I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#5



“Long time no see..” sapanya. Aku berdiri, meraih pinggangnya lalu mengecup pipinya sekilas.


“Tidak biasanya kau datang kemari. Ada apa?” aku kembali duduk dan membiarkan Jeane duduk di tepi meja. Tangannya mengambil salah satu dari map yang ditumpuk di atas meja.


“Aku merindukanmu, tidak bolehkah aku mengunjungimu di sini?” inilah cara Jeane mengungkapkan kekesalannya. Dia selalu berkata dengan nada yang terkesan tak peduli namun penuh penekanan.


“Aku tidak pernah melarang.” Desahku seraya bangkit.


“Tapi kita bisa bertemu di tempat lain, bukan?” aku berjalan mendekati jendela, kepalaku sudah dipenuhi oleh rasa bersalah padanya dan pada Alena. Aku tahu alasan Jeane datang kemari. Tak lain karena ia ingin mempertanyakan masalah pernikahanku dengan Alena.


“Kenapa? Kau takut kedatanganku akan menjadi bahan gunjingan di kantor ini? Kau takut pegawai-pegawaimu menuduhmu sedang selingkuh?” sindirnya. Dia berjalan menghampiriku dengan raut tersinggung dan kesal. Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku hanya menghela napas.


“Aku tahu aku salah, Jeane. Tapi mengertilah. Jika kau sedang dalam posisi terjepit sepertiku kau pun akan mengambil cara aman. Ayah tidak pernah merestui hubungan kita. Beliau bisa saja menendangku dari rumah jika tidak menuruti perkataannya” debatku berharap gadis ini mengerti. Aku mencintainya, sungguh. Tapi bisakah dia memahami keadaanku? Jeane bersedekap dengan mata menyala-nyala.


“Kau tak lebih dari pria pengecut, Davian Fernandez.. Lagipula apa bagusnya wanita bernama Alena Kezia itu? Dia hanya wanita biasa. Sementara kau, kau butuh wanita yang luar biasa yang pantas bersanding di sisimu. Dan gadis itu aku, bukan Alena. Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau mengkhianatiku dan memilih mengapit tangan gadis itu ke atas altar?”


Mendengar kata-kata Jeane entah kenapa aku tersinggung. Ada sesuatu dari kalimatnya yang membuatku tidak suka, namun aku bingung di bagian mana. Yang pasti sekarang sudut hatiku bergemuruh karena luapan kemarahannya itu.


“Jadi apa yang kau inginkan?” aku mencoba meredam emosi dengan memejamkan mata.


“Katakan bahwa kau mencintaiku, dan kau berjanji akan meninggalkannya.” Kata-kata yang dikeluarkan dengan suara rendah itu membuat iris mataku melebar, kaget. Aku memang sudah memikirkan ide ini semalaman. Namun tak pernah kusangka bahwa hal ini akan kudengar sendiri dari mulut orang lain.


Mendadak saja aku bimbang. Mulutku tak mampu bersuara dan pikiranku macet. Seperti bisikan setan, kata-kata Ayah mendengung di ruang kepalaku.


Jika kau sampai melakukan tindakan yang membuat Ayah dan Ibu terpaksa menanggung malu, jangan harap bisa menyandang marga Fernandez di belakang namamu lagi!


Ayah sudah pernah mengancamku dengan kalimat semacam itu. Perceraianku dengan Alena jelas akan mencoreng nama keluarga Fernandez. Perceraian tidak pernah ada dalam sejarah silsilah keluargaku dan jika aku melakukannya, aku harus siap meninggalkan keluarga yang sudah membesarkanku.


“Kenapa kau bimbang, Tuan Fernandez? Katakan sesuatu.” suara Jeane kembali menarikku paksa ke dunia nyata. Aku memalingkan pandangan menatapnya. Jeane memandangku dengan wajah penuh pengharapan. Aku tidak tega melihatnya. Akhirnya, setelah berdebat dengan hati nuraniku sendiri aku menghela napas.


“Aku tidak berjanji akan mengabulkan permintaanmu, Jeane. Dan kuharap kau tidak terlalu mengharapkanku, setidaknya untuk saat ini. Kau tunggulah hingga kesempatan untuk kita datang.” Suara yang terucap dari mulutku terdengar parau.


Tangan Jeane menyentuh pundakku. “Aku siap menunggu, Tuan Fernandez..,” mata yang selalu membuatku tenang menatapku lurus. Aku bisa melihat berbagai macam emosi dari iris matanya yang bergerak gelisah. Aku memang menyadari wajah kami saling mendekat satu sama lain dan ketika bibir kami kembali bertemu, aku menerima tanpa menepisnya.


Bagaimana pun, Jeane adalah gadis yang kucintai.


•••