
Davian membuat keributan begitu tiba di rumah sakit. Ia berteriak membabi buta, meminta semua dokter dan perawat di sana agar menolong istrinya.
Alena segera dibawa ke ruang IGD dan operasi pun dilaksanakan. Orang tua mereka tiba ketika operasi masih berlangsung. Ibu Alena menangis histeris dan sempat pingsan beberapa kali saat melihat kondisi pakaian Davian yang penuh darah karena tidak kuasa membayangkan bagaimana kondisi putrinya di dalam sana. Malvin muncul beberapa saat kemudian. Ia membantu suster menenangkan Ibu.
Kumohon, bertahanlah sayang. Aku masih membutuhkanmu di sini. Kau harus tetap hidup, jangan pergi dan membawa anak kita ikut bersamamu.
Davian terus berdoa. Ia duduk di sudut kursi sendirian, ia bahkan tidak ingat untuk mengganti baju atau sekedar mencuci tangannya yang masih bernoda darah. Ia hanya memikirkan keselamatan istri dan bayi yang dikandungnya. Sebagai seorang suami ia merasa tidak berguna. Ia menyesal kenapa tidak bertindak cekatan. Seharusnya ia menanggapi firasatnya lebih cepat. Seharusnya ia menyuruh Alena tinggal bersama ibunya selama ia bekerja. Ah, tidak, sejak awal semua salahnya karena tidak menjaga Alena.
Davian yang masih terbayang pemandangan buruk saat Alena tergeletak di lantai. Ia trauma, dan merasa begitu ngeri sekaligus ketakutan setiap kali bayangan kelam itu terlintas di benaknya. Ia lekas menggelengkan kepala sebelum ia berteriak histeris dan kehilangan akalnya.
Tidak ada seorang pun yang berani bersuara selama dokter belum keluar dari ruang operasi dan memberi mereka kabar gembira. Kecanggungan menggantung di udara.Kegelisahan yang membuat tenggorokan terasa tercekat. Ibu Davian bahkan sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Ia mulai terisak, teringat kondisi menantunya yang sedang mengandung.
Davian sudah sepuluh kali melirik jam tangannya dengan gelisah. Ia bahkan sampai menonaktifkan ponselnya yang terus berdering karena Davian tak kunjung kembali ke kantor. Ia tidak akan pernah beranjak sebelum ia memastikan Alena baik-baik saja. Perasaannya kacau balau, dan ia lupa kapan terakhir kali ia merasakan kegelisahan yang menyiksa seperti ini.
Akhirnya lampu ruang operasi pun mati, semua orang meloncat dari tempat duduknya dan mendekat begitu pintu terbuka. Dokter dan beberapa asistennya yang keluar disambut oleh wajah penasaran dan cemas keluarga pasiennya.
“Bagaimana keadaan istriku?”
“Apakah menantuku baik-baik saja?”
“Lukanya tidak parah bukan?”
Dokter hanya menghela napas lalu membuka maskernya menanggapi pertanyaan yang menyerbu di saat yang bersamaan. Ia meminta mereka berhenti. Kediamannya membuat Davian dan yang lainnya terdiam dengan perasaan was-was. Lalu secara melegakan dokter itu tersenyum.
Seketika setelah dokter selesai dengan penjelasannya, udara menjadi lebih ringan karena semua orang mendesah lega. Davian benar-benar ingin menangis dan memeluk istrinya tetapi yang terjadi seluruh tubuhnya melemas dan ia menyandarkan tubuhnya ke tembok agar tidak jatuh.
Alena, syukurlah kau baik-baik saja. aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku seadainya dokter itu keluar membawa kabar buruk.
Setitik airmata jatuh di sudut mata Davian, airmata penuh rasa syukur.
***
Seusai menjalani operasi, Alena dipindahkan ke ruangan rawat biasa. Meskipun dokter sudah mengatakan kondisinya baik-baik saja, Davian tetap merasa cemas. Ia terus terkurung dalam kekhawatiran yang membuatnya sulit memejamkan mata, tidak berselera makan, dan tidak bergairah menjalani hidupnya.
Wajah pucat Alena yang masih tertidur seperti putri menjadi penyebab utama mendung di wajah Davian. Ia sudah beberapa kali bertanya pada dokter kapan istrinya itu siuman namun dokter tetap memberikan jawaban yang sama.
“Sayang,” Davian memandang sendu istrinya. Menyentuh pipi Alena dengan ujung jarinya, begitu hati-hati seolah itu adalah benda rapuh yang mudah retak. Ia tidak pernah beranjak dari tempatnya. Terus memantau keadaan Alena berharap terjadi keajaiban. Alena tersadar dan hilanglah segala kegelisahannya.
“Cepatlah sadar, aku sangat merindukanmu..” menyadari suara yang keluar dari tenggorokannya begitu serak, Davian bersusah payah bertahan agar tidak menangis. Ia tidak kuat, ia tidak tega melihat Alena seperti ini. Ia terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Alena. Jika ia tidak membiarkan Alena sendirian di rumah, musibah ini tidak akan terjadi. Semua itu salahnya.
***
XOXO