
“Davian, ini tempat umum…” bisik Alena dengan pipi tersipu.
“Lalu?” balasnya tepat di sudut bibir Alena. Davian tak peduli apakah mereka ada di tempat umum atau tidak. Ia hanya ingin menunjukkan perasaannya saja pada dunia. Alena tak memiliki bantahan lagi. Yang dilakukannya sekarang hanya pasrah. Pasrah ketika Davian melingkarkan tangan dipinggangnya dan bibir mereka bertemu detik berikutnya. Mereka saling memagut satu sama lain dengan perasaan bahagia.
Setelah ini, hidupku akan lebih berarti. Alena tersenyum di sela-sela ciumannya.
•••
“Gagal sudah rencana makan siang romantis di restoran tadi,” Alena menoleh ketika mendengar gerutuan Davian begitu mereka tiba di apartement. Pria itu membuka jasnya lalu menyampirkannya pada kursi di ruang makan.
“Makan siang romantis?” tanya Alena sangsi, dengan alis berkerut.
“Ya. Aku berniat mengajakmu makan siang di restoran Perancis tadi.”
“Sungguh?” Alena melemaskan bahunya. Ia merasa menyesal sudah melewatkan kesempatan langka seperti itu. Davian tersenyum menenangkan. Dengan lembut ia memeluk Alena dari belakang.
“Masih ada lain hari,” bisiknya.
“Tetapi, melihatmu bersama Malvin tadi membuatku memikirkan sesuatu.”
Di tengah kegugupan Alena mencoba menoleh, “Apa?”
“Bagaimana jika seandainya kita memiliki anak?” Alena mengerjapkan matanya tercengang. Satu hal yang tak pernah ia pikirkan sama sekali. Memiliki anak dengan Davian. Padahal sudah menjadi hal lumrah pasangan suami istri berencana memiliki anak.
“Kau yakin??” Alena bertanya menghindari kegugupannya. Davian mengangguk sementara tangannya memeluk pinggang Alena lebih erat.
“Keluarga Fernandez butuh seorang penerus. Bagaimana ini? Seharusnya kita memberikannya sebelum Ayah menagih hal tersebut pada kita.”
Tak pernah di duga bahwa saat itu akan tiba hari ini. Alena belum mempersiapkan diri sama sekali dan kepalanya mendadak kosong. Bagaimana dia harus menjawabnya? Ia sangat ingin tapi bagaimana caranya mengungkapkan hal tersebut tanpa terkesan antusias?
Davian menyadari istrinya gelisah dan tubuh yang sedang ia peluk terasa begitu kaku. Lantas ia membalikkan tubuh Alena menghadapnya untuk mengetahui bagaimana ekspresinya saat ini. Tepat seperti dugaannya, Davian mendapatkan raut Alena begitu menggemaskan. Pipinya yang putih itu merona malu dan bibirnya tersenyum gugup.
“Ah, kau ini tahu cara menggoda suamimu,” erang Davian sambil merapatkan pelukannya.
“Aku siap menerima akibatnya,” gumam Alena tergagap. Kata-kata itu membuat Davian mengerjap. Tangan Alena yang semula terkulai di samping tubuhnya perlahan naik menggenggam lembut kerah baju Davian.
“Aku serius,” yakinnya menatap mata Davian yang memandangnya ragu. Perlahan senyum di wajah Davian terbit. Mereka sama-sama tersenyum dan sempat salah tingkah satu sama lain. Benar, malam ini mungkin akan menjadi malam yang panjang karena baik Davian maupun Alena sama-sama akan memulai hal yang sama sekali baru.
Mereka seperti terbakar gairah detik berikutnya. Alena rela menyerahkan dirinya pada Davian malam ini. Ia justru bahagia. Ia merasa seperti masuk ke dalam dunia dongeng dimana Davian datang dan membawanya terbang hingga ke langit yang tinggi.
•••
Alena terbangun dari mimpi indahnya semalam. Ketika menoleh ke samping, ia merengut kecewa karena tak menemukan sosok tampan di sana. Davian sudah pergi bekerja setengah jam yang lalu setelah malam panjang yang mereka habiskan bersama.
“Khas Davian sekali, mengutamakan pekerjaannya dibanding apapun,” gerutu Alena pelan. Ia mencoba bangkit lalu meraih ponselnya untuk mengecek waktu. Sudah jam sembilan dan rasanya Alena malas sekali pergi bekerja. Lelah setelah bermesraan cukup lama dengan Davian semalam.
Jangan menjadi gadis malas. Kau seorang istri sekarang.
Berbekal pesan dari Bundanya, Alena memaksakan diri bangun. Dia berjalan pelan ke dapur dan menemukan post-it tertempel di pintu lemari pendingin.
Nanti malam ada pesta penting, aku akan menjemputmu jam 7. Berdandanlah yang cantik.
-Davian-
Alena tertegun sejenak. Pesta? Alisnya terangkat heran. Pesta apa? Mungkinkah ulang tahun Fernandez Group? Entahlah. Alena hampir mencabut pesan itu ketika ia membaca catatan kecil yang tertulis di bawahnya.
N.b : Kalau kau sudah mulai mual-mual, hubungi aku ^_~
Alena terenyak. Ia merasa lucu dengan pesan ini.
“Dasar tuan tak sabaran! Mana mungkin aku segera hamil saat kita baru melakukannya semalam!” kepalanya menggeleng lemah lalu mencopot pesan itu. Ia hampir saja lupa untuk membuat sarapan.
•••
Di kantor, Alena mulai disibukkan oleh pekerjaan yang belum sempat diselesaikan mendiang ayahnya. Tugas-tugas itu sangat banyak dan menumpuk. Alena sampai kebingungan sendiri bagaimana cara menyelesaikannya. Ia ingin meminta bantuan Davian namun ragu. Ia tidak mau menyusahkan Davian yang sudah cukup dipusingkan oleh tugas-tugas di perusahaan milik mertuanya.
“Nyonya, hari ini ada jadwal pertemuan dengan perwakilan dari MD Group,” suara sekretaris membuat Alena mengalihkan perhatian sejenak dari kesibukannya. Ia terkejut mendengar nama perusahaan itu. Bukankah itu perusahaan milik keluarga Malvin? rupanya mereka menjalin kerjasama juga dengan perusahaannya. Mengejutkan.
________
XOXO