I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#4



Pagi yang indah untuk memulai hari baru. Alena tersenyum menatap apartement tempat tinggalnya sekarang yang sudah tertata rapi. Hari ini ia resmi menjadi nyonya Fernandez setelah pernikahan akbar yang diselenggarakan dua hari lalu. Kemarin Davian memutuskan untuk pindah ke apartement mewah dan sebagai istri ia hanya bisa mengikuti saja.


Alena menyibakkan gorden yang menutupi jendela kamar. Ia lalu membalikkan badan ke arah sosok pria tampan yang masih terlelap di atas tempat tidur. Pria yang sudah menjadi suaminya namun hatinya tak bisa ia pahami sedikitpun. Seharusnya sekarang adalah masa-masa paling membahagiakan dalam kehidupan pengantin baru. Namun apa yang terjadi padanya sekarang tak lebih dari sekedar sandiwara. Mereka hidup tak selayaknya pasangan yang baru menikah.


Davian memutuskan untuk tidur di kamar yang berbeda dengannya. Membiarkannya tidur seorang diri di kamar terpisah. Apa itu yang namanya ‘hidup bahagia pasca pernikahan’? Namun itu lebih baik di banding sikap dingin yang ditunjukkan Davian.


“Aku harus bersabar..” putus Alena setelah cukup lama memandangi wajah tampan suaminya. Ia duduk di tepi ranjang. Entah kenapa melihat wajah pria ini selalu membuatnya tenang. Ia suka sekali melakukannya. Sama seperti ketika ia melihat Malvin tertidur.


Tanpa di sadari, Alena sedikit membungkukkan tubuhnya hendak mengecup kening Davian. Entah apa yang sedang berkelebat dalam pikirannya saat ini hingga ia melakukan hal yang di luar nalar seperti ini.


Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Hal yang tak terduga pun terjadi, secara mendadak Davian menggerakkan tubuhnya hingga membuat ranjang bergerak dan Alena kehilangan keseimbangannya.


“Aa—“ pekikan Alena terhenti karena tubuhnya terhuyung jatuh dan entah bagaimana caranya—bagaimanapun itu tidak sengaja—bibirnya mendarat tepat di atas bibir Davian.


Alena mengerjapkan matanya, menyadari bibirnya menyentuh sebuah material lembut. Perlahan ia membuka matanya dan terkejut karena Davian pun membuka matanya di saat yang bersamaan. Ia terpaku dan pandangan matanya terkunci oleh iris mata Davian yang tajam namun memukau. Menyadari hal itu, Alena cepat-cepat menjauhkan wajahnya. Rasa malu, gugup, terkejut,semuanya bercampur menjadi satu.


Davian menatap Alena dengan wajah datarnya. Tak ada raut kaget sedikit pun di balik wajah tampannya itu, membuat Alena terenyak takut. Sorot mata yang jernih berwarna hitam itu mampu membuat jantung Alena berdebar tak terkendali. Pipinya memanas dengan sendirinya. Untuk beberapa saat, Alena seperti merasa terlempar ke negeri dongeng begitu mata mereka bertatapan.


“Mau apa kau” Suara dingin dan tajam yang keluar dari mulut Davian berhasil menyadarkan Alena kembali ke alam nyata. Gadis itu mengerjap, seolah sadar. Mulutnya bergetar hendak berucap.


“A-aku bermaksud membangunkanmu”jawab Alena gugup.


“Membangunkanku dengan cara ‘seperti ini’?” tanyanya menyindir insiden ciuman tadi.


“Tidakk!!” Alena gelagapan. Ia menelisikkan pandangannya ke segala arah asal tidak menatap Davian.


“Maaf. Aku tidak sengaja” Alena menundukkan kepalanya beberapa kali. Davian bangkit. Tanpa menghiraukan ekspresi bersalah Alena sedikit pun, ia bangkit lalu beranjak menuju kamar mandi.


Alena terpaku. Dalam hati ia mendesah. Nerakaku di mulai hari ini.


•••


Davian POV


Alena gadis yang sangat baik dan penyabar. Aku akui dia juga tidak terlalu jelek meski tidak secantik Jeane. Hanya saja aku tidak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Berkat kedatangannya, seluruh rencana hidupku hancur. Aku selalu marah dan kesal setiap kali melihat dia tersenyum. Wajah gembiranya membuatku teringat akan gagalnya rencanaku menikahi Jeane. Aku membencinya.


“Sir, Anda kedatangan tamu.” Sekretarisku, Janette berkata. Sekilas kulalihkan perhatianku dari berkas keuangan yang sedang kuteliti ke arah pintu.


“Siapa?”


“Nona Jeane.”


Alisku bertautan. Untuk apa Jeane datang kemari di jam kerja? Apakah dia tidak bekerja? Aku yakin pekerjaannya sebagai seorang Editor tidak senggang terlebih karena deadline penerbitan majalahnya tidak akan lama lagi.


Sosok Jeane tak lama muncul dari balik pintu. Senyumnya yang manis selalu membuatku tenang, seperti biasanya. Dia berjalan dengan anggun. Jeane selalu bisa membuat dirinya tampak sempurna dengan pakaian dan aksesori apapun yang dikenakannya. Dia tipe wanita yang tidak akan pernah sayang untuk menghabiskan uang demi mempercantik diri. Dan bisa dilihat hasilnya. She looks so gorgeous.


“Long time no see..”