I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#31



•••


“Kenapa diam?” Davian penasaran karena Alena terus terdiam sekembalinya dari pesta tadi. Ia melonggarkan dasinya lalu meletakkannya di atas nakas samping televisi. Alena berdiri diam sambil menuangkan air. Hanya saja pikirannya melayang kemana-mana. Dia bahkan tidak sadar bahwa air yang dituangkannya ke cangkir sudah meluber membuat Davian berseru kaget.


“Alena, airnya!” Davian mengambil teko air yang digenggam Alena lalu meletakkannya di atas meja. Dengan heran ia memandang Alena berharap istrinya itu memberikan penjelasan.


“Kau kenapa? Sejak pulang dari pesta kau terus melamun,” Davian melingkarkan tangannya di pinggang Alena. Mencoba memandang lebih dekat wajah cantiknya.


“Entahlah, tiba-tiba saja aku memikirkan Jeane.” Jelasnya murung. Rasa senang Davian hilang seketika begitu mendengar nama Jeane. Keningnya berkerut menatap Alena.


“Kenapa? Jeane bukanlah sesuatu yang harus kau pusingkan sekarang. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi di pesta bahwa aku telah memilihmu,” hibur Davian. Alena menggeleng lemah lalu melepaskan pelukan Davian perlahan. Dia berjalan menuju ruang tengah, tepatnya ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan malam yang indah.


“Bukan itu. Sejujurnya aku berpikir Jeane tidak sepenuhnya salah. Dia menjadi begitu karena merasa diperlakukan tidak adil.” Ucapnya sambil memandang bintang dengan raut cemas. Davian mendesah lalu menghampiri Alena, kembali memeluknya dari belakang.


“Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin aku kembali padanya?” gurau Davian. Alena menoleh dengan mata menyipit. Davian tertawa melihat reaksinya.


“Aku hanya bercanda,” ujarnya sambil mengedipkan mata. Alena mendengus. Saat seperti ini masih sempat-sempatnya bergurau.


“Sebenarnya apa yang membuatmu cemas?” Davian bertanya ulang.


“Aku hanya berpikir, bagaimana jika mengajak Jeane berteman denganku? Mungkin dia tidak akan merasa dikhianati,”


Davian terperanjat mendengar ide itu. Jika Alena benar-benar melakukannya, entah bagaimana reaksi Jeane.


“Kau serius?”Alena mengangguk cepat.


“Firasatku mengatakan, Jeane membutuhkan teman berbagi dan aku siap menjadi temannya.”


“Astaga... istriku ini memang baik,” Davian mengecup pipinya dan tangannya semakin memeluk erat pinggang Alena.


“Tapi ada satu hal yang kau lupakan nona..” bisiknya. Alema menegakkan tubuhnya yang mulai tegang berkat ulah Davian.


“Apa?” Alena menelan air liurnya dengan susah payah karena Davian kini dengan sengaja menyampirkan rambut tergerainya lalu mengecup tengkuknya lembut.


“Ayahku tidak menyukai Jeane. Dan aku yakin dia akan menolak jika sampai kau berhubungan dengannya.”


“Sungguh? Kenapa? kupastikan Ayah tidak akan tahu,” Alena mulai memejamkan mata menikmati perlakukan Davian di lehernya.


“Dan aku tidak menjamin Jeane mau menerima pertemananmu.” Ujar Davian secara perlahan mendorong Alena mundur.


“Kalau begitu kau juga harus mencoba berteman dengan Malvin,” Alena memekik karena begitu ia menyelesaikan kalimatnya, Davian mendorongnya hingga jatuh terbaring di atas sofa. Pria itu menatapnya tajam.


“Aku tidak suka ide itu. Malvin, sekali musuhku tetap musuhku,” tegasnya seraya mendekatkan wajahnya. Alena mendapati jantungnya berdebar kencang kembali.


“Malvin pria baik. Aku jamin dia pasti bersedia berteman denganmu,” kekeuh Alena dengan suara bergetar karena Davian semakin merapatkan tubuhnya.


“Oh ya? Mungkin dengan begitu kau memiliki waktu luang untuk berselingkuh dengannya,” bisik Davian tepat di sudut bibir Alena. Gadis itu sudah menutup matanya karena gugup.


“Aku tidak akan berselingkuh, tuan pencemburu. Dan berhenti mengajakku berdebat karena Malvin.” Davian mengecup bibir Alena cepat, menghentikan aliran kata-kata gadis itu.


“Aku tahu kau tidak akan berani melakukannya. Kau sangat mencintaiku.” Ucapnya lalu mengecup lepas bibir ranum istrinya. Alena tertawa geli karena Davian kembali bersikap narsis.


“Dasar Tuan narsis!” ledek Alena di sela ciuman Davian. Pria itu menjauhkan wajahnya, menatap Alena dengan ekspresi takjub.


“Apa? Tadi kau bermuram durja sekarang tertawa meledekku. Rasakan akibatnya!” Davian kembali membenamkan bibirnya di bibir Alena. Mereka saling berperang untuk mengetahui siapa pemenangnya sampai terdengar dering ponsel menyela aktivitas mereka. Alena menjauhkan wajahnya lalu menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi nyaring.


“Ada telepon. Aku harus mengangkatnya.” Alena mendorong Davian pelan lalu beranjak dari sofa sambil merapikan bajunya yang mulai berantakan. Davian mendengus sebal sambil mengumpat dalam hati. Orang bodoh mana yang menelepon pada larut malam seperti ini?


Alena meraih ponsel yang berkedi-kedip lalu menempelkannya ke telinga.


“Hallo,” Alena mendengarkan baik-baik seseorang yang berbicara di ujung sana dan detik berikutnya matanya melebar kaget. Dia menoleh pada Davian dengan wajah tegang. Davian mencium bau masalah lantas bergegas mendekati Alena.


“Apa yang terjadi?” cecarnya.


“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” setelah menutup pembicaraan, Alena menoleh pada Davian dengan wajah cemas bercampur panik.


“Malvin, dia kecelakaan.” Lirihnya menahan tangis. Davian terperanjat.


“Apa??”


________


XOXO