I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#57



“Kau bisa merelakan semua ini bukan?” Davian bertanya khawatir ketika mereka kembali ke rumah karena sejak tadi Alena terus termenung dalam pikirannya sendiri. Pasti surat wasiat ayahnya masih membuat ganjalan bagi hatinya.


Alena tersentak, lalu menoleh. Ia sendiri bingung sejak kapan dirinya melamun.


“Aku tidak masalah sama sekali. Kurasa Ayah mungkin merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apapun pada putranya. Karena itu, dia melakukan ini.” Davian tersentuh mendengarnya,


“Astaga, kenapa kau bisa begitu baik?” ujarnya tidak habis pikir. Ia heran sekaligus kagum dengan sikap istrinya yang begitu santai, berpikir lurus, optimis, dan sulit berburuk sangka pada orang lain. Jika itu dialami olehnya mungkin ia akan frustasi dan marah besar pada Ayahnya sendiri. Namun Alena selalu memperlihatkan sikap yang membuatnya kagum. Semoga kelak anak mereka bisa mewarisi sifat ibunya.


Alena memang sempat marah pada Ayahnya karena sudah menghianati ibunya namun itu tidak berlangsung lama. Setelah semua permasalahannya jelas, Alena kembali mempercayai Ayahnya. Jika ia membenci ayahnya, ia tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang.


“Sekarang aku jadi terpikir,” tiba-tiba Davian berkata dengan nada merenung.


“Apa?”


“Kenapa Ayah begitu membenci Jeane? Seingatku dia tidak pernah bersikap kurang ajar kepada Ayahku,” ujarnya dengan pandangan menerawang.


Alena tersentak. Ia tidak berani berspekulasi macam-macam mengenai hal ini. Ia tidak pernah berbincang lama dengan Ayah mertuanya karena itu ia tidak pernah bertanya juga mengapa Jeane begitu dibenci olehnya.


“Semoga tidak sama dengan kasus Ayahku. Aku tidak bisa membayangkan jika Jeane adalah kakak atau adik tiriku,” canda Alena berharap Davian ikut tertawa sepertinya. Namun sepertinya lelucon itu tidak menarik sama sekali karena buktinya, ekspresi Davian semakin meredup.


Perkataan Alena menimbulkan efek pukulan yang cukup kuat bagi Davian. Dahulu ia memang sempat memikirkan alasan-alasan yang masuk akal mengapa Ayahnya membenci Jeane. Tapi ia tidak pernah memikirkan alasan Ayahnya membenci Jeane karena gadis itu adalah saudara kandungnya. Tidak, jangan sampai hal itu benar-benar terjadi.


“Aku hanya bercanda, Davian. Kenapa kau memikirkan kata-kataku dengan serius?” Alena bersalah sudah berkata yang tidak-tidak. Davian mengubah cepat raut murungnya. Senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya tersungging, membuat Alena sedikit lega.


“Sudahlah lupakan. Sekarang yang penting kita segera pulang agar kau bisa beristirahat.”


Alena kira Davian tidak memikirkan ucapannya tadi namun ketika mereka hendak tidur malam harinya, Alena melihat suaminya kembali melamun.


“Davian, kenapa semenjak kita membahas Jeane wajahmu selalu murung?” Davian masih terdiam, menimbulkan kejengkelan di hati gadis yang sedang di peluknya di atas tempat tidur itu.


“Nyonya Fernandez, kau usil sekali!” omelnya.


“Siapa suruh kau melamun! Aku sempat mengira suamiku mulai kerasukan. Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Apa itu menyangkut soal Jeane?”


“Tidak.” Sela Davian cepat, terlalu cepat sampai membuat istrinya semakin curiga.


“Sungguh?”


“Iya, sudah sekarang kau tidur saja, tidur..” Davian mendekap erat Alena sampai wanita itu mengeryitkan kening karena kesulitan bernapas.


“Davian, aku mana bisa tidur jika kau memelukku seperti ini,” Alena sebenarnya tidak keberatan Davian memeluknya, bagaimana pun pelukan Davian membuatnya merasa terlindungi dan nyaman. Namun jika ia kesulitan bernapas, bagaimana ia bisa nyaman dalam pelukan itu?


Alena terus memberontak membuat Davian terpaksa menghentikan rontaan itu dengan memenjarakan tubuh Alena di bawah himpitan tubuhnya. Tindakan itu sukses menghentikan pemberontakan Alena, kini gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena merasa terintimidasi dengan senyum menyerupai seringaian yang dikeluarkan suaminya.


“Apa aku harus menciummu dulu baru kau tertidur?” Davian berbisik dengan ekspresi sensual. Alena mengerjapkan mata berkali-kali bersamaan dengan jantungnya yang berdegup kencang.


“Di-di dalam dongeng ma-napun tidak ada seorang putri yang akan tertidur jika dicium pangerannya,” kata Alena terbata. Sial, mengapa Davian selalu bisa membungkamnya dengan cara seperti ini? Dan kenapa ia masih juga terjerumus dalam rayuannya yang tidak pernah berubah sejak dulu itu? Ini adalah cara yang sering Davian gunakan untuk memperdayanya namun tetap saja ia terjebak. Sial sekali. Oh, mungkin ini akibatnya karena ia terlalu mencintai suaminya.


Davian mengangkat alisnya sebelah, “Kalau begitu kita buat dongeng yang baru. Yang lebih indah dari sekedar fairytale,”


Alena mulai memejamkan mata ketika ia kembali merasakan bibir suaminya bersentuhan dengan bibirnya. Sepertinya Davian benar, ia sekarang memang merasa seperti berada di dalam sebuah cerita dongeng. Rasanya begitu indah dan membahagiakan.


***


XOXO