
•••
Davian menyadari rumahnya gelap gulita ketika ia tiba di rumah. Ia bertanya-tanya apakah Alena belum pulang dari kantornya tetapi ketika ia melihat lampu kamar menyala, Davian tersenyum menemukan istrinya berada di sana. Senyumnya pudar perlahan saat Davian melihat raut sedih di wajah Alena.
“Ada apa?” tanyanya bingung. Davian menyingkap rambut panjang Alena yang menutupi wajahnya. Hatinya bergeser sakit saat ia melihat lelehan airmata di pipi istrinya.
“Kau seperti ini sejak kembali dari rumah sakit. Sebenarnya apa yang dibicarakan dokter tentang Malvin?”
Nama Malvin yang disebut-sebut Davian seperti alarm yang mengingatkannya pada kisah menyedihkan dalam hidupnya. Alena merasa sangat frustasi dan marah. Ia merasa seperti orang bodoh yang sudah dibohongi selama bertahun-tahun oleh orang tuanya sendiri terutama Ayahnya.
“Alena.,” Davian menyentuh dagu Alena dan menghadapkan wajah sedih istrinya ke arahnya. Hatinya mencelos melihat lelehan airmata membekas di wajah Alena. Jelas sekali istrinya ini baru saja menangis. Alena melingkarkan tangannya di leher Davian sebelum suaminya itu membuka mulut. Alhasil, semua kata-kata yang akan diucapkan Davian tertelan kembali. Ia bahkan lupa beberapa saat lalu ia marah pada istrinya ini. Ia balas memeluk Alena yang menyembunyikan wajah di lehernya.
Alena tanpa mengatakan sepatah katapun perlahan mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu dan Davian bisa melihat sekelebat bayang kesedihan dalam sorot mata jernih Alena. Mulutnya sudah bergerak untuk bertanya, namun lagi-lagi kalimatnya tak berhasil disuarakan karena tangan Alena menarik wajahnya mendekat, dan bibir mereka bertemu kemudian.
Davian tahu ini cara Alena agar ia berhenti bertanya tentang masalah yang membuatnya menangis. Ia mengakui pikirannya mengabur berkat ulah Alena dan ia tidak peduli lagi apakah ini hanya akal-akalan Alena saja karena pada kenyataannya Davian mulai terpancing. Buktinya Alen tidak menolak ataupun protes ketika Davian mendorong dirinya jatuh ke atas tempat tidur dan setelahnya, mereka kembali terbakar rasa yang membuat diri mereka melayang tinggi.
•••
Malvin baru siuman dua hari setelah kejadian itu. Ia terbangun di pagi hari yang dihiasi rintik hujan. Ruangan tempatnya di rawat terasa lembab namun hangat, dan wangi. Samar-samar Malvin melihat sesosok wanita sedang memeriksa kondisinya. Ia sempat mengira itu adalah suster yang biasa datang mengecek keadaannya. Tetapi ketika ia memicingkan mata untuk melihat lebih jelas, ia sadar bahwa itu adalah gadis dokter yang bernama Yuka.
“Oh, kau sudah siuman.” Entah hanya perasaan Malvin saja namun kata-kata Yuka terdengar gembira dan lega.
“Berapa lama aku terkapar?” gumam Malvin sambil berusaha bangun. Yuka segera membantunya.
“Dua hari, tapi tenang saja kondisimu sudah kembali stabil. Lain kali jangan bergerak berlebihan seperti hari itu. Sebenarnya apa yang kau kejar sih? Berlari seperti orang kerasukan dengan kondisi sakit. Beruntung kau tidak mati.” Cerocos Yuka panjang lebar. Malvin tidak berniat menjawab karena rasanya aneh jika ia menceritakannya pada orang asing seperti Yuka. Ia berteriak kaget ketika Yuka tanpa mengatakan apapun menyentuh baju rumah sakitnya, hendak membuka bajunya.
“Ya, apa yang kau lakukan!” serunya dengan suara serak. Yuka menyingkirkan tangan Malvin dari dadanya.
Malvin mengerutkan kening dan berhenti protes. Ia tidak ingat kapan ia memberitahukan namanya pada gadis ini. Yuka memeriksa menggunakan stetoskopnya, memeriksa denyut nadinya, dan mencatatnya dengan tekun. Malvin hanya memperhatikannya dengan wajah bertanya-tanya. Entah kenapa ia tertarik memperhatikan ekspresi Yuka ketika gadis itu mengangguk-angguk setelah memeriksanya. Malvin menggelengkan kepalanya cepat menyadari tindakan aneh yang dilakukannya.
“Aku akan kembali siang nanti untuk mengecek kondisimu lagi. Sekarang beristirahatlah,” ucap Yuka sambil membereskan peralatan yang dibawanya.
“Lebih baik kau jangan kembali,” gumam Malvin. Yuka menoleh, ia tidak mendengar jelas apa yang Malvin katakan tadi.
“Apa?”
“Tidak. Pergilah. Aku akan istirahat.” Yuka tersenyum lalu beranjak keluar dari ruangannya. Ketika ia akan menutup pintu ruangan, ia berpapasan dengan seorang gadis. Sepertinya dia akan menjenguk Malvin.
“Apa Malvin ada?” tanyanya hati-hati. Yuka menatapnya menyelidik. Ia tidak suka melihat seorang wanita yang datang menjenguk Malvin, entah kenapa.
“Ada. Tapi dia baru saja beristirahat. Anda siapanya?”
“Aku kekasihnya.” Ucap gadis itu membuat Yuka mengerjapkan mata. Ia menoleh ke dalam ruangan sekilas, jadi Malvin sudah memiliki pacar?
“Oh,” ucap Yuka kikuk. Ia membuka pintu kamar Malvin lalu berkata pada pria yang sedang berbaring di atas ranjang dengan perasaan campur aduk.
“Malvin, ada tamu.”
________
XOXO