I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#52



Airmata mengalir dengan sendirinya setelah membaca kalimat yang tertera di atas kerta. Dari tulisan tangan Sarah ia seolah bisa merasakan betapa menderita dan tertekannya Sarah saat menuliskan kalimat ini. Ia bahkan bisa melihat jejak tetesan airmata di permukaan kertas itu. Astaga, apa yang ia lakukan? Bagaimanapun kematian Sarah karena ulahnya.


“Maafkan aku Sarah..seandainya aku mencarimu..” lirihnya menyesal.


“Aku kira kau sudah bahagia dengan pria lain. Aku mendengarnya dari salah satu temanku, kau sudah menikah dan memiliki anak..”


“Aku memang sudah menyuruh Sarah menikah!” sela Fahri. David menoleh padanya.


“Namun dia menolak karena tidak bisa melupakanmu!” Fahri kembali duduk untuk menenangkan emosinya.


Mendengar hal itu David semakin terpuruk. Ternyata gosip Sarah menikah adalah kabar burung semata? Jadi Sarah tidak pernah menikah? Oh bodohnya ia.. bodoh, bodoh, bodoh! Jika ia tahu ini lebih awal, mungkin saja ia bisa menemui gadis itu dan menghentikan penderitaannya.


“Alasan sebenarnya Sarah menolak menikah saat itu adalah ini..”


Pengacara itu dengan tenang kembali menyerahkan sesuatu pada David yang sedang kacau balau. Kali ini bukanlah secarik surat, namun selembar foto. David terkesiap melihat seorang anak laki-laki berusia kira-kira dua tahun digendong oleh Sarah. Jantungnya mendadak berdebar.


“Mungkinkah..” David menatap pengacara di depannya dengan raut penasaran sekaligus takut. Tahu maksud pertanyaan David, pengacara itu mengangguk.


“Dia adalah Malvin, anakmu dan Sarah.”


David merasa hatinya mencelos jatuh. Pertama kali melihatnya saja ia sudah bisa merasakannya. Garis wajah anak ini mirip sekali dengan Sarah dan dirinya. Ia yakin sekali ini anaknya. Mungkinkah ini anak yang lahir karena kejadian malam itu sebelum pernikahannya dengan Nia? Oh, betapa bejatnya ia. Bagaimana bisa ia membiarkan Sarah melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri? Laki-laki macam apa dia?


“Maafkan aku Sarah..maafkan..” David mencengkeram rambutnya frustasi. Ia sedih sekali, dan menyesal dengan ulah bodohnya di masa lalu.


“Karena ulah tidak berperikemanusiaanmu, adikku menjadi korbannya. Kau sudah berjanji akan menikahinya, lalu kau menghamilinya namun di akhir kau justru mengkhianatinya. Aku sudah meminta Sarah untuk menagih pertanggung jawabanmu ketika anaknya lahir namun ia tidak tega melakukannya karena ia melihat kau sangat bahagia dengan kehamilan istrimu. Seandainya saat itu aku memaksa Sarah, mungkin dia…” Fahri mencengkram erat tangannya sendiri. Ia pun sangat menyesali dirinya yang tidak bisa bertindak tegas terhadap masalah Sarah.


“Aku tahu.. karena itu maafkan aku..” David bangkit lalu berlutut di hadapan Fahri.


“Aku bersalah pada Sarah..aku bersalah padanya..”


“Tunggu dulu! Izinkan aku bertemu dengan Malvin..biarkan aku melihatnya!!!” teriak David namun Fahri tampak tuli. Dengan hati dingin pria itu keluar meninggalkannya yang frustasi seorang diri. David merasa dirinya begitu buruk. Ia terpuruk sendirian di ruangan itu. Menyesali semua kesalahannya pada Sarah.


Aku memang pria busuk. Aku mengingkari janjiku sendiri pada Sarah, membuatnya menderita dan memutuskan untuk bunuh diri. Aku patut menerima hukuman dipenjara seumur hidup.


Flash back End


•••


“Sejak saat itu kami tidak pernah membicarakan ataupun menyinggung tentang keluarga Sarah. Kami berdua sepakat untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat termasuk darimu, Alena..” Ibu memandang putrinya lekat, dengan aimata yang sudah membanjiri pipinya. Alena tidak tega melihat ibunya menangis, lantas mengusapnya dengan jari-jarinya.


“Ibu harap kamu tidak membenci Ayahmu. Ketahuilah, ia sangat menyesal. Menelantarkan Sarah dan putranya adalah penyesalan terbesar seumur hidupnya,”


“Iyaa Ibu, sudah..” Alena memeluk ibunya erat, berharap pelukan itu bisa sedikit meredakan luka yang menggemuruh bak badai di hati ibunya. Ia tidak tega, sungguh. Setelah mendengar semua ceritanya sekarang ia justru merasa menyesal. Menyesal karena sudah bertanya. Menyesal karena sudah mencurigai Ayahnya yang bukan-bukan. Dalam hati ia terus berucap kata sesal pada mendiang ayahnya, sekaligus menumpahkan rasa simpatinya pada sang Ayah.


Ayah bodoh, kenapa harus menyesal seumur hidup? Jika menyesal Ayah justru menyia-nyiakan cinta Sarah. Gadis itu rela membiarkan dirinya menderita demi kebahagiaanmu. Harusnya Ayah hidup bahagia. Batin Alena.


Davian mengerutkan keningnya menatap Malvin sejenak, ingin tahu bagaimana reaksi pria itu. Tak seperti dugaannya, Malvin hanya termangu tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Apa pria itu tidak tersentuh mendengar keseluruhan cerita?


Sebenarnya pikiran Davian salah besar. Malvin justru merasa sangat sedih sampai ia tidak tahu harus berkomentar apa. Perasaannya berkecamuk sementara ingatannya melayang-layang pada momentum saat dirinya pertama kali bertatap muka dengan Ayah Alena. Entah kenapa ia merasa begitu familiar dengan wajah itu meskipun yakin ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia tidak mengerti alasan kenapa Ayah Alena begitu membencinya meski begitu ia tidak pernah sanggup membenci pria itu.


Namun sekarang ia paham, rasa rindu yang ia rasakan ketika bertemu dengan Ayah Alena adalah sebuah ikatan kasat mata yang menghubungkan perasaan seorang Ayah pada anaknya, ikatan darah. Sekarang ia paham mengapa ia tidak pernah membenci Ayah Alena. Karena ia tidak pernah bisa membenci ayah kandungnya. Dan di atas segalanya, ia paham rasa kehilangan yang menyesakkan ketika ia mendengar Ayah Alena meninggal dunia. Karena ia merasa sangat kehilangan. Entah kenapa sekarang ia merasa sangat menyesal karena tidak menyadari semuanya sejak awal. Jika ia tahu, mungkin segalanya tidak akan seperti ini.


•••


*Setelah sekian lama akhirnya update jugaa..🤗🤗🤗


XOXO*