I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#64



Dion mengusap tengkuknya, merasa tidak enak telah membuat suasana menjadi sepi dan canggung. Ia menoleh pada istrinya yang tersenyum simpul, dengan santai Sena berkata, “Kau mengingat kata-kataku dengan baik rupanya.”


Dion sontak tertawa, tindakannya itu telah mencairkan suasana kembali. Alena merasa sangat terhibur berkat tawa Dion. Ia menoleh pada Davian dan dibalas senyum penuh arti dari suaminya itu.


“Bicara tentang Jeane..” Sena ingat sesuatu tentang Jeane.


“Apakah dia baik-baik saja?”


“Kau mengenal Jeane?” Alena terperangah.


“Dulu kami teman satu kampus. Aku dan Davian kebetulan berada dalam satu fakultas yang sama dengan Jeane. Sementara Sena masuk fakultas lain,” jelas Dion lebih dulu.


“Ya, dan aku satu kampus juga dengannya ketika melanjutkan kuliah di Prancis.” Tambah Sen.


Alena mengangguk-angguk, “Kau mengenalnya dengan baik?”


“Tidak juga, hanya saja yang kutahu Jeane adalah gadis yang pintar dan ambisius. Tetapi ada kabar buruk yang beredar tentangnya..” Sena terdiam sejenak untuk memandangi satu persatu orang-orang yang menatapnya dengan raut serius dan penasaran,


“Menurut kabar angin yang kudengar, Jeane berkali-kali pergi ke rumah sakit. Aku sempat mengira dia sakit, namun aku baru tahu ternyata dia menemui seorang psikiater.” Davian maupun Alena melebarkan mata terkejut,


“Kau bermaksud mengatakan Jeane menderita penyakit kejiwaan?” serobot Alena.


“Tidak begitu, hanya saja mungkin Jeane sedang berada dalam masa sulit waktu itu karena kasus yang melibatkan keluarganya.”


“Kasus?”


“Ya, aku tidak tahu kasus apa namun karena masalah itu Jeane seolah menjadi sosok lain. Dia menjadi dingin dan tidak mau bergaul hingga suatu ketika Jeane berubah sangat drastis. Dia menjadi gadis yang senang mencari perhatian, ceria, dan mudah sekali bergaul. Agak aneh memang, mana ada seseorang yang berubah drastis dalam waktu sekejap. Aku khawatir jangan-jangan dia bertingkah sama akhir-akhir ini.”


Seketika, Davian maupun Alena saling memandang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dalam pikiran mereka sama-sama berkelebat satu gagasan


Apa mungkin perubahan tiba-tiba Jeane disebabkan oleh penyakitnya?


“Honey, ceritamu membuatku merinding,” Dion memecah suasana hening dengan gurauannya.


“Apa itu cerita yang kau bawa dari kegiatan beramalmu?”


“Yah, sebaiknya kita mengganti topik saja. Maaf sudah menceritakan hal yang tidak seharusnya.”


***


Tanpa sengaja, malam ini Malvin bertemu dengan Jeane ketika ia sedang bernostalgia di sebuah taman kota tempat dirinya dan Alena pertama kali berjumpa dulu. Mereka duduk berdampingan di bangku taman dengan suasana yang terasa begitu hening. Sepuluh menit berlalu tanpa ada yang membuka mulut lebih dahulu. Malvin sesekali melirik ke arah Jeane, anehnya malam ini ekspresinya tampak begitu sendu.


“Bagaimana kau bisa setenang ini setelah cinta yang cukup lama kau tumbuhkan di hatimu mati begitu saja?” tiba-tiba Jeane berkata, membuat Malvin membeku selama beberapa saat.


Jeane menoleh menatapnya, dengan ekspresi yang membuat siapapun merasa begitu malang. Ada apa sebenarnya?


“Aku sudah berusaha melawannya, sungguh. Tapi aku tidak bisa..” kedua sudut matanya mengalirkan airmata. Malvin tercengang. Sebelum ia sempat menyadari kondisi Jeane, gadis itu memeluknya tiba-tiba.


“Kumohon, Malvin... tolong aku..”


Malvin tercengang, apa sebenarnya yang terjadi?


***


“Nanti sore, aku akan mengajakmu makan malam. Berdandanlah yang cantik,” Davian mengecup kening istrinya sebelum ia berangkat ke kantor.


“Kenapa tiba-tiba ingin makan malam di luar?”


Davian tersenyum penuh arti, “Kau lupa hari ini hari apa?”


“Hari Kamis,” Alena memiringkan kepalanya. Ia tidak mungkin salah, hari ini memang hari Kamis.


Davian tergelak, ia tidak merasa kecewa sama sekali karena Alena melupakan hari pernikahan mereka, namun ia justru tertawa lepas.


“Kenapa kau tertawa? Apa aku salah?”


Davian mengecup bibirnya kali ini, “Sudahlah, kau akan tahu nanti.”


Jika Alena tidak ingat bukankah akan menjadi kejutan yang spesial? “Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa meneleponku atau Ibu. Kau benar tidak apa-apa kutinggal sendiri?”


“Usia kandunganku belum 9 bulan. Kau tidak perlu mengambil cuti dan aku pasti baik-baik saja. Ibu akan datang siang nanti,”


Davian mengangguk, sekali lagi ia pamit lalu pergi bekerja.


Alena mulai menyibukkan diri dengan membersihkan rumah. Davian mungkin akan marah jika melihatnya mengerjakan pekerjaan rumah, tapi Alena tidak bisa membiarkan apartemen mereka berantakan. Lagipula ia berjanji pada diri sendiri tidak akan membuat dirinya kelelahan.


Selagi membersihkan karpet dengan vacuum cleaner, Alena mendengar bunyi bel.


“Sebentar,” Alena berteriak karena bel terus dibunyikan. Siapapun yang berada di balik pintu pastilah tidak sabar. Alena bergegas menghampiri pintu lalu membukanya. Daun pintu mengayun terbuka memapangkan seseorang yang berdiri tegak dengan senyum lebar di wajahnya. Alena langsung terpaku ketika matanya bertemu dengan mata jernih Jeane.


***


XOXO