
Alena menarik napasnya yang terasa berat. Meskipun rasa sakit dan sesak menggerogoti paru-parunya ia tetap harus mengatakan hasil renungannya selama dua hari belakangan. Kepalanya terangkat ke arah sesosok pria yang duduk di seberang, tengah menatapnya dengan mata sendu.
“Maaf” seuntai kata mulai terurai dari mulutnya. Alena kembali membasahi bibirnya yang terasa begitu kering. Ia benar-benar gugup dan hatinya terasa berat.
“Aku tahu ini keputusan yang sulit. Namun aku yakin ini adalah yang terbaik untuk kita” jelasnya dengan suara lirih dan dalam.
Malvin mengangkat kepalanya menatap wanita yang kini tampak begitu resah. Siapapun tidak akan ada yang bisa menebak seperti apa perasaannya sekarang. Karena sesungguhnya, ia merasa sekarang adalah akhir dari kisah cintanya bersama Alena. Wanita yang selama beberapa bulan terakhir mengisi hidupnya.
“Bisakah kau memikirkannya lagi? kumohon” pinta Malvin dengan nada sungguh-sungguh. Tangannya sedikit meremas tangan Alena yang digenggamnya.
“Keputusanku sudah final” gumam Alena seraya menarik tangannya. Dengan mata berkaca-kaca ia menatap pria di hadapannya.
“Hubungan kita berakhir sampai di sini.”
Malvin merasa dunianya runtuh begitu vonis mati terlontar dari mulut Alena. Dalam mimpi pun ia tidak pernah memikirkan bahwa hubungannya akan berakhir seperti ini. Sudah terlalu banyak rencana masa depan yang sudah dirancangnya untuk Alena. Mengapa Tuhan dengan begitu baiknya memberikan cobaan seberat ini padanya? Hubungannya dengan Alena harus berakhir detik ini juga.
“Kenapa? apa karena keluargamu tidak merestui hubungan kita?” tanya Malvin sesak. Inilah sisi ironis dari kisah cintanya dengan Alena. Kisah klasik seperti Romeo dan Juliet, di mana cinta yang terhalang oleh restu dari orang tua.
Alena terisak pelan. “Aku juga tidak ingin kehilanganmu, sungguh. Aku sangat mencintaimu. Tapi keluargaku tidak pernah menyetujui hubungan kita..”
Malvin menatap sendu mantan kekasihnya itu “Lalu, apa dengan begitu kau akan menuruti keinginan mereka? Menikah dengan pria yang tidak kau cintai?”
“Haruskah kau melakukannya?”
“Demi Ayahku. Dia sedang sakit berat. Ia ingin aku menikah dengan pria itu..”
“Apa dengan begitu kau akan bahagia? Kau tidak bisa mengorbankan kebahagiaanmu demi ayahmu..” ucap Malvin berusaha mempengaruhi keputusan Alena
.
“Tentu saja aku bisa. Aku tidak peduli apakah aku bisa atau tidak, tapi aku tidak akan pernah mengecewakan orang tuaku. Mereka sudah memberikan begitu banyak kebahagiaan padaku selama dua puluh tiga tahun hidupku. Dan apa yang sudah kuberikan untuk membalas budi pada mereka..” Balas Alena dengan suara tercekat.
“Aku hanya bisa melakukan ini. Untuk Ayahku dan kebahagiaannya, akan kulakukan meskipun itu harus mengorbankan kebahagiaanku..” putusnya bulat.
Malvin paham sekali akan hal itu. Betapa ia mengerti bahwa Alena begitu mencintai keluarganya lebih dari apapun. Alena sangat berbeda dengannya. Ia bahkan sudah melanggar perintah ayahnya yang melarang ia berhubungan dengan Alena. Ia rela di pecat dari daftar keluarga asalkan bisa terus bersama Alena. Siapa yang menyangka hasil akhir yang ia dapat adalah ini. Alena pergi meninggalkannya. Ia menarik napas berat.
“Baiklah. Semoga kau bahagia Alena..”
Malvin bangkit. Bahkan tanpa berkata apapun lagi ia berjalan pergi meninggalkan gadis yang kini menangis sendirian di sudut kafe tempat mereka bertemu.
Aku tidak akan menyesal. Ini adalah keputusanku. Batin Alena.