
“Malvin!!”
Suara teriakan melengking keras disertai hiruk pikuk panik terdengar dari arah pintu masuk utama rumah sakit. Alena masih terisak di tempatnya di dalam taksi menoleh kaget mendengarnya. Ia lebih terkejut lagi karena nama Malvin disebut-sebut.
“Pak, berhenti,” Alena segera meminta sopir taksi untuk menghentikan mobil. Setelah berhenti, Alena secepat mungkin berlari ke arah kerumunan mencoba melesak memasukinya. Matanya membelalak melihat seorang berpakaian rumah sakit dipindahkan ke tempat tidur dorong dan orang-orang itu segera membawanya pergi dengan raut panik. Sekilas, Alena bisa melihat wajah orang itu. Dari sudut manapun ia tahu itu adalah Malvin Radhian. Rasa paniknya bertambah dua kali lipat. Alena ikut berlari mengejar Malvin yang dilarikan ke ruang IGD.
•••
Yuka tahu semenjak Malvin mencabut selang infusnya lalu berlari seperti orang kerasukan, hal seperti ini pasti akan terjadi. Ketika ia berlari mengejar Malvin lalu melihat tubuh pria itu terhuyung jatuh, Yuka merasa dunianya ikut runtuh. Ia tidak pernah merasa setidak berdaya ini. Terlebih ketika dirinya meneriakkan nama pria itu yang hampir saja jatuh jika ia tidak menyongsongnya, awan mendung seperti menutupi langit. Sekujur tubuh Malvin terasa panas dalam pelukannya. Itu membuatnya jauh lebih sakit lagi.
Sekarang, ia berdiri di depan ruang IGD seperti seseorang yang hampir kehilangan anak kesayangannya. Baru kali ini ia merasa kerja kerasnya menjadi seorang dokter tak ada artinya. Ia tak henti-hentinya berdoa dan sesekali melirik pada empat orang yang menunggu dengan wajah tak kalah cemas sepertinya. Mereka adalah kedua orang tua Malvin, kakak laki-laki Malvin yang langsung datang begitu dikabari dan seorang gadis yang membuat Malvin berlari seperti orang gila. Alena..
“Dokter,, Anda bisa pergi. Aku yakin kau masih memiliki pasien untuk di tangani,” ucap Tuan Radhian sambil menenangkan istrinya yang menangis sejak awal.
“Tak apa. Aku akan pergi setelah memastikan Malvin baik-baik saja.” ucap Yuka yakin. Ia memilih duduk di samping Alena yang sejak tadi terus berdoa.
“Alena,” ucapnya, tak bermaksud mengganggu acara khusuk Alena. Merasa namanya dipanggil, Alena menoleh.
“Yuka?” gumam Alena mengenali. Ia tidak lupa adik dari Dion, sahabat Davian yang baik dan menyenangkan itu. Ia memindai Yuka dan baru menyadari bahwa gadis itu memakai pakaian khas dokter.
“Kau seorang dokter?” ucapnya terkejut. Yuka mendesah lemah.
“Ah, reaksi yang sama seperti Malvin.” gumamnya.
“Setelah kuamati, ternyata kalian memiliki banyak kesamaan.” Alena membelalakkan matanya mendengar penuturan Yuka.
“Apa maksudmu?”
“Hanya ada dua kemungkinan mengapa seorang pria dan wanita tampak mirip dari sisi fisik ataupun psikis. Yang pertama, kemungkinan mereka berjodoh, atau yang kedua..” Yuka memandang Alena,
“Mereka bersaudara,” ucapnya nyaris berbisik.
Kali ini, Alena merasa sekujur tubuhnya membeku. Kata-kata Yuka langsung bergema di telinganya seperti kalimat yang diteriakkan di perbukitan, membuatnya merasa diteror. Alena mengigil tanpa sebab. Ia tahu tidak ada AC di lorong ini tapi mengapa seluruh tubuhnya bergetar? Ia merasa takut. Sangat takut. Ia memeluk tubuhnya sendiri tanpa sadar.
Ketakutannya sedikit teratasi ketika pintu ruang IGD terbuka. Yuka dengan sigap menghampiri dokter dan beberapa asistennya yang keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana?”cecar Yuka tak sabar. Dokter itu tersenyum.
“Tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Kondisi pasien sudah kembali stabil. Hanya saja, saat siuman nanti tolong jangan biarkan dia menerima kabar yang mengejutkan atau semacamnya. Itu akan mempengaruhi kondisi psikologisnya lagi.”
Semua orang yang mendengarkan dengan seksama itu mengangguk bersamaan. Nyonya Radian mendesah lega dan segera memeluk suaminya. Alena tidak sempat melihat Malvin karena ia terlalu syok atas ucapan Yuka. Ia undur diri secara diam-diam. Pergi dari tempat itu tanpa seorang pun yang menyadarinya.
________
XOXO