I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#35



•••


“Di Etoile sayang, jangan terlambat!”


Davian menutup teleponnya dengan senyum secerah matahari di bibirnya. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di basement gedung kantor. Langkahnya terhenti ketika beberapa langkah lagi dirinya tiba di samping mobilnya. Matanya terpaku pada sosok Jeane yang baru saja keluar dari mobil.


“Selamat siang, Tuan Fernandez,” salam Jeane formal sambil membungkukkan kepalanya. Davian memasang pose waspada ketika gadis itu berjalan menuju ke arahnya. Sikap manis yang ditunjukkannya membuat Davian jauh lebih curiga lagi.


“Ada perlu apa kemari?” Davian mencoba menjaga nada suaranya agar terkesan biasa saja. Jeane mengangkat map di tangannya ke arah Davian.


“Aku hanya ingin menyerahkan ini.” Davian menerimanya meski kadar kecurigaan itu belum juga berkurang,


“Apa ini?”


“Itu proposal proyek yang sempat kami ajukan bulan lalu. Bukankah Anda meminta kami membuat ulang?”


Kali ini Davian harus terkesiap kaget karena Jeane berbicara dengannya memakai bahasa formal. Ada apa sebenarnya dengan Jeane hari ini? Apa dia sedang merencanakan sesuatu atau dirinya memang sudah berubah sejak pesta ulang tahun kemarin? Atau jangan-jangan sosok yang berdiri di depanya bukanlah Jeane melainkan orang lain yang mirip dengannya?


“Hari ini kau terlihat berbeda.” ujar Davian sambil melihat-lihat isi map yang diserahkan Jeane tadi. Ia melirik sekilas ketika gadis itu tertawa kecil.


“Aku sudah menyerah, Tuan Fernandez.” Ungkap Jeane.


“Aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku justru berpikir untuk berdamai denganmu dan istrimu.”


Demi daun yang jatuh dari rantingnya, Davian terkejut bukan main mendengar pengakuan Jeane. Ia menatap gadis itu dengan mata membulat dan ia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapannya.


“Aku sudah memikirkannya semalaman. Kupikir hidupku akan sia-sia jika aku terus berada dalam bayang-bayang masa lalu. Karena itu, aku mencoba untuk move on darimu.” Davian masih tak percaya dengan telinganya sendiri. Ia mencoba mengatasi wajah tercengangnya dengan berdehem.


“Senang mendengarnya,” lirih Davian, masih terkejut.


“Nah, aku tidak akan mengganggumu. Kau pasti akan pergi makan siang dengan istrimu. Sampaikan salamku padanya,” Jeane membungkukkan badannya sebentar lalu kembali lagi ke mobilnya.


Davian masih terpaku di tempatnya. Sungguhkah gadis itu berubah? Tapi rasanya terlalu untuk seorang Jeane berubah. But who cares. Jika itu benar, bukankah satu masalah sudah teratasi. Davian tersenyum menyadarinya.


•••


Davian tidak bisa menahan diri untuk bercerita pada istrinya ketika mereka makan siang bahwa Jeane sudah mengibarkan bendera putih dengan kata lain, dia sudah menyerah untuk mengganggu kehidupan pernikahan mereka lagi. Alena mendesah lega mendengarnya. Ia tahu Jeane pada akhirnya akan mengerti situasinya. Benar dugaannya, Jeane bukanlah wanita seburuk yang ia kira.


“Aku ingin tahu alasan mengapa Ayah begitu membenci Jeane,” ujar Davian tiba-tiba. Alena mengangkat wajahnya menatap Davian.


"Ayah tidak pernah mengatakannya,” tambah Davian karena Alena menatapnya dengan mata membulat.


Alena menyuapkan asparagus ke mulutnya dengan gerakan lemah. Mendengar itu ia jadi teringat masalahnya dengan Malvin. Rasa sesak di tenggorokan yang sempat terlupa itu kembali mencekiknya.


“Ayah pasti memiliki alasan yang kuat,” Alena berkata pelan lalu meneguk air untuk menghilangkan rasa perih di kerongkongannya. Ia hanya berharap alasan Ayah mertuanya membenci Jeane tidak sama dengan alasan Ayahnya membenci Malvin.


“Hallo.,” jawab Alena cepat.


“Apa ini dengan Alena Kezia?” suara berat terdengar di ujung sana.


“Benar. Anda siapa?”


“Aku Fahri Radhian,” Mata Alena melebar mendengar nama itu. Ia sudah hafal nama Ayah Malvin di luar kepala. Ia segera menegakkan tubuhnya lalu menunduk hormat meskipun ia tahu pria tua itu tidak akan melihatnya.


“Ya, Paman. Ada perlu apa?” tanya Alena gugup. Davian menatapnya bingung lalu bertanya tanpa mengeluarkan suara,


“Siapa?”


“Dari rumah sakit,” Alena menjawabnya tanpa suara juga. Berikutnya ia fokus mendengarkan apa yang dikatakan Tuan Radhian padanya. Sesekali ia mengangguk patuh dengan raut cemas. Davian mengamatinya hingga Alena menyelesaikan percakapannya lalu menghembuskan nafas.


“Ada perlu apa rumah sakit meneleponmu?” Davian tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi. Alena meneguk air lagi, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“Aku sudah selesai makan.” ucapnya sambil merapikan penampilannya sedikit.


“Loh, kau mau kemana?” Davian terkejut.


“Aku ada urusan dengan rumah sakit. Ada yang ingin dibicarakan seputar Malvin.” Entah kenapa Alena tidak bisa memberitahukan bahwa ia akan bertemu dengan ayah Malvin pada Davian. Ia belum siap jika Davian bertanya-tanya lebih jauh lagi.


Davian mendengus sebal. Ia tidak suka mendengar bahwa segala urusan tentang Malvin berhasil mengganggu kebersamaannya dengan Alena.


“Kali ini untuk urusan apa lagi? Apa Malvin sedang sekarat?” gumam Davian dengan nada jengkel.


“Davian!” sela Alena kaget dengan ucapan asal suaminya,


“Bukan hal terlalu penting. hanya ingin membahas soal kesehatannya.”


“Bukankah Malvin masih memiliki keluarganya?! Kenapa harus memanggilmu dan mengganggu acara makan siang kita?”


“Oh ayolah, kita bisa makan siang seperti ini lain kali,” Alena memohon pengertian dari Davian. Merasa kalah, Davian mendesah pasrah lalu mengangguk pertanda bahwa ia mengizinkan Alena pergi. Alena melonjak senang.


“You’re the best. Aku mencintaimu.” Alena mengecup keningnya sebelum pergi meninggalkan Davian sendirian di sana. Davian menatap punggung istrinya dengan wajah memelas tak berdaya.


“Huh, dia bahkan tidak berbasa-basi mengajakku pergi bersamanya.”


________


XOXO