I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#59



Malvin tersenyum ringan, “Ini sebagai tanda terima kasihku pada Ayah yang sudah membesarkanku.”


Davian memutar bola matanya sementara Alena menganggukkan kepala, puas sekaligus bangga dengan jawaban kakak kandungnya itu.


“Bagaimana bisa kalian berdua memiliki pikiran sebijak itu?” tambah Davian tak habis pikir.


Tak menunggu sampai salah satu dari Alena dan Malvin menjawab, Davian melanjutkan, “Oh tentu saja karena kalian memiliki Ayah yang sama.”


Alena dan Malvin kompak tertawa. “Ayahku jelas jauh lebih bijak dari kami,” ucap Alena bangga. Ia kembali menemukan kebanggaannya terhadap sang Ayah setelah beberapa waktu lalu sempat dikecewakan olehnya.


“Hal apa yang ingin kalian bicarakan denganku?” Malvin kembali ke topik pembicaraan awal.


“Ini tentang perusahaan Ayah.” ucap Alena mengawali. Malvin agak terkejut mendengar Alena menyinggung soal perusahaan.


“Apa ada masalah dengan kerjasama kita? Aku sudah berhasil meyakinkan Ayah untuk bekerjasama dengan perusahaanmu,” jelas Malvin takut Alena datang dengan tujuan membatalkan kesepakatan kerjasama yang pernah mereka buat sebelumnya.


“Tidak, bukan itu. Ini tentang surat wasiat yang ditinggalkan Ayah. Beliau menginginkan kursi CEO ditempati olehmu.”


Sedetik kemudian sempat terjadi kesunyian karena sekujur tubuh Malvin membeku karena terkejut. Alena sudah memprediksinya karena itu ia diam hingga Malvin bisa menguasai kekagetannya.


Ketika Malvin sudah bisa menormalkan diri, ia memalingkan perhatiannya pada Alena. Dengan wajah tercengang bercampur bingung ia berkata, “Kenapa aku? Bukankah seharusnya itu hakmu?”


“Aku tidak keberatan jika kau yang mengambil alih posisi ini. Kau adalah anak laki-laki Ayahku. Tentu saja Ayah sejak dulu ingin sekali memiliki anak lelaki yang akan meneruskan bisnisnya. Aku yakin yang dimaksud Ayah adalah dirimu.”


Malvin tidak langsung menjawab. Kini ia merenung. Semuanya terlalu tiba-tiba. Ia takut jika ia memutuskan persoalan kompleks ini dengan gegabah, keluarganya akan tersinggung.


“Ini tidak mudah diputuskan,” lirihnya dengan wajah serius.


“Pikirkanlah baik-baik. Kami menunggu jawabanmu, segera.” Davian terpaksa ikut berbicara.


“Kenapa kau menyerahkan posisi ini padaku begitu saja?” Malvin menatap Alena penuh tanda tanya. Bukankah selama ini Alena-lah yang dikenal orang-orang sebagai anak satu-satunya David? Akan sangat mengejutkan seandainya kursi pimpinan itu diberikan kepada orang lain.


“Ini hal yang diinginkan Ayah. Lagipula sekarang aku sedang mengandung. Davian tidak mengizinkanku kelelahan karena mengurus perusahaan.” Malvin masih tampak merenung bahkan setelah Alena berkata dengan nada memohon.


“Aku harap kau menyetujuinya. Aku dan Ibu sangat mengharapkan bantuanmu.”


Malvin menoleh menatap wajah penuh permohonan Alena. Ia terenyuh detik itu juga. Ia tahu, ia tidak akan pernah tega menolak Alena jika sudah memperlihatkan wajah memelas seperti itu.


Malvin dilema antara setuju atau tidak. Ia hanya mencemaskan bagaimana perasaan Ayahnya. Tak bisa dipungkiri sebenarnya ia senang dengan permintaan Alena karena itu artinya, sejak dulu ayah kandungnya tidak pernah melupakan dirinya. Namun ia tidak ingin melupakan segala kebaikan keluarganya.


Mereka juga saudaranya, terutama Ayahnya.


Ia sudah mengambil keputusan, jika ini adalah keinginan Ayah kandungnya dan Alena serta ibunya setuju, maka tidak ada alasan baginya menolak. Ia bisa membicarakan perihal ini pada Ayahnya saat mereka bertemu kembali malam nanti.


“Baiklah,” tiba-tiba Malvin mengangkat kepalanya lalu melontarkan kata-kata persetujuan. Alena dan Davian terkejut lalu saling pandang. Terang saja mereka takjub sekaligus tidak percaya akhirnya Malvin berkata iya.


“Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Malvin!!” seru Alena, matanya berbinar haru. Ia menoleh pada Davian yang tersenyum sama cerahnya dengan dirinya. Davian bangkit lalu menyalami Malvin. Sungguh tindakan ramah yang membuat Malvin yakin bahwa keputusannya tidaklah salah.


“Terima kasih sudah membantu kami,” ucap Davian.


“Ini sudah tugasku,” Malvin tersenyum. Alena sebenarnya ingin sekali memeluk Malvin sebagai ungkapan rasa terimakasihnya namun ia tidak yakin apakah Davian akan senang dengan perlakuan semacam itu.


Semenjak mengenal Malvin suaminya itu mudah sekali cemburu. Alena tidak yakin setelah hubungan keduanya membaik pria itu akan menghilangkan kadar kecemburuannya. Jadi ia urungkan dan memilih menjabat tangan Malvin saja.


“Terima kasih banyak, Malvin.”


“Jangan sungkan, kumohon. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mendiang Ayah kita.”


Malvin melihat senyum Alena yang disukainya muncul kembali. Itulah senyum yang membuatnya jatuh cinta dulu. Namun sekarang senyum sudah menjadi milik Davian, suaminya. Malvin hanya bisa memandang senyum itu sesaat sebelum Alena memalingkan pandangannya pada Davian lalu memeluk suaminya itu. Malvin tersenyum simpul. Ya, mungkin ia bisa menemukan wanita yang bisa memberinya senyum semacam itu suatu hari nanti. Alena bukanlah wanita yang patut dicintai olehnya sejak awal.


***


XOXO