I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#37



Kilatan kaget bisa Alena temukan di wajah kedua orang itu seolah Alena baru saja menuduh mereka adalah pelaku kejahatan. Tidak hanya keterkejutan yang tergambar jelas di wajah keduanya tapi juga ketakutan. Mereka takut dan ada sedikit emosi terselip dalam sorot mata mereka.


Tuan Radhian menghela nafas kemudian sebelum dia melontarkan hal yang membuat Alena terkejut bukan main.


“Malvin, dia bukan anak kandungku,” Ucapnya diiringi desahan putus asa dari mulut Nyonya Radhian.


Bumi tempat berpijak Alena terasa berguncang dan Alena sadar dirinya hampir saja pingsan karena pengakuan itu. Malvin bukan anak kandung Tuan Radhian. Kata-kata itu terus berputar dalam otaknya seperti gasing. Kepalanya pusing. Dalam keadaan limbung Alena menatap kembali Tuan Radhian.


“Lalu, kenapa Anda membenciku? Kenapa dahulu Anda melarang hubunganku dengan Malvin jika ternyata dia bukanlah anak kandung Anda? Seharusnya itu tidak masalah bukan?”


Wajah Tuan Radhian pucat pasi mendengar pertanyaan Alena berikutnya. Pria tua itu tampak linglung dan hampir saja jatuh jika tidak di sadarkan istrinya.


“Ayah, tenanglah.” Nyonya Radhian tahu jika pembicaraan ini diteruskan penyakit hipertensi suaminya bisa kambuh. Maka ia menoleh pada Alena untuk memintanya menyudahi pembicaraan ini.


“Sepertinya pembicaraan harus selesai sampai di sini. Kau boleh pergi.”


Alena terkejut dengan tindakan Nyonya Radhian mengusirnya di saat rasa penasarannya tidak terbendung lagi. Ia ingin tahu jawabannya sekarang atau ia bisa gila. Tetapi melihat kondisi Tuan Radhian yang terus mengurut kepalanya, Alena mengurungkan niat. Ia membungkukkan kepalanya lalu pergi ke luar kafetaria.


•••


Malvin menyadari dirinya terus tersenyum setelah ia ikut berpartisipasi menghibur anak-anak malang yang harus menjalani kemoterapi karena penyakit berat yang mereka idap. Ia sempat menyanyikan satu lagu sambil memainkan gitar dan tak disangka anak-anak itu begitu menyukainya.


“Suaramu bagus, kenapa tidak menjadi penyanyi saja?”


Seketika, senyum Malvin terhenti lalu kepalanya berputar ke arah Yuka yang berjalan di sampingnya. Gadis ini bersikeras mengantarnya kembali ke ruangan dengan alasan memastikan agar ia tidak jatuh tiba-tiba di tengah jalan. Malvin tidak bisa menolak karena tak memiliki alasan bagus untuk mengusirnya pergi.


Malvin mendadak menghentikan langkahnya. Wajah pria itu menegang. Penasaran, Yuka ikut menoleh ke arah fokus perhatian Malvin. Mereka sedang melintasi area kafetaria rumah sakit sekarang dan Yuka tidak melihat hal istimewa selain seorang gadis yang baru saja keluar lalu berjalan cepat meninggalkan kafetaria.


“Alena!!” Malvin mendapati dirinya berteriak dan senyumnya mengembang. Ia yakin matanya tidak mungkin salah melihat. Wanita yang baru saja keluar dari kafetaria adalah Alena. Malvin berniat memanggilnya kembali saat ia melihat kedua orang tuanya juga keluar dari kafetaria itu. Ia memiringkan kepalanya heran. Bagaimana bisa mereka berada di tempat yang sama di saat yang bersamaan. Ia mengerjap ketika sadar bahwa hanya ada satu kemungkinan hal itu terjadi.


“Bagaimana cara kita menjelaskan pertanyaan Alena tadi?”


Langkah Malvin terhenti ketika ia mendengar ucapan kedua orang tuanya. Ia terkejut. Jadi tadi orang tuanya memang bertemu dengan Alena. Malvin lebih penasaran lagi karena Ayahnya yang selalu tenang tampak frustasi. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?


“Sepertinya sudah tiba waktunya bagi kita berkata hal yang sejujurnya,” kali ini Ibunya yang berkata.


“Kita harus katakan bahwa Malvin dan Alena bersaudara karena itu mereka tidak bisa bersama sejak awal.”


Malvin merasakan jantungnya jatuh mendengar hal itu. Pikirannya kosong melompong detik itu juga. Sekujur tubuhnya bergetar bersamaan dengan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya. Kemalangan apa lagi yang harus ia terima setelah cintanya dengan Alena harus berakhir. Sekarang, ia harus mengetahui bahwa dirinya dan Alena BERSAUDARA?


“Apa maksudnya itu, Ayah, Ibu?” dalam keadaan setengah sadar Malvin mendapati dirinya berbicara. Kedua orang tua yang berada di depannya itu terkejut mengenali suara Malvin. Mereka menoleh cepat dengan raut tercengang. Malvin berjalan mendekati kedua orang tuanya perlahan. Langkahnya bahkan tak seimbang karena bumi tempatnya berpijak seakan bergoyang karena gempa.


“Malvin, ini..” Ibu mencoba meraih tangan Malvin namun secepat kilat Malvin menepisnya. Malvin bahkan sudah tidak bisa memandang kedua orang tuanya dengan jelas lagi karena matanya sudah mengabur oleh airmata.


“Aku dan Alena bersaudara? Kami bersaudara? Dan aku bukan anak kandung kalian?” tanyanya dengan suara tercekat. Ketika kedua orang tuanya tidak menjawab, hati kecil Malvin semakin rapuh dan hancur. Serta merta Malvin segera melepas jarum infus di tangannya, lalu berlari mengejar Alena dengan segenap tenaga yang tersisa dalam dirinya.


“Malvin!!” Teriak Ibu panik. Yuka yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu ikut memekik panik lalu berlari menyusul Malvin.


Malvin tahu, seluruh tubuhnya protes kesakitan karena ia memaksakan diri berlari dalam kondisi seperti ini. Ia tidak peduli seandainya tubuhnya lumpuh karena hal ini namun ia tidak tahu lagi harus meminta penjelasan pada siapa lagi. Jika orang tuanya tidak mau menjawab maka hanya Alena-lah harapan terakhirnya. Ia melihat punggung Alena berada di depan rumah sakit bersiap menaiki taksi.


“Alena!!” Malvin berteriak dan nyaris menangis putus asa karena kakinya mulai kesakitan. Alena tidak mendengar panggilannya karena gadis itu masuk ke dalam taksi dan tak lama taksi mulai berjalan.


“Tidak, TIDAAAKK!!!!” teriak Malvin ketika ia tiba di luar rumah sakit mendapati taksi yang dinaiki Alena pergi meninggalkan area rumah sakit. Seluruh persendiannya terasa sakit dan Malvin sudah tidak sanggup berdiri lagi. Ia jatuh terkulai di lantai bersamaan dengan kesadaran dirinya yang semakin menipis. Seluruh tubuhnya terasa panas, sakit, dan ia tidak sanggup bernafas lagi dan sebelum dunianya menjadi gelap gulita,


________


XOXO