I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#68



Davian merasakan firasat buruk yang aneh. Ini tidak wajar dan pikirannya langsung tertuju pada Alena. Istrinya berada di rumah, dalam kondisi hamil dan bersama mantan kekasihnya. Tidak ada alasan bagi Davian untuk tetap duduk tenang di kantornya. Karena itu sekarang ia dalam perjalanan kembali pulang.


Ketika tiba di depan gedung apartemennya, ia berpapasan dengan Malvin yang berjalan cepat dengan langkah lebar. Wajahnya tampak tegang.


“Ada apa?” Davian menyusulnya. Malvin menoleh dan mendesah lega melihat Davian ada di sana.


“Jeane, ada yang tidak beres tentangnya. Aku harus memastikan Alena baik-baik saja.” Mendengar pernyataan Malvin, Davian semakin was-was,


“Apa maksudmu?”


“Sebaiknya kita periksa istrimu terlebih dahulu.”


Davian mendahului Malvin memencet tombol lift dan menunggu dengan tidak sabar hingga pintu lift membuka. Kata-kata Malvin tadi terus menghantuinya, membuat seluruh tubuhnya tidak tenang, gelisah, dan panik. Alena, semoga kau baik-baik saja, Davian berdoa. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk diikuti Malvin. Davian bahkan menekan lantai apartemennya berkali-kali karena cemas dan tidak sabar.


“Kenapa liftnya bergerak lambat sekali!” keluh Davian, kakinya bergerak resah sementara Malvin mengerutkan keningnya. Isi kepalanya dipenuhi oleh kepingan memori pertemuannya dengan Jeane malam lalu. Cara berbicara gadis itu terdengar begitu frustasi dan di sisi lain terkesan seolah meminta tolong. Jeane meminta seseorang mencegahnya melakukan sesuatu. Ah, segala tanda tanya ini akan membuatnya gila.


Begitu lift berdenting, Davian lekas angkat kaki keluar dan berlari kencang menuju apartemennya. Mulutnya terus bergumam berharap ketika ia membuka pintu, ia mendapati Alena baik-baik saja. Ia segera membuka pintu dan bergegas masuk.


“Sayang…” Seluruh kalimat Davian seperti tersedot vacum cleaner ketika ia melihat pemandangan di depannya saat ini.


Seperti ada pisau yang memotong paksa urat nadi di lehernya dan ia tidak bisa bernapas, sekaligus merasa sakit yang menjengit melihat istrinya terkapar di lantai, Bersimbah darah yang berasal dari luka di lengannya. Ia terbelalak dan dunianya seperti terhenti.


“ALENA!!!” Davian berteriak histeris. Ia menghambur ke sisi istrinya, segera merangkul tubuh lemah Alena ke pelukannya,


Malvin membeku di tempatnya. Seperti ada gempa yang mengguncang tempatnya berpijak, ia berpegangan pada dinding di dekatnya. Ia menyesal, setelah melihat semua ini ia menyesal kenapa tidak menyadari ucapan Jeane lebih cepat.


Jeane? Malvin segera menolehkan pandangannya pada sosok lain yang sejak tadi terabaikan.


Jeane masih duduk di tempatnya, menyesal karena membiarkan dirinya lepas kendali. Seluruh tubuhnya bergetar, ia bahkan tidak kuasa menahan airmatanya sendiri.


Menyadari Malvin menatapnya, kepalanya terangkat perlahan dan ketika pandangan mereka bertemu, ia menemukan Malvin menatapnya iba, prihatin, dan penuh penyesalan. Ekspresi itu membuatnya lebih sakit lagi. Semuanya seperti palu yang membuatnya sadar bahwa ia memang seorang pembunuh. Ia bersalah atas semua ini.


“Aku.. aku melakukannya.. aku.. aku..” Jeane menangis lirih. Ia menatapi tangannya sendiri yang masih bersimbah darah Alena.


“Aku sudah membunuhnya..AKU SUDAH MEMBUNUHNYA!!!!” Jeane berteriak. Ia menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila. Ia sangat takut, tubuhnya menggigil kedinginan meskipun peluh terus membanjiri pelipisnya.


“Tidak.”


Tiba-tiba Malvin berkata. Jeane berhenti histeris dan menatap pria itu. Pandangannya masih kabur, ia tidak bisa melihat Malvin dengan jelas.


“Kau bukan pembunuh. Kau tidak pernah bermaksud membunuhnya.” Kalimat itu terdengar begitu lugas di telinga Jeane, membuatnya merasa begitu lega namun sedih di saat yang bersamaan. Detik itu juga, Jeane menangis meraung-raung meratapi perbuatannya sendiri.


***


XOXO