I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#29



Davian sempat menatap Jeane marah. Tetapi sosok Jeane membuatnya tersadar bahwa dirinya memang sempat memberi harapan palsu padanya. Itu sebelum ia diberi hukuman berat oleh Tuhan. Semuanya terucap sebelum ia sadar bahwa perasaannya pada Jeane bisa terhapus oleh rasa cintanya pada Alena. Davian tidak tahu pada dirinya akan terpikat pada kepribadian Alena yang terlalu berbeda dari imajinasi wanita impiannya.


Jeane memang memiliki segalanya yang Davian mau dari seorang wanita, karena itu ia tertarik pada Jeane. Tetapi ketika Alena masuk ke dalam hidupnya, Davian menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri gadis itu. Sesuatu yang sempat dibencinya namun ternyata menjatuhkannya ke dalam oase indah yang disebut cinta.


“Maafkan aku, Jeane. Aku tahu aku salah. Tetapi, aku mohon untuk sekarang lupakan aku dan apapun yang terjadi antara kita di masa lalu. Alena adalah masa depanku sekarang dan aku hanya ingin menjalani sesuatu yang direstui orang tuaku,” jelas Davian sepelan dan sehalus mungkin. Ia bersiap menerima apapun reaksi Jeane malam ini dan benar saja, keterkejutan tergambar dalam wajah cantik Jeane. Rahang gadis itu mengeras dan tangannya mengepal erat.


“Kau memintaku melupakan kenangan kita? Semudah itu kau memintaku melakukannya? Kau pikir itu akan semudah merobek kertas kotor yang penuh coretan yang menulis di lembaran yang baru? Aku tidak akan melakukannya. Kita lihat saja, siapa yang akan kalah nanti,” Jeane mengatakannya dengan suara terguncang. Gadis itu berbalik pergi sambil berusaha mempertahankan pose anggunnya.


Davian membuang nafas berat sementara Alena mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sudut hanya tersentuh mendengar ucapan Jeane. Sejujurnya, Jeane tidak salah sepenuhnya. Gadis itu hanya korban saja. Benar apa yang Jeane katakan. Menghapus kenangan yang sangat berarti tak semudah merobek kertas kotor dan menggantinya dengan yang baru. Jika dirinya menjadi Jeane, mungkin saat ini ia akan melakukan hal yang sama dengan Jeane.


•••


Alena merasa sangat asing di tengah pesta karena tak ada yang dikenalnya selain Davian dan keluarganya. Sekarang Davian sedang mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya dan ia tersudut di pojok ruangan seorang diri. Menatap bosan orang-orang yang berbincang hangat di sekitarnya. Ia menyesap sampanye namun meringis kemudian.


“Uh, rasanya tidak enak,” ia lalu meletakkan kembali gelas berisi cairan kekuningan itu. Ia memutuskan untuk menghampiri Davian dan bergabung dengan perbincangan membosankan di banding didiamkan di sudut ruangan seperti obat nyamuk. Tetapi baru beberapa langkah ia terhenti karena sosok di hadapannya menghalangi. Ketika kepalanya mendongak untuk melihat wajah di depannya, ia terkejut.


“Malvin..” lirihnya tak percaya. Malvin memperlihatkan senyum manis khas miliknya lalu memberi salam.


“Aku senang bertemu dengan seseorang yang kukenal di tengah pesta membosankan ini,” ucapnya.


“Kau datang sendiri?” tanyanya karena dilihatnya Malvin tak bersama siapapun.


“Aku datang bersama kakak,” dia menoleh pada kakak laki-lakinya yang sekarang sedang mengobrol dengan beberapa orang.


“Kenapa tidak mengajak kekasihmu?” canda Alena mencoba mencairkan suasana. Donghae menatapnya lurus.


“Tidak mungkin. Kekasihku sudah menikah dengan pria lain,” ucapnya tanpa bermaksud menyinggung Alena sedikitpun karena memang begitu kenyataannya. Namun Alena langsung serba salah menanggapinya.


Sudut mata Davian tanpa sengaja melihat istrinya berbincang dengan pria bernama Malvin yang dilihatnya tempo hari. Rasa curiganya muncul karena Alena tampak salah tingkah setelah Malvin berkata sesuatu. Davian terpaksa menyudahi obrolan dengan beberapa rekan kerjanya lalu menghampiri istrinya.


“Alena,” baru Davian memanggil istrinya orang lain ada yang lebih dulu memanggil namanya.


“Hei, Davian!!!” teriakan itu cukup untuk membuat Davian, Alena, dan Malvin menoleh ke arah sumber suara. Davian terkesiap melihat pria yang berjalan menghampirinya dengan wajah ceria.


“Lama tidak jumpa. Kau jarang terlihat akhir-akhir ini.”


“Kau saja yang terlalu sibuk. Oh, dia pasti istrimu. Kau belum memperkenalkannya padaku secara resmi,” ujar Dion saat pandangannya teralih ke arah Alena. Davian segera menarik Alena ke dekatnya.


“Alena, dia sahabatku, Dion. Dion, ini Alena, istriku.” Mereka berjabat tangan sambil saling memperkenalkan diri. Davian merasa tertarik pada gadis yang berdiri di samping Dion.


“Hei, dia istrimu?" Dion terkesiap bahwa sejak tadi dirinya lupa memperkenalkan wanita yang ada bersamanya.


“Bukan, dia adikku. Baru saja kembali dari kuliahnya di Swiss.”


“Hallo semua, aku Yuka. Yuka Radhian,” Gadis bernama Yuka itu tersenyum lalu menyalami Davian dan Alena. Ketika dia mengulurkan tangannya pada Malvin, pria itu hanya menatap tangannya. Tidak berniat menjabatnya sama sekali. Yuka yang menyadari respon tak ramah Malvin segera menarik tangannya lagi.


“Kenapa kau tidak mengajak istrimu?” tanya Alena heran. Dion mendesah sambil tersenyum.


“Kakak ipar sibuk dengan kegiatan amalnya. Mungkin akan kembali akhir tahun ini,” ucap Yuka lebih dulu. Dion mengangguk membenarkan.


“Astaga, kau harus segera mencari istri baru yang lebih mencintai dirimu dibanding kegiatan amalnya,” gurau Davian namun cepat disikut oleh Alena. Menurutnya ucapan Davian tadi itu tidak sopan. Bagaimana jika Dion tersinggung karena ucapannya.


“Ah, sulit sekali jika sudah terlalu mencintainya. Bukankah begitu, Nyonya Fernandez?” Dion melirik Alena yang langsung terperangah mendengar penuturannya. Alena sempat tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum hangat.


“Tak peduli ruang dan waktu atau jarak yang jauh memisahkan, cintamu padanya tidak akan pernah berkurang. Itu kan maksudmu?” balasnya.


“Bingo!” Diin menjentikkan jarinya puas. Yuka dan Davian langsung berdecak bersamaan sementara Malvin terdiam. Apakah itu perasaan yang ada dalam hatinya untuk Alena?


“Wah, kalian benar-benar cocok. Senang sekali berfilosofi,” celetuk Yuka.


_______


XOXO