
Alena mungkin masih membeku di tempatnya jika suara ramah Jeane tidak terdengar. Wanita itu tersentak lalu matanya yang bulat mengerjap beberapa kali berusaha memastikan sosok di depannya bukanlah fatamorgana. Setelah sadar, susah payah ia mengeluarkan suara.
“Aku tidak menyangka kau akan kemari.” Jeane tertawa ringan sambil membenarkan letak sampiran tali tas di pundaknya.
“Aku hanya ingin berkunjung, sudah cukup lama aku tidak kemari. Boleh aku masuk?” Alena yang tersadar ia sudah berlaku tidak sopan pada tamu segera membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Jeane masuk.
“Davian tidak ada di sini, ya, jika kau ingin bertemu dengannya.” Jeane berhenti mengamati apartemen lalu menoleh pada Alena.
“Mengapa kau berpikir aku kemari untuk bertemu Davian?”
Ucapan Jeane membuat Alena terperanjat dan tergagap di saat yang bersamaan. Jeane benar, kenapa ia berpikir seperti itu? Astaga, ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tetapi bukankah sebelumnya kau kemari untuk bertemu dengannya?” Alena tidak bermaksud menyinggung Jeane, tetapi bukankah memang begitu kenyataannya? Jeane tahu kejadian mana yang dimaksud Alena , karena itu ia hanya tersenyum simpul.
“Aku ingin bertemu denganmu, tentu saja.” ekspresi Jeane benar-benar tulus ketika mengatakannya karena itu Alena tidak bisa memikirkan hal buruk lagi tentangnya. Ia segera memaparkan senyum ramah.
“Tentu saja aku tahu,” Alena berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minuman. Ia mempersilakan Jeane duduk di kursi tinggi yang ada di depan meja bar kecil dekat dapur.
“Bagaimana kabarmu?” Alena bertanya tetap dengan tangan yang tetap sibuk membuatkan teh untuk Jeane.
“Baik-baik saja,”
Alena mencoba mengabaikan cerita yang didengarnya dari Sena. Setelah mengamati Jeane hari ini bagaimana pun gadis itu terlihat normal dan sangat sehat. Mungkin Jeane memang sedang sakit ketika mereka bertemu di rumah sakit waktu itu.
Jeane menggumamkan kata terima kasih begitu Alena meletakkan secangkir teh di depannya lalu duduk di kursi lain tepat di sampingnya.
“Kau benar-benar berbeda dengan istri kebanyakan,” Jeane menatap Alena kagum.
“Kau tidak marah dan membiarkan mantan kekasih suamimu masuk ke dalam rumahmu.” Alena tersenyum malu karena ia merasa Jeane sedang memujinya,
“Bukankah kita berteman?” ujarnya dengan pandangan lembut. Sontak Jeane membelalakkan mata mendengar kata ‘teman’ yang sudah lama tidak didengarnya dari orang. Selama ini ia tidak pernah benar-benar memiliki seorang teman.
“Jika aku terus terpaku pada masa lalu, bagaimana aku bisa menjalin hubungan baik dengan seseorang di masa depan? Aku percaya padamu bahwa kau tidak akan melakukan hal jahat lagi.”
Jeane hanya mengangguk ringan, ia mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya sedikit. Ucapan Alena membuat hati bergemuruh Jeane sedikit teredam. Jeane terus meyakinkan diri bahwa Alena adalah gadis baik. Ia terus memprovokasi pikirannya sendiri dengan hal-hal positif.
“Apakah Davian memperlakukanmu dengan baik?”
“Ya, dia sangat baik. bahkan dia semakin romantis semenjak aku mengandung,” Alena mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. kemudian Alena mulai menceritakan tentang betapa romantisnya Davian padanya dan bagaimana pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.
Jeane harus mencengkram cangkirnya karena tiba-tiba saja hatinya seperti terbakar.
Aku tidak boleh lepas kendali, aku tidak boleh lepas kendali. Alena gadis baik, dia menganggapku teman.
Terus saja Jeane mengulang kalimat itu. Tangannya sampai bergetar dan buku jarinya memutih. Ia bahkan mengabaikan bahwa cangkir itu berisi teh panas yang bisa melepuhkan kulit putihnya.
***
Malvin tidak bisa berkonsentrasi, ia mengurut keningnya sendiri dan menyerah dengan pekerjaannya. Ia menoleh pada telepon yang terletak di sisi kiri meja kerjanya, ragu-ragu apakah ia harus menelepon Alena untuk memastikan keadaannya ataukan menelepon Jeane untuk bertanya keberadaan gadis itu.
Seandainya Malvin tidak terusik kata-kata Jeane, ia tidak akan sepusing ini.
Flasback
Malvin terkejut saat ia duduk di samping Jeane, gadis itu tiba-tiba berkata dengan suara lirih.
“Aku sudah berusaha melawannya, sungguh. Tapi aku tidak bisa..” kedua sudut matanya mengalirkan airmata. Malvin tercengang. Sebelum ia sempat menyadari kondisi Jeane, gadis itu memeluknya tiba-tiba.
“Kumohon, Malvin... tolong aku..”
Malvin tercengang, apa sebenarnya yang terjadi? Ia bertanya-tanya sendiri. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia hanya bisa balas merangkul Jeane.
“Apa telah terjadi sesuatu?” bisiknya penasaran sekaligus cemas. Jeane melepaskan pelukannya pelan-pelan. Gadis itu menunduk dengan tangan meremas bajunya erat. Malvin bingung dengan sikap aneh Jeane malam ini. Gadis ini terlihat begitu berbeda.
“Aku sudah mencoba menghilangkannya, aku sudah berusaha melawannya hingga saat ini namun aku tidak bisa, dalam otakku hanya terlintas pikiran untuk melenyapkan semua hal yang menggangguku. Semua itu membuatku takut, membuatku tidak bisa tidur nyenyak, bahkan aku selalu merasa membenci semua orang yang membuatku seperti ini. Aku benci..” Jeane mencengkram erat rambutnya. Malvin tersentak lantas berusaha menghentikan ulah Jeane yang seolah ingin seluruh rambut di kepalanya terlepas.
“Tunggu, Jeane...” Malvin menurunkan tangan Jeane. Setelah Jeane menjadi lebih tenang, ia menatap gadis itu dengan penuh perhatian.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
Jeane yang ditatap penuh perhatian oleh pria, untuk pertama kalinya setelah Davian menikah merasa begitu terharu hingga dari kedua sudut matanya mengalirkan airmata.
“Aku takut, aku takut diriku lepas kendali lagi.. kumohon cegah aku melakukannya..”
Malvin terenyuh, antara simpati dan kasihan melihat Jeane menangis seperti ini. Ia masih tidak mengerti dengan masalah yang dialami Jeane. Tetapi siapapun yang menatap mata Jeane sekarang, pasti akan berpikir Jeane sedang menghadapi sesuatu yang sangat berat. Sesuatu yang begitu memilukan dan tak sanggup membuatnya hidup lagi.
“Aku..” Jeane berkata dengan suara terisak,
“Aku tidak mau membunuh orang lagi. Aku tidak mau..” Malvin terbelalak mendengarnya. Membunuh? Gumamnya tercengang.
“Hanya karena aku diperlakukan tidak adil, aku tidak ingin melampiaskan rasa kesalku pada orang-orang yang sudah membuatku menderita.. aku takut..” Jeane menangis, suara tangisannya terdengar begitu memilukan. Malvin hanya bisa terpaku di tempatnya, sejujurnya, ia masih tidak paham maksud dari kata-kata Jeane.
Flasback End.
***
XOXO