I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#71



Malvin memejamkan mata sejenak, ikut merasa bertanggung jawab atas kejadian ini. Jika saja ia menyadari lebih cepat, ia mungkin bisa mencegah Jeane melakukannya setelah ia melihat gadis itu menangis frustasi tempo hari.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” desah Davian.


“Apa kita tetap menuntutnya?”


Malvin menepuk pundak Davian, “Jika kau merasa keberatan karena dia sudah menikam Alena, kau boleh menuntutnya. Tetapi kusarankan kau agar tidak memperkarakan ini ke pengadilan. Aku tidak bermaksud membela Jeane. Tetapi dia lebih membutuhkan terapi dibandingkan kurungan penjara.”


Malvin segera melanjutkan ketika Davian membelalakkan mata padanya, “Lagipula bukankah Alena baik-baik saja?”


Davian membuka mulut ingin mengeluarkan amarahnya bahwa Jeane lebih dari pantas untuk dipenjara. Namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar karena akal sehatnya menyetujui pendapat Malvin. Akhirnya ia hanya mengerang dan meninju tembok di sampingnya.


Jeane bersalah, tentu saja ia harus membuat perhitungan dengan gadis itu. Tetapi Davian merasakan ganjalan di hati yang membuatnya menolak gagasan itu. Jeane melakukannya karena jiwanya terganggu.


Apakah ia harus mengikuti saran Malvin? Lagipula pria itu benar. Yang terpenting Alena baik-baik saja sekarang. Ia harus memprioritaskan keselamatan Alena.


Teringat Alena, seketika itu juga emosi lenyap di hati Davian. Ia menghembuskan napas keras lalu mengangguk.


“Jika itu memang yang terbaik, aku ikuti saranmu.”


Malvin mengangguk lalu berbicara dengan polisi dan psikiater itu. Kemudian beranjak pergi untuk mengurusnya.


“Sudah kuduga ini akan terjadi!” ujar Ayahnya dingin. Davian mengangkat wajah, terkejut atas ucapan tiba-tiba pria paruh baya itu,


“karena itu kusuruh kau menjauh darinya! Dia tidak lebih dari seorang psikopat gila yang berpura-pura menjadi gadis normal!”


“Apa maksudmu, Ayah?” Davian membelalakkan mata kaget.


Rahang Ayahnya tampak mengeras, “Inilah alasan kenapa aku menyuruhmu tidak menjalin hubungan dengan gadis itu. Mentalnya terganggu karena trauma di masa kecilnya. Dia seringkali kehilangan diri jika ia sudah terlalu marah ataupun sedih. Kau tidak pernah bertanya kenapa Jeane tidak pernah menceritakan tentang ibunya?”


Davian lantas menggeleng, seingatnya Jeane memang tidak pernah menceritakan apapun mengenai ibunya. Malah Davian tidak pernah mendengar Jeane bercerita tentang keluarganya. Namun detik berikutnya ia mengerjap, ia tercengang memandang ayahnya,


“Dia yang membunuh ibunya sendiri.” Wajah Davian memucat.


“Saat itu dia bersumpah tidak tahu dan hanya ingat bahwa dirinya dihipnotis oleh suara-suara mengerikan yang terus terdengar sebelum dia kehilangan diri dan menghabisi nyawa ibunya sendiri.”


Davian melebarkan matanya dengan mulut terkatup rapat. Tak pernah ia sangka Jeane yang terlihat begitu normal, cantik dan pintar memiliki sisi gelap seperti itu. Ia jadi ingat cerita Sena—Istri Dion—tentang Jeane.


Gadis itu mendadak berubah baik setelah terjebak kasus misterius dan menghilang. Mungkinkah saat itu Jeane sedang dalam masa pemulihan di tangan psikiater? Sekarang cerita itu membuatnya masuk akal. Astaga, ia bahkan mengabaikan hal itu sama sekali. Ia kebali jatuh terduduk di kursi panjang.


“Bagaimana Ayah tahu semua ini?” lirihnya, menatap Ayahnya putus asa.


“Dan kenapa Ayah tidak menceritakannya dengan jujur padaku? Jika sejak awal aku tahu, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Oh Tuhan..” Davian meremas rambutnya.


Semua kenyataan ini membuatnya limbung. Davian bangkit lalu memandang ke arah dalam, di mana istrinya berbaring dengan seperangkat alat medis tertempel di tubuhnya. Hatinya terasa sesak.


Alena, jika kau ada bersamaku kau pasti akan memberiku saran yang tak akan membuatku bingung. Kau harus bangun, sayang.


Flashback End


***


Satu gerakan kecil membuat Davian terjaga pagi itu. Semalaman tangannya tidak lepas menggenggam tangan istrinya dan ketika ia merasakan tangan itu bergerak, ia langsung terjaga.


“Sayang..” desahnya penuh harap sambil menatap lekat-lekat wajah pucat Alena. Perasaan gembira segera meledak di benaknya ketika kelopak mata itu perlahan membuka dan menampilkan sepasang iris mata hitam yang dirindukannya.


Betapa bahagianya Davian saat itu. Hilang sudah kantuknya karena perasaan lega yang melingkupi hatinya menyadari Alena baik-baik saja.


***


XOXO