I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#2



Davian merasa seluruh tubuhnya remuk dan pikirannya berantakan. Sudah cukup ia dipusingkan oleh urusan kantor yang tak pernah habis sekarang permasalahan dalam hidupnya harus di tambah oleh recokan orangtuanya mengenai pernikahan. Otaknya bisa meledak karena terlalu banyak beban yang ditanggungnya.


Sebagai satu-satunya putra dalam keluarga Fernandez, ia harus mengemban tanggung jawab yang sangat berat dengan meneruskan perusahaan yang dikelola keluarganya dan hidupnya seakan-akan direnggut. Kebebasannya terambil dan sekarang kepatuhan apa lagi yang harus ditaatinya?


Menikah dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya hanya karena perjanjian para orangtua di masa lalu? What the—


“Jika kau keberatan biar aku saja yang menyetir, sayang..” suara lembut membuyarkan lamunan Davian. Ia mengerjap lalu menoleh sekilas ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Demi menenangkan, Davian memamerkan senyum manis andalannya.


“Tak apa. Aku tidak enak karena harus meminjam mobilmu untuk pulang..”


Jeane Vania, gadis dengan rambut bergelombang itu mendesah pelan. Ia tahu Davian sedang dalam masalah. Karena itu ia tidak bisa membiarkan Davian pulang seorang diri. Pria ini bisa saja menabrakkan mobilnya saat sedang kalut ataupun bingung.


“Apa rencana perjodohan itu tidak bisa dibatalkan?” akhirnya Jeane memutuskan untuk bertanya karena hatinya pun tidak tenang sejak Davian mengatakan tentang pernikahannya yang sudah dirancang sejak kecil itu.


Siwon mendesah berat. “Andaikan aku bisa. Namun kau tentu tahu seperti apa Orangtuaku.” Erangnya frustasi.


Selama ini Davian memang seringkali membuat kedua orangtuanya pusing dengan kelakuannya yang sulit sekali diatur. Namun ayahnya selalu memiliki cara untuk membuatnya patuh. Termasuk kali ini.


“Bukankah selama ini kau sudah cukup menjadi pemberontak? Apa salahnya jika kau menjadi pemberontak hingga akhir. Katakan yang sesungguhnya bahwa kau tidak menginginkan pernikahan ini. Sehingga kita..” Jeane menghentikan kalimatnya karena mendadak hatinya pun terasa sesak.


Bukankah mereka saling mencintai? Bukankah seharusnya Davian menikahinya? Mengapa sekarang muncul masalah kompleks seperti ini?


“Aku tahu, Jeane. Aku pun ingin sekali menikah dengan gadis yang kucintai namun..” Davian melirik sekilas ke arah Jeane yang menatapnya nanar lalu kembali memokuskan pandangan ke arah jalanan di depannya.


Tanpa sadar, Davian sudah berada di dekat rumahnya. Ia segera memasukkan mobil ke dalam halaman rumah lalu menghentikannya di depan teras rumah. Ia terdiam sejenak. Mengapa rasanya ia ragu untuk keluar? Ia tahu gadis yang dijodohkan dengannya ada di dalam sana sekarang.


“Turunlah. Sekarang bukan saatnya kau kabur dari permasalahan ini.” Hibur Jeane sambil menggenggam tangannya.


Davian menarik napas dalam dalam lalu mengangguk. “Kau benar.”


Kemudian ia membuka pintu lalu turun. Jeane ikut turun. Ia menghampiri Davian yang berdiri di depan teras rumahnya. Pria itu memaksakan seulas senyum meskipun hatinya sedang kacau. Ya, senyum indah yang terlalu mempesona. Tak bisa dipungkiri bahwa Davian Fernandez memang sosok yang sangat menyilaukan di matanya. Begitu tampan dan memikat.


Davian meraih pinggang Jeane mendekat lalu memberikan kecupan selamat malam yang singkat namun berkesan.


“Selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak..” bisik Jeane lalu kembali mencium bibir Davian.


“Hati-hati di jalan. Besok aku akan menjemputmu..” balas Davian. Gadis itu tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Tak lama mobil itu menghilang dari rumahnya. Davian menatap kosong ke arah depan. Dalam hati ia menggumam. Akhirnya, aku tetap akan mengecewakanmu Jeane Vania.


Davian membalikkan badan. Ia berjalan santai menuju pintu rumahnya namun langkah kakinya terhenti ketika matanya menangkap sosok gadis yang berdiri di dekat pintu masuk, menatapnya dengan mata membulat.


“Kau siapa?” tanya Davian sedikit angkuh pada gadis itu. Siapa dia? Mengapa bisa berdiri di depan pintu masuk rumahnya? Gadis itu terkesiap beberapa saat.


“Aku Alena Kezia” dengan gugup gadis itu memperkenalkan diri. Davian mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki lalu mengendikkan bahu tak peduli. Ia tidak mengenal gadis ini maka tak ada alasan baginya untuk berbicara lebih. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah. Namun langkah kakinya terhenti saat ia baru menyadari satu fakta yang terlupakan. Mungkinkah gadis ini yang dimaksud kedua orang tuanya?


Davian menatap lekat-lekat gadis di hadapan dan tanpa disadarinya sedikitpun bahwa tatapannya mampu membuat Alena gugup setengah mati.