
Bel kembali terdengar dan kali ini Davian menggerutu.
“Orang bodoh mana yang datang menggangguku?!” meskipun sakit dan kepalanya terasa berkunang-kunang, Davian memaksakan diri bangun karena ia yakin Alena pasti sedang tidak ada di rumah. Jika gadis itu ada, pasti bel sudah berhenti berbunyi sejak lima menit yang lalu.
Susah payah Davian berjalan ke arah pintu lalu membukanya tanpa melihat ke layar pengawas.
“Hallo, Oh my god!!” suara pekikan perempuan terdengar masuk ke gendang telinga Davian. Pria itu memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas siapa yang ada di hadapannya.
“Jeane,” lirihnya sedikit terkejut.
“Kau kenapa?” Jeane menerobos masuk lalu merangkulnya, bermaksud membantu Davian agar bisa berdiri tanpa khawatir akan jatuh tersungkur.
“Badanmu panas sekali! Kau harus ke dokter! Gadis itu kemana? Seharusnya dia menjagamu bukannya pergi keluyuran tak jelas!” gerutu Jeane sambil tetap memboyong tubuh Davian agar membaringkan diri di atas ranjangnya.
“Jangan bawa-bawa Alena! Dia sudah menjagaku semalaman. Aku yakin dia hanya ke supermarket sebentar,” gumam Davian.
Jeane memberengut tidak senang mendengar Davian membela Alena meskipun tidak benar-benar bermaksud begitu. Yang pasti ia tidak suka mendengarnya.
“Kau membela istrimu?” balas Jeane dingin.
“Kau datang kemari untuk mengajakku berdebat?” Davian malah balas melemparkan pertanyaan. Jeane menggelengkan kepala tak percaya. Entah kenapa, ia merasa ada yang berubah dalam diri Davian.
“Kau berubah,” lirih Jeane dengan nada mengambang. Ia sendiri ragu mengapa bisa menyimpulkan hal itu. Namun ia yakin memang ada yang berbeda. Davian menoleh, ia agak terkejut mendengar pernyataan Jeane.
“Apa kau marah karena aku tidak menjawab teleponmu semalam? Maaf jika memang itu sebabnya. Tetapi, aku tidak suka jika kau menjadi dingin padaku karena gadis itu. Aku sangat mencintaimu. Bukankah kau tahu hal itu dengan benar?” ujar Jeane dengan suara tercekat. Ia berusaha menyelami sorot mata Davian yang kini menatapnya lurus-lurus. Ia ingin sekali Davian segera membantah seperti biasanya. Hanya saja sepertinya kali ini hal itu hanyalah khayalan tak berguna karena pada kenyataannya, Davian justru menatapnya dengan pandangan menajam.
“Kau mencintaiku? Lalu kemana dirimu disaat aku paling membutuhkan keberadaanmu? Kenapa semalam kau tidak menjawab panggilanku? Kau tahu apa yang terjadi?” tanya Davian sinis. Tanpa menunggu jawaban Jeane, Davian menunjukkan tangannya yang dibebat. Gadis itu membelalakkan mata kaget.
“Aku kecelakaan. Dan aku sangat mengharapkan bantuanmu malam tadi. Lalu kau tahu siapa yang datang menolongku dengan wajah paniknya? Ya, gadis pengacau yang seringkali kau bilang. Dialah yang datang menolongku!” ucap Davian tegas. Ia sendiri merasa heran mengapa ia bisa semarah ini saat berbicara pada Jeane. Ia tidak tahu poin mana yang membuat ia merasa geram, kesal, dan tidak terima. Apakah karena Jeane tidak menjawab panggilannya, ataukah karena Jeane baru saja menghina Alena?
“Kau kecelakaan?” Jeane menggumam tak percaya. Tangannya berusaha menyentuh tangan Davian yang dibebat. Namun Davian segera menarik tangannya.
“Pulanglah.”
“Hah?” Jeane tercengang mendengar Davian mengusirnya. Ini pertama kalinya Davian bersikap dingin.
“Kubilang pulanglah,” Davian mencoba bangkit untuk menggiring Jeane keluar dari rumahnya. Namun saat kedua kakinya menapaki lantai, dunia seperti berguncang hebat. Ia membelalakkan matanya kaget sebelum akhirnya seluruh pandangannya berubah gelap gulita.
•••
*Terimakasih sudah membaca cerita saya.
Mohon dukungannyaa,,,
XOXO*