvin mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Davian berdiri dengan angkuh di hadapannya. Pria itu berjalan dengan langkah tegas mendekati meja mereka. Tatapan tajamnya ia layangkan pada Malvin. Ini kali pertamanya ia bertemu dengan pria masa lalu istrinya. Tak ada kata yang ingin ia katakan pada pria ini karena itu pandangannya kini ia alihkan pada Alena yang menunduk, takut menatap wajahnya.
“Jadi ini yang membuatku menunggu berkas darimu cukup lama? Pria brengsek ini menahanmu rupanya,” ujar Davian dengan nada menyindir. Ia berharap Alena mengangkat wajahnya karena Davian sungguh ingin melihat ekspresinya.
“Pria breng-“ Malvin menggeram dan menahan diri untuk tidak membalas sindiran tajam Davian.
“Maaf jika kau pikir bisa membawa istriku pergi dariku dengan mudah karena pikiran itu salah besar. Permisi,” Davian menarik tangan Alena pergi dari kafe itu. Meninggalkan Malvin yang terperangah dengan tindakan Davian. Tak ada yang bisa dilakukannya. Dirinya hanya mampu melihat kejadian itu dengan hati terluka.
________
XOXO