I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#43



“Aku sudah mencoba menuntut ayahmu dan membawa perkara ini ke meja hijau namun hakim memutuskan bahwa ayahmu tidak bersalah. Setelah itu aku memilih untuk membesarkan Malvin jauh dari jangkauannya. Jauh dari bayangan pria brengsek yang membuat hidup ibunya menderita. Aku mengangkatnya sebagai anakku dan membesarkannya tanpa memori tentang ibu dan ayah kandungnya.” Tuan Radhian menarik napas panjang di akhir ceritanya. Ia menatap Alena dan Malvin satu persatu.


“Karena itu aku sangat menentang kalian menjalin hubungan di saat Malvin pertama kali membawa Alena ke rumah kami. Aku tidak masalah dia membawa gadis manapun tapi, di saat Alena memperkenalkan dirinya dan asal usulnya, darahku langsung mendidih ketika kau menyebutkan nama Ayahmu. Rasa benci itu timbul kembali sama seperti kayu kering yang tersulut api. Kalian tidak bisa bersama karena kalian bersaudara dan karena kau anak ayahmu!” Tuan Radhian bangkit lalu meninggalkan ruangannya dengan wajah menahan emosi. Ia bertahan untuk tidak melampiaskan semua amarahnya pada Alena.


Bagaimanapun dia tidak tahu apa-apa mengenai kesalahan yang diperbuat ayahnya. Nyonya Radhian ikut menyusul kemudian. Suasana masih hening bahkan setelah hanya tersisa Malvin dan Alena di ruangan itu.


“Aku tidak pernah meminta lahir sebagai anak Ayahmu,” gumam Malvin dengan suara tercekat. Alena menoleh padanya. Malvin mencengkram ujung selimutnya kencang.


“Aku bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan!!!!” teriaknya kencang. Alena terkejut, ia langsung mendekap Malvin yang terlihat kalap.


“KENAPA IBUKU HARUS BUNUH DIRI HANYA KARENA DICAMPAKKAN SATU PRIA? KENAPA DIA TIDAK KASIHAN PADAKU YANG TIDAK TAHU APAPUN! KENAPA DIA MEMILIH PERGI SENDIRI, KENAPA DIA TIDAK MENGAJAKKU PERGI BERSAMANYA!!!” amarah Malvin meledak. Ia berteriak frustasi seperti orang gila. Alena terus mendekapnya berharap Malvin bisa tenang.


“Tenanglah. Aku di sini. Aku di sini,” lirihnya. Alena ikut menangis karena ia bisa merasakan rasa kesal, frustasi, dan sedih yang Malvin rasakan. Memang menyedihkan saat tahu orang yang membesarkan bukanlah orang tua yang sesungguhnya, terlebih saat tahu orang tua kandung sudah tidak ada lagi di dunia ini. Malvin menangis tersedu-sedu di pelukan Alena.


“Kenapa..kenapa semua ini terjadi padaku..?? Kesalahan apa yang kuperbuat??” suaranya yang tercekat dan serak membuat tangis Alena semakin kentara.


“Kau tidak salah. Semua terjadi bukan atas kehendak kita.” Akhirnya, seharian itu Alena menemani Malvin hingga pria itu tenang seutuhnya.


•••


“Sibuk menjenguk Malvin lagi?” Alena menoleh pada Davian yang menatapnya dengan pandangan tidak suka. Sudah hampir satu bulan ini Alena selalu sibuk dengan urusan pria yang bahkan bukan saudaranya.


“Ya. Hari ini Malvin akan keluar dari rumah sakit.” ucap Alena ceria. Semakin hari Davian selalu melihat sikap perhatian Alena pada Malvin dengan wajah yang semakin lama semakin ditekuk. Ia tidak suka. Jika boleh berkata jujur ia tidak suka melihat Alena memberikan perhatian pada pria lain selain dirinya. Ia cemburu, itu benar. Namun ia tidak tega melihat wajah sedih Alena. Hingga detik ini, Alena bahkan belum menceritakan penyebab muram di wajahnya.


“Pagi-pagi begini apa yang membuat suamiku murung ya?” tanyanya sambil melingkarkan tangan di leher Davian lalu mengecup pipinya.


“Berhenti menjenguk pria itu, aku tidak suka,” Gumam Davian tajam. Alena terperanjat kaget. Tanpa sadar ia melepaskan pelukannya.


“Aku tidak bisa,” Alena memalingkan wajah. Davian tersinggung mendengar penolakan istrinya. Ia berbalik memandang wajah Alena yang mencoba menghindari tatapannya.


“Kenapa? Kau masih mencintainya?” tentu saja ucapan Davian membuat Alena terkejut setengah mati. Ia balik menatap suaminya seolah Davian baru saja berkata bahwa dirinya berselingkuh.


“Davian, kau tidak bisa menuduhku sembarangan.” Elaknya.


“Lalu kenapa kau tidak menceritakan kenapa kau selalu sedih akhir-akhir ini?” Davian akhirnya tidak bisa menahan unek-uneknya lagi. Cukup ia menunggu selama berminggu-minggu dengan perasaan yang tidak pasti.


“Kau selalu berwajah sedih setiap kali kembali setelah menjenguk pria itu. Kau pikir aku tidak tahu?”


“Kenapa kau berteriak padaku seolah aku penjahat?”


“Karena kau menyembunyikan sesuatu dariku!”


________


XOXO