
Ibu masih dengan hati terkejutnya memandang putri semata wayangnya, yang terlihat begitu kosong—seolah nyawa baru terlepas dari tubunya. Jelas Alena pun terkejut atas pemberitahuan ini. Ia bimbang apakah ia harus berkata jujur atau tidak.
“Alangkah baiknya jika kita memberitahu fakta yang ada, Ibu,” ujar Davian tahu kegundahan ibu mertuanya. Berhubung Alena belum bisa menjawab maka ia yang menjawab pandangan bingung Ibu. Ia yakin Alena pasti mengharapkan hal yang sama. Tidak ada gunanya menyembunyikan fakta bahwa Malvin adalah anak David juga. Lagipula Pengacara tidak mungkin mengumbar kenyataan itu pada dunia.
Ibu mengangguk paham karena ia pun berpikiran sama. Ia menghela napas berat sebelum mengalihkan pandangan pada Pengacara kembali, “Malvin adalah anak laki-laki suamiku.”
Alena mengerjap sadar dari lamunannya mendengar Ibu mengatakan perihal Malvin pada Pengacara.
“Ibu,” lirihnya. Ia kira Ibunya akan merahasiakan hal ini rupanya tidak.
Pengacara sempat terkejut namun ia cukup professional untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Suamiku benar-benar menyerahkan keseluruhan perusahaan ini pada Malvin?” Ibu mengulang rasa penasarannya dengan bertanya.
“Jika Anda tidak percaya silakan dibaca surat ini. Ada tandatangan Tuan David sendiri dan surat ini tidak saya sentuh semenjak Tuan David memasang segel surat ini di amplop,” jelas Pengacara seraya menyerahkan lembar surat di tangannya serta amplop cokelat yang masih tersisa segel resmi di permukaannya.
Sementara ibunya sibuk membaca surat itu dengan wajah tidak percaya, Alena hanya terdiam di tempat duduknya. Ia rasa keputusan Ayahnya dalam surat wasiat itu sangat bijak. Ayahnya sering berkata bahwa seorang wanita tidak selayaknya sibuk bekerja di perusahaan, karena itu Ayahnya tidak pernah mengizinkannya ikut terjun dalam dunia bisnis secara langsung dan sekarang ia sadar mengapa pihak management perusahaan tidak menyerahkan kursi pimpinan secara resmi padanya—sebagai satu-satunya ahli waris yang mereka ketahui. Rupanya sejak awal Ayahnya memang berencana memberikan perusahaan ini untuk Mlvin—putranya. Alena sangat menghargai keputusan Ayahnya meskipun ia merasa sedikit tersinggung.
Setitik airmata menetes di sudut mata Ibu setelah ia membaca sendiri surat wasiat itu kata perkatanya. Ia yakin suaminya sudah memikirkan ini masak-masak sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerahkan perusahaan pada putra yang tidak bisa diakuinya. Ini adalah keputusan yang bijak. Ia memang sempat terpikir bagaimana jadinya jika perusahaan yang telah ditinggal suaminya itu dipimpin oleh putrinya. Alena memang cekatan dan pintar, namun bagaimana pun dia seorang wanita terlebih sekarang dia sedang mengandung. Tidak mungkin ia meminta anak menantunya mengurus dua perusahaan sekaligus. Cara yang paling tepat adalah menyerahkannya pada Malvin. Lagipula Malvin mewarisi segala sikap baik dan bijak suaminya. Malvin pasti bisa menjadi pemimpin yang bijaksana kelak.
“Aku tidak keberatan,” ucap Ibu sambil menyerahkan surat itu kembali pada Pengacara,
“Aku membiarkan perusahaan ini diserahkan pada Malvin.” suara Ibu kian tercekat, tampak jelas ia mati-matian menahan tangis.
“Ibu,” lirih Alena. Ia terkejut dengan keputusan ibunya yang tiba-tiba.
“Ibu bukannya tidak memikirkanmu, Nak. Tapi sepertinya Ibu paham mengapa Ayahmu menyuruhmu menikah dengan Daviab. Karena ia yakin suamimu bisa menjagamu di saat ia menyerahkan perusahaan pada putranya. Ayahmu sudah memutuskan ini sejak kehilangan Malvin dulu. Ibu yakin seandainya ia tidak bertemu Malvin sekarang pun, Ayahmu pasti akan mencari Malvin dan menyerahkan perusahaan ini padanya. Ibu harap kau mengerti.” Jelas Ibu dengan linangan airmata.
“Ibu, sungguh tidak apa-apa dengan keputusan ini?” tanyanya lagi.
“Ibu tampak tidak rela.”
“Ibu hanya tidak menyangka Ayahmu tidak meninggalkan apapun untukmu, bagaimana pun kau tetap darah dagingnya.”
“Ibu...”
“Anda jangan khawatir, Nyonya..” sela Pengacara.
“Tuan David hanya menyerahkan kursi pimpinan kepada Malvin. Selebihnya aset-aset yang lainnya tetap atas nama putri Anda, Alena. Anda sebaiknya baca baik-baik surat wasiat tersebut.”
Ibu segera membaca surat wasiat itu baik-baik dan mendesah lega. Pengacara benar, suaminya memang hanya menyerahkan pimpinan perusahaan kepada Malvin. Selebihnya tidak.
Alena tersenyum seraya merangkul ibunya, “Lihat, Ayah tetap menyayangi kita.”
“Lagipula sepertinya perusahaan ini memang harus dipimpin oleh seorang yang kompeten. Kurasa Malvin bisa melakukannya.” ujar Davian yang sejak tadi diam ikut berkata. Alena lantas menebarkan senyum bangga untuk suaminya itu.
“Lebih baik daripada kau yang harus menghandel perusahaan sebesar ini,” tambah Davian sambil berbisik.
***
XOXO