I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#1



“Cantik sekali putriku.”


Aku hanya tersenyum seadanya ketika bunda melihat pantulan diriku dari cermin. Dia menghampiriku.


“ Bunda tak menyangka kau akhirnya menikah juga.” lirihnya terharu sambil mengelus lembut rambutku.


“Aku belum menikah, Bunda. Bukankah malam ini aku hanya akan bertemu dengannya, calon yang Ayah pilih untuk menjadi suamiku” ucapku sok di buat bahagia.


Bukankah aku seorang pendusta yang hebat? Aku berpura-pura bahagia di depan orangtuaku.


“Baiklah, baiklah. Bunda tunggu kau di luar. Jangan berdandan terlalu lama karena bunda yakin, tanpa berdandan pun kamu tetap bisa membuat Davian terpesona” Bunda mengerlingkan matanya nakal sebelum beranjak meninggalkan ruangan.


Aku menghela napas berat. Davian Fernandez. Itulah nama calon suamiku. Aku bahkan tidak tahu seperti apa dia. Ku raih ponsel yang tergeletak di atas meja rias lalu melihat wallpaper ponselku yang menampilkan fotoku dengan Malvin saat kami pergi berdua ke Pulau Dewata bulan lalu. Ah, aku benar-benar merindukannya.


•••


Di kediaman keluarga Fernandez, kami berbincang hangat selayaknya keluarga. Sampai detik ini aku masih tidak tahu mengapa ayah begitu ingin berbesan dengan keluarga Fernandez. Apa karena hartanya?


Mengingat keluarga Fernandez adalah owner dari Hyundai Departement Store dan kupastikan asset mereka bernilai puluhan juta dolar. Kuakui mereka pun begitu ramah dan baik. Nyonya Fernandez bahkan sudah memberiku wejangan saat aku sudah menjadi istri putranya kelak. Dia tipikal seorang ibu yang hangat seperti Bunda. Tapi aku yakin bukan itu alasannya. Meskipun keluarga kami termasuk kalangan menengah, Ayah tidak pernah mengharuskanku menikah dengan pria kaya.


“Davian.. dia seperti apa?” aku penasaran sekali karena setelah lewat satu jam kami berbincang di ruangan ini, sosok Davian belum terlihat batang hidungnya. Nyonya Fernandez mengatakan bahwa putranya mungkin sibuk dengan tugas di kantor. Aku memakluminya.


“Ah, Dia anak yang baik. Kau pasti akan menyukainya saat bertemu nanti.”


Aku menjawabnya dengan senyuman. Semua ibu pasti akan berkata begitu. Aku penasaran seperti apa rupanya karena aku tak menemukan satupun foto Davian di ruangan ini.


Ponselku bordering keras sehingga menarik perhatian semua orang yang ada di sekitar untuk menoleh ke arahku.


“Maaf, aku harus menjawab telepon..” aku membungkukkan kepala sejenak lalu beranjak ke luar ruangan. Setelah berada di tempat yang bebas dari kebisingan, aku segera menekan tombol hijau.


“Hallo..” ucapku sebiasa mungkin. Tak kupungkiri jantungku masih berdetak kencang karena tak lama lagi aku akan mendengar suara Malvin.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik.” jawabku singkat. Aku mengedarkan pandangan ke halaman depan rumah keluarga Fernandez yang tertata rapi dan cukup luas.


“Syukurlah. Kau tahu Alena, aku sekarang sedang berada di Bandara.”


Aku agak terkejut mendengarnya. “Kau akan pergi kemana?”


“Ke Jepang. Selama beberapa minggu aku ingin menenangkan diri di sana.”


“Sungguh?” tanpa kusadari suaraku semakin melemah.


Aku sedih mendengar Malvin berkata begitu lirih. Maafkan aku karena sudah menyakiti hati pria polos sepertimu.


“Aku sudah mendengarnya dari kakakku mengenai pernikahanmu. Selamat. Aku mungkin tidak bisa datang tapi aku akan selalu mendoakanmu darimanapun tempatku berada.”


Sesak. Dadaku semakin sesak mendengarnya. Ya Tuhan, darimana gosip ini berasal? Aku bahkan belum bertemu dengan calon suamiku sementara berita tentang rencana pernikahanku sudah menyebar kemana-mana?


Aku menundukkan kepalaku mencoba menahan airmata. “Maafkan aku..”


“Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Baiklah, semoga kau bahagia Alena Kezia. Mungkin setelah aku kembali kau sudah menyandang marga baru di depan namamu. Sekarang aku hanya berharap kau bisa kembali padaku meskipun itu rasanya mustahil.”


Aku baru membuka mulut ketika secara tiba-tiba Malvin memutus sambungan. Aku tercengang menatap ponselku. Dengan begini, hubungan kami resmi berakhir.


Paru-paruku rasanya sesak dan perih hingga membuatku sulit bernapas. Airmata sudah menggenang di pelupuk mata dan siap untuk jatuh. Namun rasa sedihku seperti menguap entah kemana ketika aku mendengar suara-suara asing di belakangku. Kubalikkan tubuh perlahan untuk melihat apa yang terjadi.


Sebuah mobil coupes berwarna abu-abu metalik berhenti tepat di depan teras rumah. Tak lama kemudian seorang pria keluar dari mobil. Mataku mengerjap menatapnya. Pria muda berusia sekitar 27 tahun dengan jas kantor yang melekat pas di tubuhnya.


Mungkinkah itu Davian Fernandez? Aku hampir melangkah mendekat namun langkahku terhenti ketika melihat seorang gadis ikut turun dari pintu lain. Gadis itu mendekati sang pria yang tersenyum menatapnya. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku.


Dan adegan yang kulihat berikutnya benar-benar membuat seluruh tubuhku terpaku.