I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#53



“Ayahmu tidak berniat sama sekali untuk menyakitimu,” suara Ibu kembali terdengar. Kini wanita paruh baya itu kembali menjadi pusat perhatian. Alena menggenggam tangan ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan.


“Dia berjanji tidak akan pernah menyakiti anaknya dan akan menerima siapapun pria yang dicintai olehmu tapi semuanya menjadi berubah ketika kau datang bersama Malvin hari itu. Ayahmu terkejut saat kau memperkenalkannya. tentu saja Ayahmu tidak akan pernah melupakannya. Wajah Malvin benar-benar mengingatkannya pada mendiang Sarah. Ayahmu sempat berpikir mungkin ini hanya kebetulan namun saat Malvin menceritakan keluarganya, terkuak sudah segalanya. Ayahmu tahu Malvin adalah putra kandungnya. Karena itu dia menolak karena sampai kapanpun kalian tidak akan pernah bisa menikah. Kalian terikat hubungan darah..” jelas Ibu dengan suara terputus-putus karena terselingi oleh isak tangis.


“Apa itu alasan mengapa Ayah menyuruhku menikah dengan Davian?” Alena bertanya hati-hati. Davian menoleh memandangnya, agak terkejut mengapa Alena mempertanyakan hal itu.


“Ayahmu segera mencari calon suami untukmu agar kau tidak terjerumus pada kesalahan masa lalunya. Meskipun ia tidak tega melakukan ini karena pasti akan membuatmu terluka, namun ia sangat bersyukur memiliki anak penurut sepertimu.”


Alena menatap Ibunya dalam, “Kenapa Ayah tidak menceritakan hal ini dari awal?”


“Ayahmu tidak bisa melakukannya. Menceritakan tentang Sarah berarti membuka kembali lembaran kelam yang ingin ia hapus dalam hidupnya. Ayahmu sudah cukup tersiksa dengan penyesalan yang dipendamnya selama dua puluh tahun lebih. Bahkan ia sampai menderita penyakit paru-paru karena di dera rasa bersalah yang membuat dadanya sesak. Tolong maafkan Ayahmu, Alena...”


Alena lekas memeluk ibunya, “Tentu saja, Bu. Aku pasti memaafkan Ayah.”


Ibu tidak pernah merasa selega ini semenjak suaminya meninggal dunia. Ia merasa begitu lapang setelah beban yang mengungkungnya selama ini. Ia menoleh pada Malvin dan untuk pertama kalinya ia bisa tersenyum ringan pada pria itu.


“Hidup berbahagialah, nak. Kau berhak hidup bahagia. Jangan terlalu terpaku pada masa lalu. Cinta tidak hanya ada di satu tempat saja,”


Malvin balas tersenyum. Bagaimana bisa ia marah setelah mendengar cerita ini. Sudah cukup ia menderita karena tidak bisa melupakan Alena. Ia tidak mau menyia-nyiakan hidupnya seperti yang dilakukan oleh mendiang ibunya. Ibu Alena benar, cinta tidak hanya ada di satu tempat. Jika ia tidak bisa mendapatkan cinta Alena, bukankah tidak ada salahnya jika mencarinya di tempat lain?


“Aku Mengerti,” Malvin menatap ibu Alena lekat, membuat wanita itu mengerjap karena sorot mata Malvin sungguh membuatnya teringat pada sorot mata suaminya. Entah kenapa ia justru merasa lega karena sorot mata Malvin berhasil membuatnya yakin bahwa suaminya tidak benar-benar pergi meninggalkannya.


***


Alena POV


Kami berpamitan pulang meskipun aku sebenarnya tidak tega meninggalkan Ibu sendiri. Aku khawatir Ibu akan menangis setelah ditinggal sendirian.


Kulihat Ibu menoleh pada Malvin, menghampirinya lalu melakukan hal yang membuatku terkejut, Ibu memeluknya. Malvin pun sempat terkejut namun detik berikutnya ia balas memeluk Ibu.


“Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu, nak. Bagaimanapun kau tetap darah daging dari suamiku,” ujar Ibu.


“Terima kasih,” Malvin berkata dengan nada ringan dan saat itu aku tahu benar-benar sadar rupanya begitu banyak kesamaan antara aku dan Malvin. Sikap kami, cara kami menghadapi masalah, cara kami tersenyum, dan caranya memeluk Ibu. Semuanya sama. Tentu saja, karena kami memiliki ayah yang sama.


Dahulu kupikir aku bisa begitu cocok dengan Malvin karena aku berjodoh dengannya, rupanya aku salah. Aku sadar mulutku menganga jika Davian tidak segera mengusap pipiku. Aku mengerjapkan mata lantas mengalihkan pandanganku padanya.


“Syukurlah semuanya sudah selesai,” aku tersenyum melihat senyumannya. Lesung pipi yang kusukai terukir kembali di pipinya. Aku balas memeluk Davian dengan segenap rasa lega yang kurasa.


“Mulai saat ini, bisakah Kau berhenti membenci Malvin? Bagaimana pun dia adalah kakak kandungku.”


“Rasanya tidak ada alasan lagi untuk cemburu padanya,” aku hendak berkata ketika suara Davian kembali menginterupsiku,


“Sekarang saatnya kau fokus mengurus anak kita.”


Pipiku merona bersamaan dengan itu aku baru ingat bahwa aku belum sempat memberitahu Ibu berita gembira ini. Aku lantas melepaskan pelukan Davian lalu menghampiri Ibu yang sedang mengobrol ringan dengan Malvin.


Ibu begitu senang mendengar berita ini begitupun Malvin. Senyum cerah terpancar di bibir semua orang yang kusayangi setelah beberapa saat lalu kami meneteskan airmata. Aku tersenyum, syukurlah masih ada sejumput kebahagiaan untuk kami di ujung masalah yang akhirnya bisa teruraikan.


***


XOXO