
Yuka melebarkan matanya takjub mendengar nama pria yang disukainya disebut Alena. Jadi, jadi Malvin adalah pria yang setia? Tapi tunggu dulu..jika memang Malvin pria yang setia itu artinya tidak akan ada kesempatan untuknya karena Malvin pasti tidak akan meninggalkan Jeane.
Entah kenapa Davian merasa cemburu sekali mendengar Alena berkata penuh kekaguman seperti itu dan secara tidak langsung Alena berkata dirinya bukanlah pria yang setia. Apa karena dulu ia sempat membuatnya menderita karena gadis lain sehingga Alena tidak pernah merasa mendapatkan kesetiaan darinya?
“Kenapa diam?” Alena heran sekali karena sejak tadi Davian tidak berkomentar apa-apa. Pertanyaannya itu belum sempat terjawab karena Dion datang menghampiri mereka membawa istrinya. Davian pun segera menormalkan perasaan yang sempat menggemuruh tadi. Tetapi Alena tahu senyum yang diperlihatkan Davian adalah senyum yang dipaksakan.
“Oh, jadi ini Nyonya Dion yang selalu dibanggakan Dion? Senang bertemu denganmu.” Davian menjabat tangan Sena—istri Dion—yang dikenalkan pria itu kepadanya sambil tersenyum.
“Terima kasih. Aku juga tidak tahu kau sudah menikah, Davian,” Sena balas tersenyum lalu melirik Alena dan mengulurkan tangannya.
“Sena, senang berkenalan denganmu.”
“Aku Alena,”
“Kak, akhirnya kau kembali. Aku takut kakakku akan masuk ruang IGD karena terus mengigaukan namamu setiap malam,” ujar Yuka usil sambil merangkul kakak iparnya. Dion hanya menatap gemas adiknya itu. Bisa-bisanya mengadu hal-hal aneh pada istrinya.
Mereka kemudian mengobrol sejenak sebelum akhirnya pulang. Dion memaksa Alena dan Davian mampir ke rumahnya untuk merayakan kepulangan istrinya. Mereka bahkan tidak bisa menolak sama sekali setelah Sena ikut memohon.
Sekarang mereka berada di kediaman Dion. Yuka tidak ikut karena harus kembali ke rumah sakit. Alena dengan senang hati membantu istri Dion itu menyiapkan makanan sementara para suami asyik mengobrol di ruang makan.
“Aku jadi tidak enak kau repot-repot membantu karena kau adalah tamu di sini,” Sena mengungkapkan rasa tidak enaknya ketika Alena ikut menyiapkan makanan dengannya di dapur. Alena tersenyum menenangkan.
“Jangan sungkan. Aku tidak keberatan sama sekali.”
"Davian bilang kau sedang hamil, benarkah?”
“Ya. Sekarang memasuki bulan ke dua.”
“Astaga, aku juga ingin sekali lekas memiliki anak,” Sena memandang wajah gembira Alena ketika mengusap perutnya dengan iri.
“Sekarang mungkin kau bisa mendapatkannya, bukankah kau tidak akan pergi ke luar negeri lagi?”
“Oh, kegiatan amal sudah selesai. Lagipula jika aku terus pergi, aku khawatir Dion akan menceraikanku.” Candanya.
“Tidak mungkin, bisa kulihat betapa setianya dia menunggumu hingga pulang.” Sena tertawa ringan sambil memasukkan loyang ke dalam microwave.
“Sebenarnya, awal kami menikah bukan karena cinta.” ujarnya. Alena berhenti tersenyum lalu memandang Sena.
“Saat itu aku belum mencintai suamiku, hanya saja ke dua orang tuaku menyuruhku lekas menikah begitu aku lulus dari kuliahku. Aku yang tidak memiliki kekasih tentu saja bingung ketika dituntut mengenalkan calon suamiku. Aku dilanda kebingungan dan sempat ingin kabur juga karena tidak mau dijodohkan oleh orang tua. Malam itu demi menghilangkan kepenatan aku pergi ke sebuah klub malam,” Sena berhenti sejenak untuk memandang Alena . Wanita itu tetap mendengarkan ceritanya dengan intens, sesekali melemparkan senyum penuh pengertian.
“Astaga,” Alena menutup mulutnya.
“Kalian melakukannya dalam keadaan mabuk?” ujarnya agak berbisik. Sena mengendikkan bahu.
“Entahlah, aku tidak bisa mengingat apapun. Namun saat itu aku begitu histeris. Kami sepakat untuk tidak bertemu kembali namun beberapa minggu kemudian aku merasa mual-mual. Aku berpikir mungkin saat itu aku sedang hamil.”
Alena mulai tertarik dengan cerita selanjutnya, “Lalu apa yang kau lakukan?”
“Aku meminta pertanggung jawaban Dion. Sebelum orang tuaku tahu dan menghakimi Dion, aku memintanya menikahiku dan mengatakan aku hamil tanpa mengetes kebenarannya. Padahal saat itu Dion hampir saja menikah dengan kekasihnya.”
“Apa?” Alena melebarkan mata.
“Dan dia setuju menikahimu?”
“Tentu saja, dengan sedikit paksaan akhirnya kami menikah.” Sena bercerita dengan tangan sibuk mengolah masakan dalam wajan sementara Alena sedang mengiris buah untuk salad.
“Kau bergosip tentangku dengan istri temanku, hm?” Dion tiba-tiba sudah berada di samping Sena, berkata pada istrinya itu dengan nada jahil.
“Itu fakta, bukan gossip,” balas Sena cuek, sambil melempar senyum misterius pada Alena yang membalasnya dengan senyum serupa.
Dion mengendikkan bahu dan melaksanakan tujuan utamanya menginjak dapur, yaitu mengambil teko kopi dari mesin kopi dan menuangkannya ke dua gelas cangkir.
“Yang pasti pada akhirnya aku mencintaimu, bukan?” Dion melemparkan senyum kembali sebelum pergi.
Alena tahu kata-kata itu bukan untuknya, tapi entah kenapa pipinya merasa memanas karena malu atau mungkin iri. Ia tidak pernah mendapatkan pernyataan cinta yang langsung dan gamblang dari Davian.
Pandangan matanya melirik ke arah Sena dan sesuai dugaannya, gadis itu juga merona merah.
“Ya, dia selalu benar.” lirih Sena di sambut anggukan ringan dari Alena. Mengetahui ada seseorang yang mengalami nasib serupa, Alena merasa hidupnya menjadi lebih baik. Setidaknya, ia bukan satu-satunya wanita di dunia ini yang menjalani pernikahan penuh kebencian pada awalnya.
Awal pernikahannya memang terasa begitu berat. Tetapi sekarang ia bisa memetik buah manis dari kesabaran dan ketegarannya menghadapi keangkuhan seorang Davian Fernandez. Ia bisa mendapatkan cinta pria itu dan juga bayi yang sedang bertumbuh-kembang di dalam perutnya sekarang.
***
XOXO