I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#40



•••


Malvin sebenarnya tengah termenung memikirkan masalah antara dirinya dan Alena. Ia berencana mengkonfirmasi hal itu pada kedua orang tuanya saat mereka datang menjenguknya nanti tetapi lamunannya itu buyar ketika ia mendengar suara Yuka.


“Malvin, ada tamu.”


Kepalanya terangkat ke arah pintu. Yuka mempersilakan seseorang masuk. Malvin mengerjapkan mata ketika seorang gadis masuk lalu tersenyum padanya. Keningnya berkerut. Ia heran kenapa gadis yang ditemuinya di pesta waktu itu bisa berada di sini.


“Jeane,” ucapnya dengan nada memastikan. Jeane melambaikan tangan dengan wajah ceria.


“Jadi dia kekasihmu ya, cantik sekali.” ucap Yuka dengan senyum yang terlihat aneh. Malvin terkejut mendengarnya. Namun entah kenapa ia tidak keberatan dengan anggapan Yuka. Mungkin dengan begitu Yuka akan berhenti mengganggunya.


“Ya, dia kekasihku.” Lirihnya. Yuka berhenti tersenyum.


“Begitu ya. Kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian,” ia menundukkan kepala sekilas lalu pergi dengan wajah yang menyiratkan luka. Sebenarnya Malvin merasa bersalah sudah membuat Yuka berwajah seperti itu. Ia menepis rasa bersalahnya dengan menatap Jeane.


“Gadis tadi sepertinya menyukaimu,” ucap Jeane sambil berjalan mendekatinya. Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Malvin.


“Dia hanya dokter yang merawatku,” tepis Malvin.


“Ada perlu apa kau kemari?”


Jeane mengeluarkan kotak cokelat dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Malvin


“Sebenarnya, kau tak perlu repot-repot menjengkukku dan membawakan..cokelat.” Malvin agak ragu melihat cokelat di tangannya. Ia masih curiga pada Jeane yang sempat menawarinya bekerja sama untuk memisahkan Davian dan Alena. Baginya, sekarang memisahkan Alena bukan inti masalah dalam hidupnya lagi. Tak ada gunanya ia melakukan hal itu karena dirinya dan Alena bersaudara. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa bersatu dengan Alena. Mereka terhalang oleh hubungan darah yang bahkan lebih kental dari pada air. Lebih kuat dibandingkan simpul tali apapun.


“Aku tahu mungkin terdengar aneh. Tapi sepertinya aku tertarik padamu,” ujar Jeane. Malvin tidak terkejut mendengar kalimat itu. Sudah banyak wanita yang mengatakan hal yang sama seperti yang Jeane katakan barusan.


“Yah, sepertinya itu alasanmu datang kemari.” Jeane tertawa.


Mungkin itu akan terlihat manis di mata pria lain namun bagi Malvin, senyum Alena tetaplah yang paling indah. Namun sepertinya Malvin tidak tahu bahwa Jeane pintar sekali membuat para pria terpesona padanya. Seperti saat ini, tanpa sadar Malvin ikut tersenyum. Entah berapa lama ia mendengar cerita Jeane tentang dirinya, keluarganya, dan kisah cintanya bersama Davian.


“Jadi, kau belum bertemu dengan ibumu sampai detik ini?” tanya Malvin. Jeane sekarang sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengupaskan apel untuk Malvin.


“Ayah tidak pernah membicarakan ibu semenjak mereka bercerai ketika usiaku masih kecil. Aku tidak tahu ibuku masih hidup atau tidak.”


“Apa kau tidak merindukannya?” Jeane menoleh menatap Malvin, sinar wajahnya meredup.


“Terkadang. Namun aku tidak pernah kekurangan kasih sayang dari ayahku. Karena itu aku tidak pernah berpikir untuk mencari ibuku.”


Malvin terdiam menatap tangannya yang memegang potongan apel, ia mendadak ragu apakah harus bertanya perihal masalahnya atau tidak. Ia memang penasaran. Tapi ia takut hal itu akan membuat keluarga yang membesarkannya terluka. Selama ia kecil hingga sekarang tak pernah sedikitpun ia kekurangan cinta. Mereka membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Apakah terkesan kurang ajar jika ia menorehkan luka pada orang tua yang sudah membesarkannya sebaik mereka?


________


XOXO