
Davian memandang Alena sekilas untuk melihat reaksi gadis itu. Rupanya sama, Alena terkejut. Serupa dengan reaksinya.
“Kami, kami masih memikirkannya,” jawab Alena lebih dulu sebelum Davian membuka mulutnya.
Bahkan sebelum Davian mendapatkan pertanyaan seperti itu, Alena tahu beban pikiran suaminya sudah terlalu banyak. Tak perlulah ditambah pertanyaan yang tak bisa dijawab seperti itu. Cucu? Alena merasa begitu sedih dan bersalah karena sampai kapanpun, ia tidak akan pernah bisa mewujudkan harapan Ayahnya. Davian tidak pernah mau menjadikannya ibu bagi anak-anaknya kelak.
“Tak perlu pikirkan ucapan Ayah. Aku akan sepelan mungkin memberinya pengertian.” Hibur Alena saat mereka kembali ke rumah sepulang dari rumah sakit.
Davian tidak menjawab. Dia hanya melepaskan jas lalu melonggarkan simpul dasinya. Ia merasa sesak. Semua masalah yang timbul dalam hidupnya membuat kepalanya hampir meledak.
“Berhenti bersikap manis padaku,” ucap Davian dingin. Ia berbalik menatap Alena yang terkesiap kaget. Gadis itu terpaku ditempatnya. Ia memang tidak kaget lagi jika mendengar ucapan dingin Davian. Hanya saja, sorot mata pria itu kali ini seperti pisau yang menusuk jantungnya. Membuat benda itu seperti terjatuh. Ia sakit, melihat ekspresi Davian yang menderita seperti ini. Kenapa, kenapa Davian harus sesedih ini saat hidup bersamanya?
“Apa yang kau pikirkan saat pertama kali mendengar akan dijodohkan denganku? Kau senang? Kau takut? Atau kau frustasi?” Davian mengajukan pertanyaan dengan wajah dingin. Alena merasa lidahnya kelu. Ia ingin menangis tapi tidak bisa.
“Tidak ada…” suaranya mulai bergetar.
“Mengapa kau tetap menikah denganku meskipun tahu aku mencintai gadis lain?” Davian perlahan berjalan mendekatinya, Alena merasa kakinya tak bisa bergerak. Ia hanya terdiam di tempat tanpa bisa berpindah.
“Lalu apa yang kau inginkan?!!” Alena balas berteriak. Ia tidak bisa memaksakan diri lagi. setiap wanita memiliki kesabaran pada level yang berbeda-beda. Alena memang dikenal sebagai gadis yang sabar tapi jika Davian terus memperlakukannya seperti ini, ia tidak bisa hanya diam.
“Aku melakukan semua ini karena Ayah!! Aku menikah denganmu karena aku sangat mencintai kedua orangtuaku dan inilah bukti pengabdianku pada mereka seumur hidup! Karena itu kau tidak perlu merasa terbebani dengan pernikahan ini karena kita memang tidak pernah saling mencintai!!” Setelah mengatakannya, Alena membalikkan badan lalu berlari ke kamarnya. Ia menangis semalaman.
Kali ini Davian yang terkejut. Pertama kalinya, ia melihat Alena menangis. Seharusnya ia tidak merasa menyesal, tapi kenapa hatinya seolah ada yang bergeser. Ada apa ini? Perasaan apa yang sekarang sedang menyelimuti hatinya?
•••
Alena sebenarnya tidak ingin pergi setelah pertengkaran dengan Davian semalam. Namun siang ini pun ia terpaksa mengantarkan bekal karena Bunda mertuanya kembali mempertanyakan hal itu. Alena ingin menolak, bagaimanapun ia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa saat berhadapan dengan Davian nantinya. Syukurlah Davian tidak ada ketika ia datang ke sana. Sekretarisnya yang bernama Janette mengatakan bahwa Davian sedang menghadiri rapat karena itu ia hanya meletakkan bekal makan siang di atas meja kerjanya lalu memutuskan pulang daripada harus menunggu pria itu datang kembali.
“Hallo?”
“Alena?” gadis itu membelalakkan matanya karena ini pertama kalinya ia mendengar kembali suara Malvin setelah hampir beberapa bulan tidak mendengarnya.
“Malvin? Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah kembali dari Jepang?” Alena berusaha agar nada suaranya terdengar ceria karena ia juga mendengar suara Malvin ceria di ujung sana.