
“Apa kau gadis yang akan dijodohkan denganku?” tanya Davian langsung, membuat Alena kembali mengerjap kaget. Otakknya bekerja sangat lambat dan ia bingung harus bagaimana menjawabnya. Ternyata benar, pria di hadapannya ini Davian Fernandez. Ia tidak menyangka sama sekali jika Davian setampan ini.
“I-iya..” jawabnya terbata.
Davian berdecak, seperti meremehkan. “Kukira gadis seperti apa yang selalu dipuji-puji orangtuaku. Rupanya kau tak lebih dari gadis biasa yang sering kutemui di mana-mana.” Ucap Davian sambil lalu. Alena terpaku mendengarnya. Mengapa ia berkata seangkuh itu? apa benar ia akan menikahi pria dengan sikap dingin sepertinya?
Dengan hati bimbang, Alena mengikuti Davian masuk ke dalam rumah. Di sanalah masalah baru muncul. Orangtuanya resmi memutuskan untuk menikahkan mereka sesegera mungkin.
•••
Davian POV
Pranggg!!!
Kubanting sloki berisi minuman bening dengan keras ke lantai. Ini sebagai wujud rasa frustasiku selama seminggu ini. Bagaimana mungkin orangtuaku memutuskan untuk mempercepat pesta pernikahanku dengan gadis bernama Alena itu? Apa yang bagus dari gadis itu? ia bahkan tidak berasal dari keluarga berada dengan latar belakang pendidikan yang bagus seperti Jeane. Dia hanya gadis biasa, berasal dari keluarga menengah dan hanya lulusan universitas biasa di Jakarta. Tidak menarik sedikitpun.
Aku benar-benar heran mengapa orangtuaku begitu membanggakannya di depanku. Mereka selalu berkata bahwa Alena adalah wanita yang baik, patuh, dan penyayang. Lalu apa gunanya jika aku tidak mencintai gadis baik, patuh dan penyayang seperti itu?
Aku hanya ingin mereka mendengar sekali saja, bahwa aku mencintai Jeane. Aku berniat menikahinya setelah hak waris atas perusahaan Ayah jatuh ketanganku. Karena itu aku bekerja sekeras ini selama tiga tahun terakhir. Namun siapa sangka jika syarat hak waris itu adalah AKU HARUS MENIKAHI ALENA!!!
“Kenapa kau banting gelasnya? Kau tahu itu kubeli di Eropa!!”
Aku menoleh sebentar ke arah Dion yang sekarang sedang berkacak pinggang sebal di depanku. Tak kuhiraukan ocehannya. Masalahku sudah cukup rumit tanpa harus ditambah dengan amukan darinya.
“Aku akan menggantinya. Kau tenang saja. dasar pelit.” Gumamku linglung. Aku baru sadar bahwa sudah satu botol wine kuhabiskan. Aku terbiasa datang ke rumah Dion—teman baikku—jika aku sedang kalut. Aku tahu dia selalu menyimpan banyak stok wine di rumahnya. Dan dia tidak pernah pelit memberiku meskipun harganya tidak murah.
“Masalahmu belum terselesaikan juga?” tanyanya mengambil kursi di sampingku.
“Sungguh? Itu bencana besar. Lalu bagaimana dengan Jeane? Kau sudah berjanji akan menikahinya bukan?”
Aku tersenyum pahit mengingat pernjanjian konyol yang sempat kuutarakan ketika ulangtahunku beberapa minggu lalu. Di depan teman-temanku yang kuundang dalam pesta, kukatakan bahwa aku hendak mempersuntingnya tak lama lagi. Itu terjadi sebelum Ayah dengan egoisnya mengatakan aku harus menikahi gadis bernama Alena Kezia itu jika ingin mendapatkan hak waris atas perusahaan.
“Bagaimana jika kau kawin lari saja?”
Kujitak segera kepalanya begitu kalimat tak bertanggungjawab itu meluncur dari mulutnya.
“Kau ingin Ibuku bunuh diri!” teriakku.
“Oke..” Dion mengusap kepalanya.
Aku kembali mendesah setelah menyadari sekarang sudah waktunya untuk melakukan ritual membosankan seperti fitting baju pengantin. Oh, Tuhan.. andai aku memiliki mesin waktu. Aku ingin pergi ke dimensi lain saat ini. Aku sungguh tidak ingin bertemu dengan gadis itu.
•••
Waktu berlalu tanpa terasa. Pernikahan mewah putra pemilik Hyundai departement store akhirnya digelar di hotel berbintang itu. Semua orang ikut berbahagia tak terkecuali seorang gadis yang berdiri di samping pria yang beberapa saat lalu menjadi suaminya, Alena Kezia.
Meskipun Davian tersenyum, jauh di lubuk hati Alena sadar bahwa itu hanya senyum palsu demi mengelabui orang-orang. Dan ia merasa sangat bersalah karenanya.
Di sudut aula pesta, seorang gadis berdiri dengan tatapan tertuju pada dua mempelai yang tampak berbahagia di depan sana. Hatinya seperti teriris pisau melihat pria yang dicintainya bersanding dengan wanita lain di pelaminan. Padahal ia selalu yakin ia yang akan menempati posisi itu. Bukan gadis bernama Alena Kezia itu.
“Baiklah, Davian. Kau yang sudah membuatku menjadi wanita jahat” gumamnya dengan suara berat dan tajam, matanya menusuk ke arah Davian yang tersenyum ramah pada orang-orang yang memberinya selamat.
Bukankah pengkhianatan mampu mengubah hati seseorang menjadi iblis?