I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#44



“Aku tidak menyembunyikan apapun!!” teriak Alena. Davian terkejut melihat istrinya tampak begitu tersiksa. Seperti orang yang menanggung beban berat seorang diri.


“Aku pasti akan menceritakannya padamu tapi tidak saat ini. Jadi kumohon..” Alena mengatupkan kedua tangannya di depan dada, seperti orang yang meminta permohonan.


“Kumohon jangan memaksaku bercerita sebelum aku siap..” Davian tidak mudah untuk luluh. Semakin Alena meminta Davian untuk berhenti memaksanya bercerita, kadar kecurigaannya justru kian bertambah.


“Kenapa aku tidak boleh tahu? Beri aku alasan yang masuk akal kenapa aku tidak boleh memintamu bercerita?! Kau anggap aku apa? Aku ini suamimu, Alena. Aku berhak tahu apapun tentang masalahmu. Mungkin aku bisa membantumu mencari solusi atas masalah itu.” Alena menggeleng cepat, ia membalikkan badan membelakangi Davian.


“Kau tidak akan bisa membantuku memecahkan masalah ini.” Gumamnya lemah. Ya, Davian tidak akan bisa memberikan solusi masalahnya dengan Malvin karena dia tidak ada sangkut pautnya sama sekali.


Davian mengangguk tegas, sekarang ia semakin paham kenapa Alena terus bertingkah aneh akhir-akhir ini.


“Aku tahu, kau memang masih mencintai Malvin.” gumamnya. Ia berbalik pergi setelah merasa tidak ada gunanya lagi berdebat dengan Alena.


Alena menoleh cepat ke arah Davian yang menyambar mantelnya lalu berjalan ke arah pintu. Gambaran Davian yang pergi dengan wajah penuh amarah terngiang kembali. Memori-memori kelam awal pernikahannya seperti terbayang-bayang lagi mengaburkan pandangan Alena. Ia mengedipkan matanya berkali-kali dan menyadari dunianya mulai berkunang-kunang.


“Davian..” Alena sebenarnya berteriak kencang. Namun yang keluar dari mulutnya justru ucapan lirih yang sangat kecil. Kepalanya seperti meledak dan beberapa detik setelahnya ia jatuh tak sadarkan diri.


•••


Alena terbangun setelah hidungnya mencium bau obat yang menyengat. Matanya memicing memindai tempatnya berada sekarang. Rupanya sebuah kamar rawat rumah sakit. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Samar-samar ia ingat kejadian sebelum ia pingsan. Ia berteriak pada Davian yang berjalan pergi dan setelah itu pandangannya menggelap.


“Kau sudah sadar?”


Pandangannya kini teralih pada sosok Davian yang masuk ke dalam ruangan. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa melihat Alena sudah siuman. Ia menarik kursi di samping tempat tidur lalu mengecek suhu badan Alena. Syukurlah suhunya sudah kembali normal.


“Davian, maaf.” Gumam Alena ketika ia sadar bahwa mereka sedang bertengkar ketika ia pingsan. Ia memang salah karena tidak bisa jujur pada Davian. Tak disangka Davian justru memegang tangannya dengan mata berbinar-binar.


“Kau, gadis licik. Selalu saja tahu cara membuatku berhenti marah padamu.” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Apa maksudnya?” Alena tidak paham maksud Davian. Ia hanya tahu satu hal, Davian tidak marah lagi padanya.


“Terima kasih sudah memberiku malaikat kecil, Alena,” gumamnya lalu menatap lurus Alena.


“Kau hamil, sayang.”


Apa? mata Alena melebar terkejut mendengarnya.


Rasa gembira yang tak pernah Alena rasakan sebelumnya kini meluap bagai mata air yang menemukan jalan keluarnya. Semua kebahagiaan tak bisa dibendung lagi, bahkan sampai membuat Alena meneteskan airmata haru. Pandangannya tertoleh pada suaminya yang tersenyum penuh arti, tanpa aba-aba apapun ia segera menghambur memeluk Davian meskipun tubuhnya masih lemah dan tak bertenaga.


“Aku akan menjadi seorang ibu..aku tidak percaya ini..” bisiknya dengan suara bergetar tercampur oleh isak tangis. Davian tersenyum simpul. Dengan gerakan perlahan tangannya membalas pelukan Alena.


“Ini bukan mimpi, percayalah.”


Davian meminta Alena beristirahat setelah tangisan harunya mereda. Ia merapatkan selimut hingga setinggi bahu agar Alena tidak kedinginan. Dalam diam Alena menatapi semua yang dilakukan Davian dengan perasaan yang campur aduk. Ia senang, namun di sisi lain ia merasa bersalah. Sesuatu sudah disembunyikan dari suaminya selama ini dan itulah alasan mengapa mereka bertengkar. Alena harus menjelaskan semuanya sekarang. Sudah tiba saatnya Davian tahu rahasia yang tersimpan antara dirinya dan Malvin.


“Davian...” panggil Alena dengan suara seraknya. Davian menoleh, dengan gerakan cepat ia berjalan menghampiri istrinya. Ia berpikir Alena mungkin memerlukan sesuatu.


“Ada yang kau perlukan? Katakan saja.”


Alena menggeleng. Ia mengulurkan tangan untuk menarik Davian agar duduk di kursi samping ranjangnya. Davian menurut. Ia menatap lekat istrinya sambil menggenggam erat tangan Alena yang lemah.


“Ada yang ingin kuceritakan padamu,” ujar Alena pelan. Davian mengerjapkan mata berkali-kali. Mendadak ia teringat alasan mengapa mereka bertengkar. Apa mungkin Alena akan menceritakan sesuatu tentang itu? Cerita sebenarnya yang terjadi di rumah sakit? Dugaan Davian memang benar karena kata berikutnya yang terucap dari bibir Alena membuat tubuhnya membeku.


“Ini rahasia tentangku dan Malvin...”


________


XOXO