
Davian menundukkan kepala ketika rasa sakit menyengat hatinya, membuatnya tidak peduli pada hal lain termasuk siapapun yang masuk ke ruangannya
.
“Kau harus istirahat, nak.” Ibu Alena memandang menantunya iba. Sudah 12 jam Davian berada di kursi itu, duduk sambil menggenggam tangan putrinya. Dia bahkan tidak mempedulikan penampilannya yang sudah berantakan.
Davian menoleh, ia segera bangkit lalu membungkukkan badannya menyadari ibu mertuanya datang.
“Selamat pagi, Bu.” Ia memaksakan seulas senyum hangat setelah terburu-buru menghapus airmatanya.
Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Ia tahu Davian sangat menyayangi Alena tetapi tidak berarti mengabaikan kondisi dirinya sendiri. Ia melihat lingkaran hitam di sekitar mata Davian pertanda pria itu tidak mendapat tidur yang berkualitas.
“Kau bisa pulang dan tidur. Ibu akan menggantikanmu menjaga Alena. Ibu berjanji akan segera mengabarimu begitu dia siuman.” Davian lekas menggeleng,
“Tidak, aku akan tetap di sini. Meskipun aku memaksakan diri kembali, aku yakin aku tetap tidak bisa tidur.” ia sangat yakin, pikirannya yang terus tertuju pada istrinya membuat ia sulit tertidur tak peduli dimanapun ia berada.
Ia yakin tidak akan kelaparan ataupun mengantuk, tetapi perut yang keroncongan tidak bisa disembunyikan. Davian tercengang ketika perutnya dengan sangat lancang berbunyi, membuatnya harus menahan malu saat Ibu mertuanya tertawa kecil.
“Cintamu pada Alena tidak akan menyelamatkanmu dari perut kosong, nak. Aku tidak akan mengusirmu, tapi kau harus makan,” Ia menyodorkan kantong berisi makanan ketika Davian hampir membantah. Kali ini Davian tidak bisa beralasan lagi. Menunggu Alena membuatnya lupa untuk mengisi perut. Ia lupa kapan terakhir kali ia menelan makanan.
“Apa kau sudah mengusut pelaku yang menikam Alena?” pertanyaan Ibu membuat konsentrasi Davian pada makanan teralih. Ibu mertuanya itu terlihat penasaran sekaligus cemas. Davian menghentikan kegiatannya sejenak. Seketika itu juga ia teringat kata-kata Malvin di telepon tentang perkembangan kasus penikaman itu. Ia memang menyerahkan penanganan Jeane pada Malvin agar ia bisa fokus menjaga Alena.
“Malvin sudah mengamankannya ke kantor polisi. Aku mendapat laporan darinya pagi tadi,”
“Benarkah? Lega sekali mendengarnya. Siapapun dia harus mendapatkan hukuman atas tindakannya. Dia hampir saja membuat Alena dan bayinya meninggal.” Ibu menghela napas lega. Ia beralih menatap putrinya yang masih tertidur nyenyak. Lengannya yang terkena tikaman pisau sudah diperban.
“Anak yang malang, kau terlalu baik sampai membiarkan penjahat itu masuk ke rumahmu.” Ibu menyentuh pipi Alena dengan airmata menggenang. Bagaimana pun sebagai seorang ibu ia merasa sedih hal ini menimpa putrinya.
Davian tak bisa banyak berkomentar selain menghela napasnya, penyesalan karena sudah lalai masih dirasakannya. Ia tidak mengatakan apapun soal Jeane, tetapi Polisi yang mengurus kasus ini telah menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya kemarin. Ia kembali mengembuskan napas berat jika teringat apa yang ayahnya katakan tentang Jeane, fakta yang membuatnya terkejut setengah mati.
“Apa?”
Davian tercengang menatap polisi yang didampingi seorang psikiater di depannya. Ia sudah meminta Malvin untuk membawa Jeane ke kantor polisi. Setelah diperiksa secara teliti terkuaklah fakta yang mengejutkan.
“Jeane seorang penderita Skizofrenia?” serunya tercengang pada polisi yang baru saja menjelaskan kasus percobaan pembunuhan istrinya. Ia mengalihkan pandangannya pada Malvij yang menghela napas lalu mengangguk. Davian memandang pria berjas resmi yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai dokter spesialis penyakit kejiwaan. Memahami maksud wajah-menuntut-penjelasan Davian, ia menjelaskan.
“Skizofrenia adalah semacam gangguan kejiwaan yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal pikiran, perasaan juga tingkah laku. Pada umumnya para penderitanya memiliki ciri-ciri seperti hilangnya perasaan afektif atau respons emosional, sering kali diikuti dengan delusi atau keyakinan yang salah dan halusinasi.”
“Tapi Jeane terlihat seperti gadis normal pada umumnya.” Bantah Davian, ia tidak percaya Jeane yang tampak sempurna ternyata menyembunyikan penyakit mengerikan seperti itu.
“Pada beberapa kasus penderita bisa saja bertingkah normal. Penyakit itu akan kembali ketika rasa marah akan sesuatu begitu meluap dan tertahan. Biasanya penderita akan meledakkan emosinya dengan melakukan sesuatu yang tidak disadari seperti melempar barang, atau bisa saja membunuh. Halusinasi terjadi ketika penderita mencoba melawan emosi negatifnya sehingga terjadi pertentangan dalam dirinya sendiri.”
“Apa anda bermaksud mengatakan penikaman terhadap istri saya terjadi karena Jeane berhalusinasi?” ujar Davian tak percaya. Kedua orang di depannya mengangguk.
“Kami masih harus menyelidiki kasus ini lebih jauh sebelum memutuskan untuk menahan pelaku atau mengirimnya ke panti rehabilitasi.” Polisi lalu undur diri setelah menjelaskan segalanya.
Davian mengurut keningnya sendiri. setelah mendengar penjelasan polisi bukannya lega ia justru semakin frustasi. Ia ingin sekali menuntut Jeane, ia marah pada gadis itu dan membencinya setengah mati karena hampir saja membunuh Alena. Tetapi setelah mendengar semua ini ia justru merasa kasihan.
“Jeane berkata padaku bahwa ia sudah tidak kuat dengan dirinya sendiri dan ingin sekali pergi dari apartemen, namun entah kenapa tiba-tiba saja ia hilang kendali dan ketika tersadar, Alena sudah tergeletak di depannya dan tangannya menggenggam pisau.” Malvin berkata.
Ia mendengarkan Jeane yang mencoba menjelaskan dengan suara gemetar saat di kantor polisi tadi.
***
XOXO