I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#18



•••


“Tenanglah Bunda, Ayah pasti selamat,” Alena memeluk Bundanya seerat yang ia bisa. Dalam hati tak hentinya ia memanjatkan doa berharap dokter bisa menyelamatkan ayahnya yang mendadak kritis di dalam ruang operasi sana.


“Iya,” gumam Bunda di sela isak tangisnya. Sebagai seorang istri, ia merasa sangat ketakutan. Bagaimana jika ia tidak bisa melihat wajah suaminya lagi? ia tidak bisa membayangkan harus hidup sendiri tanpa kehadiran suaminya.


Drrrttt….ddrrrrttttt…


Ponselnya berbunyi kembali. Alena bangkit sejenak, membiarkan Bundanya sendiri duduk di kursi dekat ruang operasi sementara ia menyingkir untuk menjawab panggilan. Nomor ponsel yang tak dikenal membuatnya penasaran.


“Hallo.”


“Alena, Davian dilarikan ke rumah sakit karena demamnya semakin parah. Kau ada di mana sekarang?”


Alena terkejut bukan main ketika mendengar suara ibu mertuanya menerjang telinga seperti suara petir. Mendengar nama suaminya disebut saja mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Alena melirik Bundanya sendiri dengan perasaan bimbang, lalu beralih ke pintu ruang operasi ayahnya yang masih menyala. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin meninggalkan ibu di sini sendiri. dan bagaimana mungkin aku pergi di saat Ayah sedang berjuang untuk bertahan hidup di dalam sana? Alena merasa bimbang sampai ingin menangis rasanya.


“Kau kenapa nak?” Bunda menyadari ada yang salah dengan putrinya. Alena menoleh dengan sorot mata takut dan bingung.


“Davian, dilarikan ke rumah sakit.” suara Alena terdengar gemetaran menahan tangis. Bunda terkejut mendengarnya. Ia langsung panik.


“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Cepat temui suamimu!” ucap Bunda.


“Tapi bagaimana dengan Bunda? dan Ayah...”


Bunda paham kebimbangan yang dirasakan Alena. Ia menghela napas lalu membelai rambut putrinya dengan lembut.


“Nak, di saat seorang perempuan menjadi istri, prioritas utamanya bukanlah ayah atau ibunya lagi tetapi suaminya. Karena itu, kau tidak perlu mencemaskan Bunda ataupun Ayah. Yang perlu kau cemaskan adalah suamimu. Sekarang kau harus cepat pergi ke tempat Davian dilarikan. Bunda yakin Ayahmu pasti paham, yah, jika itu yang kau cemaskan.”


Alena merasa kebimbangannya sedikit terobati berkat ucapan Bunda. Benar, ia memang harus pergi. Ia segera bangkit.


Bunda mengangguk. Anggukan singkat yang mampu memberikan keberanian bagi Alena. Ia segera berlari menuju ruang dimana Davian di rawat. Kebetulan, Davian dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Ayahnya.


•••


Di dalam ruang rawat, Alena menemukan kedua orang tua Davian memandang cemas ke arah pria yang kini terbaring di atas tempat tidur. Ibu lebih dulu menyadari kedatangan Alena. Senyum lemah tersungging di bibirnya. Alena cukup tahu betapa Ibu mencemaskan putra semata wayangnya itu. Alena menghampirinya perlahan.


“Maaf Ibu, aku..,” Alena menundukkan kepala berkali-kali. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Davian dengan baik. Ia siap dimarahi seperti apapun oleh mereka.


“Ini bukan salahmu,” ucap Ayah menenangkan. Ia bisa melihat rasa bersalah dalam tingkah menantunya. Dan ia tidak ingin membuat Alena merasa semua hal malang yang terjadi pada Davian adalah salahnya.


“Duduklah, kau pasti lelah. Lihat wajahmu,” Ibu berkata cemas sambil memegang pipi Alena. Wajahnya begitu pucat dan ada lingkaran hitam di sekitar mata Alena.


Alena merasa sangat beruntung memiliki mertua sebaik mereka. Rasanya ia ingin menangis namun rasa cemas berhasil mengalahkannya. Saat menatap Davian yang terbaring lemah di tempat tidur, airmatanya jatuh begitu saja. Entah kenapa, keadaan Davian sekarang mengingatkannya pada keadaan Ayahnya. Begitu duduk, Alena segera menggenggam tangan Davian dengan penuh kelembutan.


“Davian, maafkan aku,” bisiknya dengan suara berat. Davian tak merespon karena baru saja di berikan suntikan penurun demam oleh dokter.


Ibu menceritakan bahwa Davian dilarikan ke rumah sakit setelah mendadak pingsan di rumah dan setelah diperiksa secara intens, dokter mengatakan bahwa fungsi fisik Davian mengalami penurunan drastis yang mengakibatkan suhu badannya meninggi dan kesadarannya hilang. Hal itu bisa saja terjadi karena beberapa alasan. Dan alasan utamanya karena stress.


Setelah mendengarnya, Alena semakin merasa bersalah. Ia tahu, alasan mengapa Davian bisa seperti ini. Tidak lain karena dirinya.


“Siapa yang membawanya kemari?” Ia bertanya karena Davian sendirian di rumah ketika ia pergi.


“Ibu sedang pergi ke minimarket dan ketika kembali ke apartement, Ibu melihat Jeane panik memanggil ambulans.”


Mata Alena melebar ketika nama Jeane kembali masuk ke telinganya. Jadi, gadis itu datang ke apartemennya? Untuk apa?